Akibat Bolos Sekolah

 

Pagi itu, suasana di rumah Dimas sebenarnya tidak berbeda dari hari-hari biasanya. Ibunya sudah menyiapkan sarapan dan seragam sekolahnya telah tergantung rapi di dekat kamar. Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit.

“Dimas, jangan lupa sarapan dulu!” teriak Ibu dari dapur.

“Iya, Bu!” jawab Dimas.

Dimas keluar dari kamar sambil membawa tas sekolah. Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda dalam pikirannya. Ia sebenarnya malas pergi ke sekolah. Hari itu ada pelajaran Matematika yang menurutnya sulit. Selain itu, guru Bahasa Indonesia juga akan memberikan tugas yang belum selesai dikerjakannya.

Di depan rumah, Dimas bertemu dengan Adi, sahabatnya yang sudah menunggu.

“Mas, berangkat?” tanya Adi.

Dimas mengangguk. “Berangkat.”

Mereka berdua kemudian berjalan menuju sekolah.

Namun ketika sampai di sebuah persimpangan yang biasanya mereka lewati menuju sekolah, Adi tiba-tiba berkata, “Mas, bagaimana kalau kita tidak usah masuk?”

Dimas berhenti.

“Maksudmu bolos?”

Adi tersenyum. “Iya. Sekali-sekali. Kita pergi ke pantai saja. Pantainya tidak terlalu jauh. Paling satu jam perjalanan.”

Dimas terdiam. Ia tahu bahwa bolos sekolah adalah perbuatan yang salah. Namun keinginannya untuk bersenang-senang jauh lebih kuat daripada pikirannya untuk tetap pergi ke sekolah.

“Memangnya kita mau ke mana?” tanya Dimas.

“Pantai. Kita bisa duduk-duduk, main HP, makan sesuatu. Sebelum sore kita sudah pulang.”

Dimas melihat jam tangannya.

“Kalau ketahuan bagaimana?”

“Tidak akan ketahuan. Kita pakai pakaian biasa saja setelah sampai sana. Santai.”

Dimas akhirnya mengangguk.

“Ya sudah.”

Keputusan kecil itulah yang kemudian membawa mereka pada sebuah kejadian yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Mereka tidak langsung menuju pantai. Adi terlebih dahulu mengambil sepeda motornya yang diparkir tidak jauh dari sekolah. Keduanya kemudian melaju meninggalkan kawasan sekolah.

Semakin jauh mereka berkendara, perasaan Dimas semakin campur aduk. Awalnya ia merasa senang karena tidak harus mengikuti pelajaran. Namun setelah beberapa kilometer, muncul sedikit rasa bersalah.

“Di, kamu yakin ini tidak masalah?” tanyanya.

Adi tertawa.

“Sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Hari ini kita bersenang-senang.”

Dimas akhirnya ikut tertawa.

Mereka melewati jalan desa, persawahan, dan beberapa perkampungan. Angin pagi menerpa wajah mereka. Setelah sekitar satu jam perjalanan, suara ombak mulai terdengar.

Akhirnya mereka sampai di sebuah pantai.

“Wah, akhirnya sampai!” seru Adi.

Dimas turun dari motor dan memandang laut yang luas di hadapannya. Ombak datang silih berganti. Beberapa pengunjung tampak bermain air, sementara sebagian lainnya duduk di bawah payung atau menikmati makanan dari pedagang sekitar.

Mereka memarkir motor di tempat yang cukup aman, lalu berjalan ke sebuah tempat yang agak sepi.

“Di sini saja,” kata Dimas.

Keduanya duduk di atas pasir yang agak kering.

Dimas mengeluarkan HP dari sakunya. Adi juga melakukan hal yang sama.

Awalnya mereka membuka media sosial, melihat video-video lucu, kemudian bermain game.

“Lihat ini!” kata Adi sambil menunjukkan layar HP-nya.

Dimas tertawa keras.

“Lucu banget!”

Mereka kemudian saling bercanda. Sesekali mereka membeli minuman dari pedagang di sekitar pantai. Waktu terasa berjalan cepat.

Dimas bahkan sempat melupakan bahwa seharusnya ia berada di sekolah.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.


Sekitar satu jam kemudian, seorang pemuda datang mendekati mereka. Pemuda itu membawa gitar kecil dan terlihat seperti seorang pengamen.

“Mas, boleh nyanyi satu lagu?” tanyanya.

Dimas dan Adi saling berpandangan.

“Ya sudah,” kata Adi.

Pengamen itu kemudian menyanyikan sebuah lagu. Setelah selesai, ia mengulurkan tangan.

“Seikhlasnya, Mas.”

Dimas merogoh saku celananya. Ia menemukan uang pecahan dua ribu rupiah.

“Ini,” katanya sambil memberikan uang tersebut.

Pengamen itu menerima uang tersebut.

“Makasih, Mas.”

Namun setelah menerima uang, pengamen itu tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di dekat mereka.

Dimas mulai merasa tidak nyaman.

“Sudah, Mas. Kami mau main HP.”

Pengamen itu kemudian berjalan pergi.

Dimas menghela napas.

“Untung pergi.”

Adi tertawa.

“Namanya juga pengamen.”

Mereka kembali memainkan HP.

Tidak lama kemudian, datang seorang pemuda lain. Kali ini ia tidak membawa gitar.

“Mas, boleh minta uang?” katanya.

Dimas langsung menjawab, “Maaf, Mas. Kami sudah memberi tadi.”

Pemuda itu memandang mereka beberapa detik.

“Tidak ada uang sedikit?”

Adi menggeleng.

“Tidak ada.”

Pemuda itu akhirnya pergi.

Dimas mulai merasa ada yang tidak beres.

“Di, sebaiknya kita pulang saja.”

Adi melihat jam.

“Sebentar lagi.”

Namun sebelum mereka berdiri, datang dua orang lainnya. Mereka berdiri tidak jauh dari motor.

“Wah, kenapa banyak sekali?” bisik Dimas.

Keempat orang itu kemudian berada di sekitar mereka.

Salah seorang dari mereka berkata, “Kalian dari mana?”

Dimas menjawab singkat, “Dari sekitar sini.”

“Sekolah?”

Dimas terdiam.

Adi juga tidak menjawab.

Pemuda itu kemudian berkata, “Kunci motor mana?”

Jantung Dimas berdegup lebih cepat.

“Kunci motor?” tanya Dimas.

“Iya.”

Adi berdiri.

“Buat apa?”

Salah seorang pemuda itu mendekat.

“Sudah, kasih saja.”

Dimas mulai panik. Ia melihat sekeliling. Pengunjung pantai memang cukup banyak, tetapi tempat mereka duduk agak jauh dari keramaian.

“Tidak ada,” jawab Adi.

Salah seorang pemuda itu kembali bertanya dengan nada lebih keras.

“Mana kuncinya?”

Adi mulai ketakutan.

Dimas berbisik, “Di, jangan melawan.”

Adi memegang saku celananya.

Salah satu dari mereka kemudian mengambil kunci motor dari tangan Adi.

“Jangan macam-macam,” katanya.

Mereka berempat kemudian berjalan menuju motor.

Dimas dan Adi hanya bisa melihat dengan ketakutan.

“Jangan dibawa!” teriak Adi.

Namun orang-orang tersebut segera menyalakan motor dan melaju meninggalkan pantai.

Dimas berdiri terpaku.

Motor itu semakin jauh dan akhirnya menghilang di antara kendaraan yang melintas.

Adi memegang kepalanya.

“Motor kita dibawa!”

Dimas tidak menjawab.

Pikirannya kacau.

Bukan hanya motor yang hilang. Mereka juga harus pulang ke rumah. Dan yang paling menakutkan, mereka harus menjelaskan kepada orang tua bahwa mereka sebenarnya tidak pergi ke sekolah.


“Bagaimana ini, Mas?” tanya Adi.

Dimas duduk kembali.

“Kita cari bantuan.”

“Tapi kepada siapa?”

Dimas melihat ke sekeliling.

Tidak jauh dari tempat mereka berada, seorang pedagang cilok sedang mendorong gerobaknya.

Dimas menunjuk ke arah pedagang itu.

“Itu.”

Mereka berdua kemudian berjalan menghampiri pedagang tersebut.

“Pak,” kata Dimas.

Pedagang itu menoleh.

“Iya, Nak?”

“Pak, boleh minta tolong?”

Pedagang cilok tersebut memperhatikan wajah mereka yang tampak pucat dan panik.

“Kenapa?”

Dimas menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami.

Pedagang itu tampak terkejut.

“Motornya dibawa orang?”

Dimas mengangguk.

“Iya, Pak.”

“Kalian sudah melapor kepada petugas pantai?”

Dimas menggeleng.

“Belum, Pak.”

Pedagang itu kemudian meminta mereka duduk di dekat gerobaknya.

“Tenang dulu. Jangan panik.”

Ia memberikan dua gelas air minum kepada mereka.

“Minum.”

Dimas mengambil gelas tersebut.

“Terima kasih, Pak.”

Pedagang itu kemudian menggunakan teleponnya.

“Orang tua kalian punya nomor yang bisa dihubungi?”

Dimas dan Adi saling berpandangan.

Dimas akhirnya memberikan nomor ibunya.

Pedagang tersebut menelepon ibu Dimas.

“Halo, Bu. Apakah ini orang tua Dimas?”

“Iya. Siapa ini?”

“Saya pedagang di pantai. Anak Ibu bersama temannya ada di sini. Mereka mengalami masalah.”

Suara ibu Dimas terdengar cemas.

“Masalah apa, Pak? Dimas kenapa?”

Pedagang itu kemudian menjelaskan semuanya.

Ibu Dimas sangat terkejut.

“Dimas ada di pantai?”

“Iya, Bu.”

“Bukankah dia sekolah?”

Pedagang itu terdiam sejenak.

“Sepertinya hari ini mereka tidak masuk sekolah.”

Dimas menundukkan kepala.

Tidak lama kemudian, ibu Dimas meminta pedagang tersebut menjaga mereka sampai orang tua datang.

“Baik, Bu. Saya tunggu.”

Setelah telepon berakhir, pedagang itu menatap Dimas.

“Kalian seharusnya tidak berada di sini pada jam sekolah.”

Dimas menunduk.

“Iya, Pak.”

“Kenapa bolos?”

Dimas tidak menjawab.

Pedagang itu tidak memarahinya. Ia hanya berkata dengan suara tenang.

“Kesalahan kecil kadang bisa membawa masalah besar. Hari ini kalian belajar dengan cara yang tidak menyenangkan.”

Dimas semakin menunduk.

Ia teringat pagi tadi ketika Adi mengajaknya bolos.

Kalau saja ia tetap masuk sekolah, semua kejadian ini tidak akan terjadi.


Sekitar satu jam kemudian, orang tua Dimas datang.

Begitu melihat ibunya, Dimas langsung berdiri.

“Bu…”

Ibunya turun dari kendaraan dengan wajah cemas.

“Kamu tidak apa-apa?”

Dimas menggeleng.

“Tidak, Bu.”

Ibunya memeluk Dimas sebentar. Setelah memastikan anaknya tidak terluka, ia bertanya,

“Motor bagaimana?”

Dimas menjelaskan bahwa motor Adi dibawa oleh empat orang.

Ayah Adi yang datang tidak lama kemudian juga terlihat sangat khawatir.

“Yang penting kalian selamat dulu,” kata ayah Adi.

Dimas merasa lega.

Namun setelah itu, ayahnya menatapnya dengan serius.

“Kenapa kamu tidak sekolah?”

Dimas tidak mampu menjawab.

Ibunya juga menatapnya.

“Dimas, Ibu kecewa. Bukan hanya karena kamu bolos. Kamu juga pergi jauh tanpa memberi tahu.”

Air mata Dimas mulai jatuh.

“Maaf, Bu.”

Ia kemudian berkata jujur.

“Awalnya Adi yang mengajak. Tapi saya juga salah karena ikut.”

Ibunya menghela napas.

“Benar. Teman bisa mengajak melakukan sesuatu, tetapi keputusan tetap ada di tangan kita.”

Dimas mengangguk.

Ayahnya kemudian berkata,

“Kamu harus belajar dari kejadian ini. Jangan pernah pergi bersama orang yang tidak dikenal hanya karena ingin bersenang-senang. Dan kalau ada masalah, segera minta bantuan orang dewasa yang dapat dipercaya.”

Dimas kembali mengangguk.

“Iya, Yah.”

Mereka kemudian mengucapkan terima kasih kepada pedagang cilok yang telah membantu.

“Terima kasih banyak, Pak. Kalau Bapak tidak membantu, kami tidak tahu harus bagaimana,” kata Dimas.

Pedagang itu tersenyum.

“Tidak perlu berterima kasih. Yang penting kalian selamat dan jangan mengulangi kesalahan ini.”


Dalam perjalanan pulang, Dimas duduk diam.

Ia melihat pemandangan dari balik kaca kendaraan. Jalan yang tadi pagi terasa menyenangkan kini terasa berbeda.

Ia memikirkan sekolah.

Ia membayangkan teman-temannya sedang mengikuti pelajaran.

Ia juga membayangkan guru yang mungkin sedang mencari dirinya.

Yang paling membuatnya menyesal adalah kenyataan bahwa hanya karena ingin menghindari satu hari pelajaran, ia justru mengalami masalah besar.

Dimas kemudian mengeluarkan HP-nya.

Ia membuka grup kelas.

Ada beberapa pesan dari teman-temannya.

“Dimas ke mana?”

“Adi juga tidak masuk.”

“Pak Guru tadi mencari kalian.”

Dimas membaca pesan-pesan itu tanpa membalas.

Ia kemudian mematikan HP.

Hari itu menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya.


Keesokan harinya Dimas datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya.

Ia berjalan menuju ruang kelas bersama Adi.

Tidak ada lagi tawa seperti hari sebelumnya.

Mereka berdua terlihat serius.

Ketika guru masuk, Dimas berdiri.

“Pak, saya mau meminta maaf.”

Guru tersebut memandangnya.

“Untuk apa?”

Dimas menarik napas.

“Kemarin saya tidak masuk sekolah tanpa izin. Saya pergi ke pantai bersama Adi.”

Kelas menjadi sunyi.

Dimas menceritakan semuanya dengan jujur, termasuk kejadian ketika motor dibawa kabur.

Guru mendengarkan sampai selesai.

Setelah itu guru berkata,

“Bapak kecewa karena kalian bolos. Tetapi Bapak juga bersyukur kalian tidak mengalami sesuatu yang lebih buruk.”

Dimas mengangguk.

“Kesalahan harus diakui. Setelah itu kalian harus memperbaikinya.”

“Iya, Pak.”

Guru kemudian memberikan nasihat kepada seluruh kelas.

“Anak-anak, sekolah bukan hanya tentang nilai. Kalian juga belajar bertanggung jawab, menjaga diri, dan mengambil keputusan. Jangan mengikuti ajakan teman kalau kalian tahu hal itu salah.”

Semua siswa terdiam.

Dimas melirik Adi.

Adi mengangguk.

Keduanya memahami maksud nasihat tersebut.


Beberapa hari kemudian, kabar tentang motor Adi akhirnya mendapatkan titik terang. Orang tua mereka bersama pihak berwenang berusaha mencari kendaraan tersebut berdasarkan informasi yang tersedia.

Namun bagi Dimas, motor itu bukanlah satu-satunya hal yang penting.

Ia mendapatkan pelajaran yang jauh lebih berharga.

Sejak kejadian itu, Dimas tidak pernah lagi membolos sekolah.

Jika merasa malas atau memiliki masalah dengan pelajaran, ia memilih berbicara dengan orang tua atau gurunya.

Hubungannya dengan Adi pun tetap baik. Namun mereka membuat janji untuk saling mengingatkan.

Suatu pagi, ketika mereka berjalan menuju sekolah, Adi berkata,

“Mas, ingat pantai?”

Dimas tertawa kecil.

“Ingat. Tapi jangan sampai ada cerita kedua.”

Adi ikut tertawa.

“Setuju.”

Mereka kemudian terus berjalan menuju sekolah.

Di kejauhan, matahari pagi bersinar terang.

Dimas merasa bahwa hari itu adalah kesempatan baru.

Ia akhirnya memahami bahwa kesenangan sesaat tidak sebanding dengan masalah yang mungkin muncul setelahnya.

Sebuah keputusan yang tampaknya sederhana—membolos sekolah—ternyata dapat membawa seseorang ke dalam situasi yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Dimas berjanji kepada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati.

Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Dan sejak hari itu, setiap kali ada teman yang mengajaknya melakukan sesuatu yang tidak baik, Dimas selalu teringat pada hari ketika ia dan Adi duduk santai di pantai, bermain HP, tertawa, lalu pulang dengan membawa sebuah pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.

Bolos sekolah mungkin terasa menyenangkan untuk sesaat, tetapi akibatnya bisa panjang. Pilihan yang baik hari ini dapat menyelamatkan kita dari penyesalan di kemudian hari.

Posting Komentar untuk "Akibat Bolos Sekolah"