DI BALIK LUMPUR DAN HUJAN

 

Hujan turun sejak sore dengan suara yang tidak biasa.

Bukan lagi suara rintik yang menenangkan seperti biasanya, melainkan suara deras yang seakan-akan ingin menenggelamkan seluruh bukit. Air mengalir dari lereng-lereng tanah di belakang rumah penduduk. Sungai kecil yang biasanya hanya mengalir tenang mulai berubah menjadi aliran cokelat yang membawa ranting, batu, dan potongan kayu.

Di sebuah rumah sederhana yang berdiri tepat di bawah bukit, Gandara memandang keluar melalui jendela.

Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu mulai merasa tidak nyaman.

"Bu, hujannya semakin deras," katanya.

Bu Imah yang sedang merapikan pakaian di ruang tengah menoleh.

"Iya, Nak. Dari tadi memang tidak berhenti."

Di ruangan yang sama, dua kakak perempuan Gandara, Arin dan Pipit, sedang membantu ayah mereka memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi.

Pak Bagus, ayah Gandara, sesekali melihat ke arah pintu.

"Kita sebaiknya tetap di dalam rumah," katanya. "Jangan ada yang keluar."

Di sudut ruangan, nenek mereka, Bu Antiah, duduk di kursi kayu tua sambil memegang selimut.

Usianya sudah sangat renta. Rambutnya hampir seluruhnya memutih. Tubuhnya tidak lagi kuat untuk berjalan jauh, apalagi dalam keadaan hujan deras seperti itu.

"Kalau hujan begini, nenek jadi teringat kejadian puluhan tahun lalu," katanya pelan.

Pipit mendekatinya.

"Kejadian apa, Nek?"

"Tanah longsor kecil di belakang rumah lama kita."

Pipit tersenyum.

"Kalau kecil, kenapa Nenek masih takut?"

Bu Antiah menatap cucunya.

"Karena tanah tidak pernah memberi tanda ketika ingin bergerak."

Kalimat itu membuat Pipit terdiam.

Beberapa detik kemudian terdengar suara gemuruh.

Semua orang berhenti bergerak.

Grrrrrrrrr...

Suara itu datang dari arah bukit.

Pak Bagus langsung berdiri.

"Semua berkumpul!"

Gandara berlari mendekati ayahnya.

"Ada apa, Yah?"

Pak Bagus belum sempat menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara seperti ledakan.

BRAAAAK!

Dinding belakang rumah bergetar.

Lantai berguncang.

Arin berteriak.

"Longsor!"

Dalam hitungan detik, tanah dari bukit di belakang rumah meluncur turun.

Lumpur bercampur batu, kayu, dan akar pohon menerjang rumah-rumah di bawahnya.

Suara teriakan terdengar dari berbagai arah.

Gandara melihat ke luar.

Pemandangan yang dilihatnya membuat tubuhnya membeku.

Rumah tetangga di sebelah kiri sudah tertutup hampir seluruhnya.

Rumah di depan mereka tertimpa pohon besar.

Orang-orang berlari, tetapi sebagian terseret lumpur.

"Semua masuk ke belakang!" teriak Pak Bagus.

Ia menunjuk sebuah lemari tua yang berdiri di kamar.

Lemari itu sudah ada sejak sekitar tahun 1980. Terbuat dari kayu tebal dan sangat besar. Selama bertahun-tahun lemari itu menjadi tempat menyimpan pakaian dan barang-barang keluarga.

Pak Bagus pernah bercanda bahwa lemari itu mungkin lebih kuat daripada rumah mereka.

Kali ini, ucapan itu benar-benar menjadi kenyataan.

Mereka berenam berdesakan di belakang lemari.

Gandara memegang tangan ibunya.

Arin memeluk Pipit.

Pak Bagus menahan tubuh Bu Antiah agar tidak terjatuh.

Beberapa detik kemudian...

DUAAAR!

Lumpur menghantam bagian depan rumah.

Atap bergetar hebat.

Sebagian dinding runtuh.

Debu dan tanah memenuhi udara.

Bu Antiah menjerit.

"Ya Allah..."

Gandara memejamkan mata.

Ia mendengar suara kayu patah, kaca pecah, dan benda-benda berat menghantam rumah.

Lalu semuanya menjadi gelap.

Entah berapa lama mereka berada di balik lemari.

Gandara membuka mata.

Udara terasa pengap.

Ia mencoba bergerak.

"Kak Arin?"

"Aku di sini," jawab Arin.

"Pipit?"

"Aku juga di sini."

"Ibu?"

"Di sini, Nak."

"Ayah?"

"Masih di sini."

Gandara kemudian mendengar suara napas neneknya.

"Nenek juga di sini."

Gandara menarik napas lega.

Mereka masih hidup.

Tetapi mereka terjebak.

Cahaya hanya masuk sedikit melalui celah-celah kecil.

Gandara mencoba keluar dari balik lemari.

Ia mendorong bagian depan.

Tidak bergerak.

Ia mencoba sekali lagi.

Tidak berhasil.

"Tanah menutup semuanya," kata Pak Bagus.

Gandara mulai panik.

"Aku akan membongkarnya."

Ia mengambil potongan kayu dan mencoba menggali.

Satu jam berlalu.

Tangannya mulai lecet.

Kuku jarinya dipenuhi tanah.

Tetapi lumpur yang menutup rumah terlalu tebal.

Setiap kali ia berhasil membuat sedikit ruang, tanah dari atas kembali runtuh.

"Gandara, jangan dipaksakan," kata ayahnya.

"Tapi kita harus keluar, Yah!"

"Kita tidak tahu seberapa tebal lumpurnya."

Gandara terdiam.

Ia tahu ayahnya benar.

Rumah mereka sudah seperti terkubur di dalam tanah.

Jika ia terus menggali dari dalam, bukan tidak mungkin seluruh bangunan runtuh dan menimpa mereka.

Mereka hanya memiliki sedikit udara.

Air minum tinggal beberapa botol.

Makanan hampir tidak ada.

Yang paling mengkhawatirkan adalah Bu Antiah.

Nenek itu mengerang pelan.

Kepalanya terluka akibat batu yang jatuh ketika longsor.

"Nenek tidak apa-apa?" tanya Gandara.

"Jangan khawatir. Nenek masih kuat."

Tetapi suara itu terdengar sangat lemah.

Gandara menunduk.

Ia tahu mereka membutuhkan pertolongan.

Dan pertolongan tidak akan datang jika tidak ada orang yang mencarinya.

Pagi mulai datang.

Hujan sedikit mereda.

Gandara memutuskan untuk pergi.

"Aku akan mencari bantuan."

Pak Bagus langsung menolak.

"Jangan."

"Ayah, kalau aku tetap di sini, kita semua bisa mati."

"Tapi jalan keluar belum tentu aman."

"Aku harus mencoba."

Bu Imah menggenggam tangan anaknya.

"Hati-hati, Nak."

Gandara menatap keluarganya satu per satu.

Ia melihat Arin yang berusaha kuat.

Pipit yang menahan tangis.

Ayahnya yang sebenarnya juga ketakutan.

Ibunya yang terus berdoa.

Dan neneknya yang terluka.

"Aku akan kembali," katanya.

Pak Bagus menatapnya.

"Jangan berjanji kalau kau belum yakin."

Gandara mengangguk.

"Aku akan berusaha."

Dengan menggunakan lubang kecil yang dibuatnya selama berjam-jam, Gandara berhasil keluar dari rumah.

Begitu keluar, ia hampir tidak mengenali desanya.

Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri kini hanya terlihat sebagai tumpukan kayu dan lumpur.

Jalan desa berubah menjadi sungai cokelat.

Beberapa kendaraan tertimbun.

Pohon-pohon tumbang.

Tidak ada suara manusia.

Gandara berlari.

Ia menuju desa terdekat.

Tetapi perjalanan itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.

Jalan pertama yang biasa digunakan warga sudah tertutup lumpur.

Gandara mencoba melewati sisi bukit.

Sepatunya berkali-kali terjebak.

Ia terjatuh.

Bangkit.

Terjatuh lagi.

Tangannya terluka ketika berpegangan pada akar pohon.

Setelah hampir satu jam berjalan, ia sampai di sebuah jembatan kecil.

Tetapi jembatan itu sudah hancur.

Air sungai mengalir sangat deras.

Gandara berdiri di tepinya.

Ia tidak mungkin menyeberang.

Ia melihat sebatang pohon tumbang yang melintang dari satu sisi ke sisi lainnya.

"Kalau aku kembali, keluargaku mungkin tidak akan bertahan."

Gandara menggigit bibir.

Ia akhirnya memutuskan menggunakan batang pohon itu.

Perlahan ia merangkak.

Air di bawahnya mengamuk.

Beberapa kali kakinya hampir tergelincir.

Saat hampir sampai di seberang, sebuah ranting patah.

Gandara terjatuh.

Tangannya berhasil mencengkeram batang pohon.

Ia menggantung beberapa detik.

Dengan seluruh tenaga, ia menarik tubuhnya.

Akhirnya ia berhasil sampai di seberang.

Ia berbaring sambil terengah-engah.

Namun ia tidak boleh berhenti.

Ia kembali berlari.

Menjelang sore, Gandara melihat beberapa orang.

Ia langsung berteriak.

"Tolong!"

Orang-orang itu menoleh.

Mereka adalah sekelompok relawan yang sedang membawa peralatan menuju wilayah bencana.

Pemimpin mereka bernama Mas Tino.

Seorang pria sekitar tiga puluh lima tahun yang terlihat lelah tetapi tetap bersemangat.

Mas Tino berlari mendekati Gandara.

"Kamu dari mana?"

"Dari... desa di balik bukit."

"Desamu terkena longsor?"

Gandara mengangguk.

"Keluargaku masih terjebak."

"Berapa orang?"

"Enam. Ayah, ibu, dua kakakku, nenekku, dan aku."

Mas Tino melihat luka di tangan Gandara.

"Di mana lokasinya?"

Gandara menjelaskan.

Mas Tino langsung memberi tanda kepada relawan lain.

"Kita berangkat."

Seorang relawan bertanya.

"Peralatannya cukup?"

Mas Tino melihat ke arah jalan yang rusak.

"Tidak cukup. Tapi kita berangkat dulu."

Gandara menatapnya.

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu. Kita harus menemukan keluargamu."

Dalam perjalanan menuju lokasi, rombongan relawan bertemu dengan sekelompok tentara.

Rombongan itu dipimpin seorang perwira bernama Mayor Ademas.

Mayor Ademas turun dari kendaraan dan mendengarkan penjelasan Mas Tino.

"Berapa korban yang masih terjebak?"

"Enam orang, Mayor. Rumahnya tertutup lumpur."

Mayor Ademas melihat Gandara.

"Kamu yang menemukan mereka?"

"Dia anak keluarga tersebut," jawab Mas Tino.

Mayor Ademas mengangguk.

"Kita gabungkan kekuatan."

Beberapa tentara membawa sekop, tali, alat pemotong, dan perlengkapan penyelamatan.

Perjalanan dilanjutkan.

Namun hujan kembali turun.

Awalnya hanya gerimis.

Kemudian semakin deras.

Tanah kembali bergerak.

"Tunggu!" teriak seorang tentara.

Dari atas bukit terdengar suara longsoran kecil.

Semua berhenti.

Batu-batu berjatuhan.

Mayor Ademas mengangkat tangan.

"Jangan bergerak sampai aman!"

Gandara menatap ke arah rumahnya.

Ia membayangkan keluarganya.

"Mereka tidak punya banyak waktu."

Mayor Ademas menatapnya.

"Kita akan sampai."

Ketika rombongan mendekati desa, mereka menghadapi masalah lain.

Sekelompok anjing liar muncul dari balik reruntuhan.

Anjing-anjing itu kelaparan dan ketakutan.

Mereka menggonggong keras.

Beberapa bahkan mendekati rombongan.

Gandara mundur.

Mas Tino mengangkat tangan.

"Jangan panik."

Para relawan tidak menyerang.

Mereka justru melemparkan beberapa makanan ke arah yang berlawanan.

Anjing-anjing itu berlari mengejar makanan.

Rombongan segera melewati lokasi.

Akhirnya mereka tiba di rumah Gandara.

Atau lebih tepatnya, tempat rumah itu seharusnya berada.

Hanya sebagian kecil atap yang terlihat.

Mayor Ademas memandang medan.

"Mulai dari sini."

Tentara dan relawan bekerja bersama.

Mereka menggali menggunakan sekop.

Tanah dipindahkan sedikit demi sedikit.

Beberapa bagian menggunakan alat khusus.

Gandara ikut menggali.

Tangannya yang terluka kembali berdarah.

Mas Tino mencoba menghentikannya.

"Kamu istirahat."

"Aku harus ikut."

"Kalau kamu jatuh sakit, keluargamu malah kehilangan satu-satunya orang yang tahu posisi mereka."

Gandara akhirnya mengangguk.

Ia menunggu.

Menit terasa seperti jam.

Hujan semakin deras.

Tanah kembali bergerak.

Tetapi semua orang bertahan.

Dari balik lumpur tiba-tiba terdengar suara.

Tok!

Semua berhenti.

Tok!

Gandara mendekat.

"Itu suara dari dalam!"

Ia berteriak.

"Ayah!"

Tidak ada jawaban.

Ia kembali mengetuk.

Tok! Tok!

Kemudian terdengar suara lemah.

"Gandara..."

Gandara menangis.

"Ayah!"

Pak Bagus masih hidup.

Semua orang langsung bersemangat.

"Kita sudah menemukan mereka!" teriak Mas Tino.

Penggalian dilanjutkan dengan lebih hati-hati.

Mereka menemukan bagian lemari tua yang menjadi pelindung keluarga.

Ternyata lemari tahun 1980 itu benar-benar menyelamatkan mereka.

Kayu tebalnya menahan sebagian reruntuhan sehingga terbentuk ruang kecil di belakangnya.

Namun Bu Antiah berada dalam kondisi paling lemah.

"Kita harus mengeluarkan mereka satu per satu," kata Mayor Ademas.

Lubang diperbesar.

Pertama Arin berhasil dikeluarkan.

Kemudian Pipit.

Lalu Bu Imah.

Pak Bagus menyusul.

Gandara langsung memeluk ayahnya.

"Yah..."

Pak Bagus menepuk bahu anaknya.

"Kamu kembali."

"Aku bilang aku akan kembali."

Setelah itu mereka mengeluarkan Bu Antiah.

Tubuh nenek itu sangat lemah.

Kepalanya dibalut kain sementara.

Ia masih bernapas.

Tetapi kondisinya kritis.

Tim penyelamat segera membawanya keluar.

Mereka semua berhasil diselamatkan.

Arin selamat.

Pipit selamat.

Pak Bagus selamat.

Bu Imah selamat.

Gandara selamat.

Tetapi Bu Antiah tidak bertahan lama.

Ketika hujan mulai reda dan langit perlahan berubah terang, Bu Antiah membuka mata.

Ia melihat Gandara duduk di sampingnya.

"Nak..."

Gandara menggenggam tangannya.

"Iya, Nek."

"Nenek sudah senang."

"Jangan bicara begitu."

"Nenek melihat kalian semua selamat."

Bu Antiah tersenyum tipis.

"Lemari tua itu... ternyata masih berguna."

Gandara menangis.

"Iya, Nek."

"Nenek tidak takut."

Beberapa saat kemudian napas Bu Antiah perlahan melemah.

Tangannya yang menggenggam tangan Gandara terlepas.

Gandara menunduk.

"Nenek..."

Tidak ada jawaban.

Bu Antiah telah pergi.

Beberapa hari kemudian, desa itu mulai dibersihkan.

Banyak rumah hilang.

Banyak keluarga kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Tetapi keluarga Gandara menjadi salah satu keluarga yang disebut beruntung.

Bukan karena mereka tidak kehilangan siapa-siapa.

Mereka kehilangan Bu Antiah.

Namun mereka masih memiliki satu sama lain.

Suatu pagi, Gandara berdiri di depan lokasi rumah mereka.

Lumpur sudah mulai dibersihkan.

Lemari tua tahun 1980 yang menyelamatkan mereka juga berhasil ditemukan.

Kayunya rusak dan penuh goresan.

Namun masih berdiri.

Pak Bagus berdiri di samping Gandara.

"Kalau bukan karena lemari itu..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Gandara mengangguk.

"Dan kalau bukan karena orang-orang yang datang membantu."

Dari kejauhan, Mas Tino dan Mayor Ademas sedang berbicara dengan para relawan dan tentara.

Gandara memandang mereka.

Ia teringat perjalanan panjangnya menembus hutan.

Jalan yang tertutup lumpur.

Jembatan yang runtuh.

Batang pohon yang hampir membuatnya hanyut.

Hujan yang kembali mengguyur.

Anjing-anjing kelaparan.

Semua terasa seperti mimpi buruk.

Tetapi mimpi buruk itu telah mengajarinya satu hal.

Dalam keadaan paling gelap sekalipun, seseorang tidak boleh berhenti mencari jalan menuju harapan.

Gandara kemudian memandang langit.

Awan mulai membuka.

Sinar matahari muncul di antara celah-celahnya.

Untuk pertama kalinya setelah bencana itu, ia tersenyum.

Ia tahu rumah mereka mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Neneknya juga tidak akan pernah kembali.

Namun keluarganya masih bersama.

Dan kehidupan harus dilanjutkan.

Gandara menggenggam tangan ibunya.

Arin dan Pipit berdiri di dekat mereka.

Pak Bagus memandang keluarganya.

Mereka semua diam.

Tidak ada kata-kata yang diperlukan.

Di atas tanah yang pernah menelan rumah mereka, sebuah keluarga yang hampir kehilangan segalanya akhirnya menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.

Harapan.

Dan bagi Gandara, harapan itu seperti cahaya matahari yang muncul setelah hujan panjang.

Ia mungkin tidak mampu menghentikan longsor.

Ia tidak mampu membongkar gunung lumpur seorang diri.

Tetapi ia mampu berjalan.

Mencari bantuan.

Bertahan.

Dan kembali.

Karena terkadang, keselamatan bukan datang dari kekuatan satu orang.

Keselamatan datang ketika keberanian seseorang bertemu dengan kepedulian banyak orang.

Dan hari itu, di antara lumpur, hujan, reruntuhan, serta air mata, Gandara menemukan arti sebenarnya dari keluarga dan perjuangan.

Bahwa selama masih ada orang yang mau berjuang untuk menyelamatkan orang lain, selalu ada kemungkinan untuk menemukan cahaya.

Bahkan setelah hujan yang paling panjang sekalipun.

 

Posting Komentar untuk "DI BALIK LUMPUR DAN HUJAN"