Bayu Masaji dan Seruling dari Balik Gunung

 

Di kaki Gunung Berantai Merah, terdapat sebuah desa kecil yang dahulu terkenal sangat subur dan damai. Desa itu bernama Desa Muara Api.

Nama tersebut bukan berarti desa itu dipenuhi api. Dahulu, masyarakat setempat percaya bahwa nama Muara Api berasal dari warna jingga yang sering terlihat di puncak Gunung Berantai Merah ketika matahari terbenam. Dari kejauhan, gunung itu tampak seperti rangkaian bukit yang menyala kemerah-merahan.

Di sekitar desa mengalir sebuah sungai besar. Airnya jernih dan mengalir dari pegunungan menuju laut. Sawah-sawah membentang di sepanjang tepian sungai. Pohon kelapa, pisang, mangga, dan berbagai tanaman pangan tumbuh dengan subur.

Dahulu, penduduk Muara Api hidup sederhana, tetapi bahagia.

Mereka saling membantu ketika menanam padi, bergotong royong memperbaiki rumah, dan berkumpul di balai desa ketika malam tiba.

Namun, semua berubah setelah muncul sekelompok perampok dari balik Gunung Berantai Merah.

Pemimpin mereka bernama Jenang Gila.

Jenang Gila bukan manusia biasa. Tubuhnya sangat besar dan tinggi. Bahunya lebar, suaranya menggelegar, dan langkah kakinya membuat tanah terasa bergetar.

Ia memimpin sekitar dua puluh orang pengikut yang tubuhnya juga jauh lebih besar daripada manusia biasa.

Mereka tinggal di sebuah lembah terpencil di balik gunung.

Pada awalnya, penduduk Muara Api mengira rombongan itu hanya akan melewati desa.

Ternyata mereka datang untuk mengambil hasil kerja penduduk.

Setiap bulan, tepat ketika bulan mulai purnama, rombongan Jenang Gila turun dari gunung.

Mereka datang dengan suara gaduh.

"Berikan makanan!"

"Berikan hasil kebun!"

"Berikan perhiasan!"

"Jika tidak, jangan salahkan kami jika desa ini menjadi berantakan!"

Penduduk tidak berani melawan.

Mereka memberikan apa yang diminta.

Beras, singkong, jagung, buah-buahan, ayam, perhiasan, bahkan benda-benda berharga peninggalan keluarga terpaksa diserahkan.

Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, para perampok kembali ke gunung.

Namun, sebulan kemudian mereka datang lagi.

Begitu terus selama bertahun-tahun.


Kehidupan penduduk Muara Api semakin sulit.

Hasil panen yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga harus disisihkan untuk diberikan kepada para perampok.

Petani yang seharusnya menyimpan hasil panen untuk musim berikutnya terpaksa menyerahkannya.

Para ibu mulai khawatir.

Anak-anak tidak lagi berani bermain terlalu jauh dari rumah.

Ketika terdengar suara langkah kaki besar dari arah gunung, semua orang segera menutup pintu.

Bahkan suara burung yang biasanya terdengar riang pun seakan berubah menjadi pertanda ketakutan.

Banyak keluarga akhirnya meninggalkan desa.

Mereka pindah ke daerah lain yang lebih jauh.

Ada yang pergi ke kota.

Ada yang mencari desa baru.

Ada pula yang memilih tinggal bersama saudara mereka.

Lama-kelamaan, jumlah penduduk Muara Api semakin sedikit.

Rumah-rumah yang dahulu ramai mulai kosong.

Sawah yang sebelumnya penuh tanaman mulai ditumbuhi rumput.

Pasar desa tidak lagi seramai dahulu.

Pada akhirnya, hanya beberapa keluarga yang masih bertahan.

Mereka adalah orang-orang yang merasa bahwa Muara Api adalah tanah kelahiran mereka dan tidak ingin meninggalkannya.

Kepala desa saat itu bernama Pak Radit.

Pak Radit adalah lelaki yang sudah cukup tua, tetapi masih kuat dan bijaksana.

Ia sering duduk di depan balai desa sambil memandang Gunung Berantai Merah.

Dalam hatinya, ia sangat sedih melihat desanya semakin sepi.

Suatu sore, beberapa warga berkumpul di balai desa.

"Kita tidak bisa terus seperti ini," kata seorang warga bernama Pak Seno.

Pak Radit mengangguk.

"Aku tahu."

"Kalau setiap bulan hasil panen kita habis, bagaimana kita bisa bertahan?"

Pak Radit terdiam.

Ia tidak mempunyai jawaban.

Semua orang merasa putus asa.

Saat itulah, dari kejauhan terdengar suara seseorang bersenandung.

Nadanya sederhana.

Namun, terdengar indah.

Seorang pemuda berjalan memasuki desa.

Usianya mungkin sekitar dua puluh tahun.

Pakaiannya sederhana. Ia membawa tas kain kecil di bahu dan sebuah seruling kayu yang tergantung di pinggangnya.

Pemuda itu tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya.

"Permisi," katanya.

Pak Radit memperhatikan pemuda itu.

"Siapa kamu?"

"Nama saya Bayu Masaji."

"Dari mana?"

"Dari tanah seberang. Saya sedang mengembara."

"Apakah kamu seorang pedagang?"

Bayu menggeleng.

"Saya hanya seorang pengamen."

Ia kemudian mengambil serulingnya.

"Kalau Bapak mengizinkan, saya ingin memainkan sebuah lagu."

Pak Radit tersenyum tipis.

"Silakan."

Bayu meniup serulingnya.

Terdengarlah alunan nada yang sangat lembut.

Para warga yang sedang berbicara perlahan menjadi diam.

Anak-anak yang bermain di halaman berhenti berlari.

Burung-burung di atas pohon seakan ikut mendengarkan.

Bahkan Pak Radit merasakan sesuatu yang aneh.

Tubuhnya menjadi tenang.

Pikirannya terasa ringan.

Namun, beberapa saat kemudian Bayu menghentikan permainannya.

Pak Radit membuka mata.

"Itu seruling yang indah."

Bayu hanya tersenyum.

"Seruling ini pemberian seorang pertapa yang pernah saya temui ketika mengembara."

"Apakah seruling itu istimewa?"

Bayu melihat serulingnya.

"Katanya, suara seruling ini dapat menenangkan hati siapa saja yang mendengarnya."

Pak Radit tidak terlalu memikirkan perkataan tersebut.

Ia mengira Bayu hanya sedang bercerita.

Malam itu Bayu diperbolehkan menginap di sebuah rumah kosong milik warga.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa kedatangan pemuda pengembara tersebut akan mengubah nasib Desa Muara Api.


Sebulan kemudian, tanda-tanda kedatangan para perampok mulai terlihat.

Dari arah gunung terdengar suara berat.

Duk!

Duk!

Duk!

Tanah seolah bergetar.

Warga segera berkumpul.

"Jenang Gila datang!"

Pak Radit berdiri di depan balai desa.

Ia memandang ke arah jalan utama.

Benar saja.

Sekelompok manusia bertubuh besar sedang berjalan menuju desa.

Jumlah mereka sekitar dua puluh orang.

Di depan rombongan itu berjalan Jenang Gila.

Tubuhnya paling besar di antara semuanya.

Ia tertawa keras.

"Hahaha!"

"Wahai penduduk Muara Api!"

"Kami datang lagi!"

Penduduk menundukkan kepala.

Beberapa anak bersembunyi di balik orang tua mereka.

Jenang Gila mengangkat tangannya.

"Siapkan makanan!"

"Serahkan hasil kebun!"

"Dan jangan lupa benda-benda berharga!"

Pak Radit maju beberapa langkah.

Kali ini wajahnya terlihat berbeda.

"Jenang Gila."

Raksasa itu memandangnya.

"Kenapa?"

"Sudah bertahun-tahun kami memberikan apa yang kalian minta."

"Memangnya kenapa?"

"Kami sudah tidak sanggup lagi."

Jenang Gila tertawa.

"Itu bukan urusanku!"

Ia menghentakkan kakinya.

"Aku ingin semua yang kalian punya!"

Beberapa warga mulai gemetar.

Namun, tiba-tiba terdengar suara seruling.

Bayu berdiri di dekat sebuah pohon besar.

Ia meniup serulingnya.

Nada yang keluar begitu lembut.

Para perampok terdiam.

Jenang Gila mengerutkan kening.

"Suara apa itu?"

Bayu tidak menjawab.

Ia terus memainkan serulingnya.

Nada pertama terdengar seperti suara angin yang melewati pepohonan.

Nada berikutnya seperti aliran sungai.

Kemudian terdengar melodi yang begitu tenang sehingga suasana desa berubah.

Para perampok mulai menguap.

Salah seorang dari mereka mengusap matanya.

"Aku... mengantuk."

Temannya tertawa.

"Aku juga."

Jenang Gila berusaha tetap berdiri.

"Jangan... tidur..."

Namun matanya semakin berat.

Ia mencoba melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian ia terduduk.

Tak lama kemudian, Jenang Gila tertidur.

Satu demi satu pengikutnya juga tertidur.

Desa menjadi sunyi.

Pak Radit memandang Bayu dengan terkejut.

"Kau..."

Bayu menghentikan permainan.

"Seruling ini hanya membuat mereka tertidur. Tidak lebih."

Pak Radit segera memahami kesempatan yang ada.

"Warga!"

Semua orang bergerak.

"Tali!"

"Ambil tali!"

Para penduduk mengambil tali dari rumah mereka.

Mereka mendekati para perampok dengan hati-hati.

Satu demi satu tangan dan kaki mereka diikat.

Para pemuda desa mengikat beberapa perampok.

Para ibu dan bapak membantu membawa tali.

Pak Radit sendiri bersama Bayu mengikat Jenang Gila.

Tubuhnya sangat besar sehingga membutuhkan beberapa tali sekaligus.

Setelah semuanya selesai, Pak Radit berdiri di tengah desa.

"Jangan menyakiti mereka."

Bayu mengangguk.

"Kita hanya perlu menghentikan mereka agar tidak lagi mengganggu desa."

Para warga setuju.


Para perampok kemudian dibawa menuju sungai.

Sungai besar yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan Desa Muara Api mengalir menuju laut.

Pak Radit dan warga menaikkan para perampok ke atas rakit sederhana.

Rakit itu kemudian dilepaskan mengikuti arus sungai.

Bayu berdiri di tepi sungai sambil memainkan serulingnya.

Alunan musik kembali terdengar.

Para perampok tetap tertidur.

Rakit bergerak perlahan menjauh.

Malam semakin larut.

Bintang-bintang muncul di langit.

Penduduk berdiri di tepian sungai sambil menyaksikan rakit menghilang di kejauhan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka merasa memiliki harapan.

Namun, tidak seorang pun mengetahui ke mana arus sungai akan membawa para perampok tersebut.


Sungai itu terus mengalir.

Melewati hutan.

Melewati batu-batu besar.

Kemudian memasuki daerah yang semakin luas.

Akhirnya, sungai bertemu dengan laut.

Di tengah laut tersebut terdapat sebuah kawasan yang jarang didatangi manusia.

Di sanalah banyak ikan hiu biasa mencari makan.

Namun, malam itu keadaan laut berbeda.

Ikan-ikan hiu tersebut sedang tertidur.

Mereka sudah lama tertidur karena secara kebetulan suara seruling Bayu terbawa angin hingga ke laut.

Nada seruling yang lembut membuat berbagai makhluk di sekitar pantai dan laut menjadi tenang.

Bahkan ikan-ikan besar itu pun tertidur selama berhari-hari.

Ketika rakit yang membawa para perampok tiba di laut, salah satu ikatan pada rakit terlepas.

Rakit itu bergoyang.

Para perampok masih tertidur.

Kemudian salah satu ikan hiu terbangun.

Ia berenang perlahan.

Tak lama kemudian ikan-ikan hiu lainnya ikut terbangun.

Mereka telah tertidur lama.

Mereka lapar.

Rakit itu berada tidak jauh dari mereka.

Kisah berikutnya hanya diketahui oleh laut.

Para perampok akhirnya tidak pernah kembali ke Desa Muara Api.

Penduduk tidak pernah mengetahui secara pasti apa yang terjadi di tengah laut.

Yang mereka tahu, ancaman Jenang Gila telah berakhir.


Pagi berikutnya, Desa Muara Api terasa berbeda.

Tidak ada suara langkah kaki raksasa.

Tidak ada teriakan dari arah gunung.

Tidak ada orang yang meminta upeti.

Anak-anak mulai bermain di halaman.

Para petani kembali pergi ke sawah.

Para ibu kembali menjemur hasil panen.

Pak Radit berjalan mengelilingi desa sambil tersenyum.

"Kita bebas," katanya.

Seorang warga bertanya,

"Apakah mereka akan kembali?"

Pak Radit melihat ke arah Gunung Berantai Merah.

"Mudah-mudahan tidak."

Hari berganti hari.

Minggu berganti minggu.

Sebulan berlalu.

Tidak ada Jenang Gila.

Dua bulan berlalu.

Tidak ada para perampok.

Tiga bulan berlalu.

Desa Muara Api benar-benar aman.

Keluarga-keluarga yang dahulu meninggalkan desa mulai mendengar kabar bahwa keadaan telah berubah.

Sebagian dari mereka kembali.

Mereka menemukan rumah yang masih berdiri.

Sawah mulai kembali ditanami.

Pasar desa perlahan hidup kembali.

Desa Muara Api mulai ramai.

Penduduk kemudian mengadakan sebuah pesta sederhana.

Mereka ingin berterima kasih kepada Bayu Masaji.

Namun, ketika mereka mencari pemuda itu, ia sudah tidak ada.

Rumah tempat Bayu menginap kosong.

Tas kainnya juga tidak ada.

Serulingnya pun tidak terlihat.

Pak Radit bertanya kepada semua warga.

"Apakah ada yang melihat Bayu?"

Tidak seorang pun tahu.

Ada warga yang mengatakan bahwa ia melihat Bayu berjalan menuju jalan di sebelah utara.

Ada yang mengatakan bahwa pemuda itu berjalan menuju hutan.

Ada pula yang percaya bahwa Bayu telah kembali ke tanah seberang.

Pak Radit hanya tersenyum.

"Biarkan dia pergi."

"Bayu sudah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta."

"Apa itu?"

"Keberanian."


Bertahun-tahun kemudian, Desa Muara Api semakin berkembang.

Anak-anak yang dahulu bersembunyi ketika mendengar langkah kaki para perampok kini tumbuh menjadi pemuda dan pemudi yang berani.

Sawah kembali hijau.

Kebun kembali menghasilkan buah.

Pasar kembali ramai.

Penduduk tidak lagi hidup dalam ketakutan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah hilang.

Setiap beberapa bulan, terutama ketika malam sangat sunyi, penduduk Desa Muara Api terkadang mendengar suara seruling dari balik Gunung Berantai Merah.

Suara itu terdengar sangat jauh.

Lembut.

Merdu.

Seperti angin yang sedang bernyanyi.

Ketika mendengar suara tersebut, orang-orang biasanya menghentikan pekerjaan mereka.

Mereka memandang ke arah gunung.

Beberapa anak bertanya kepada orang tua mereka,

"Apakah itu suara Bayu Masaji?"

Orang tua mereka biasanya tersenyum.

"Mungkin."

"Apakah Bayu masih berada di balik gunung?"

"Entahlah."

Tidak ada seorang pun yang tahu ke mana Bayu Masaji pergi.

Namun, masyarakat percaya bahwa pemuda pengembara itu masih menjaga kedamaian desa dari kejauhan.

Konon, jika seseorang berjalan terlalu jauh ke arah Gunung Berantai Merah pada malam hari, ia terkadang mendengar suara seruling.

Nada pertamanya membuat hati terasa tenang.

Nada keduanya membuat pikiran menjadi ringan.

Dan nada berikutnya membuat mata terasa berat.

Orang-orang kemudian memilih pulang sebelum tertidur di tengah perjalanan.

Sejak saat itu, muncul sebuah pesan yang sering diceritakan para orang tua kepada anak-anak mereka.

"Jangan pernah meremehkan kebaikan yang sederhana. Sebuah seruling kecil dapat mengalahkan ketakutan yang telah bertahun-tahun menguasai sebuah desa."

Dan masyarakat Desa Muara Api selalu mengingat satu hal lain.

Mereka dahulu mengira bahwa kekuatan hanya dimiliki oleh orang yang tubuhnya besar dan suaranya keras.

Ternyata mereka salah.

Kekuatan juga dapat hadir dalam bentuk yang sederhana.

Dalam keberanian seorang kepala desa.

Dalam persatuan masyarakat.

Dalam keberanian untuk berhenti menyerah.

Dan dalam diri seorang pengembara muda bernama Bayu Masaji yang datang tanpa membawa harta, tetapi meninggalkan harapan.

Hingga sekarang, ketika matahari mulai tenggelam di balik Gunung Berantai Merah dan warna jingga menyelimuti langit, sebagian penduduk Desa Muara Api masih duduk di halaman rumah mereka.

Mereka memandang gunung.

Lalu, jika angin bertiup dari balik pegunungan, kadang-kadang terdengar suara yang sangat mereka kenal.

Suara seruling.

Merdu dan menenangkan.

Mereka tersenyum.

Karena bagi mereka, suara itu bukan sekadar musik.

Itu adalah pengingat bahwa masa-masa sulit pasti dapat berakhir.

Bahwa keberanian dapat tumbuh dari orang biasa.

Dan bahwa sebuah desa yang pernah hampir ditinggalkan seluruh penduduknya ternyata masih memiliki harapan.

Di balik Gunung Berantai Merah, suara seruling itu pun perlahan menghilang.

Namun kisah Bayu Masaji terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tentang seorang pengembara muda.

Tentang sebuah desa yang pernah hidup dalam ketakutan.

Tentang keberanian penduduk yang bersatu.

Dan tentang seruling ajaib yang membuat sebuah desa kembali menemukan kedamaian.

Posting Komentar untuk "Bayu Masaji dan Seruling dari Balik Gunung"