Di zaman ketika hutan-hutan masih sangat luas dan sungai mengalir sejernih kaca, hiduplah sebuah suku yang dikenal dengan nama Suku Achteca. Mereka tinggal di lembah subur yang dikelilingi pegunungan hijau dan pohon-pohon raksasa yang menjulang hingga menutupi langit.
Suku Achteca terkenal sebagai
kaum yang mencintai alam. Mereka tidak pernah menebang pohon sembarangan, tidak
memburu hewan secara berlebihan, dan selalu mengadakan upacara syukur setiap
pergantian musim. Mereka percaya bahwa hutan adalah rumah para roh penjaga
kehidupan.
Di antara para pemuda suku itu,
ada tiga sahabat yang sangat akrab: Narmarha, Edunta, dan Caketwa.
Narmarha adalah pemuda yang
tenang dan bijaksana. Ia selalu berpikir sebelum bertindak. Edunta terkenal
pemberani dan kuat, sedangkan Caketwa memiliki kecerdikan yang sering
menyelamatkan mereka dari berbagai masalah.
Ketiganya tumbuh bersama sejak
kecil. Mereka berburu bersama, memanjat pohon bersama, bahkan bermimpi suatu
hari menjadi penjaga hutan bagi suku mereka.
Namun kedamaian itu tidak
berlangsung selamanya.
Di balik pegunungan utara,
terdapat kelompok penyerbu yang dikenal dengan nama Suku Medalion. Berbeda
dengan Achteca, mereka haus kekuasaan dan ingin menguasai seluruh wilayah
hutan. Mereka membakar desa-desa, merampas persediaan makanan, dan mengusir
siapa pun yang menolak tunduk.
Awalnya, Suku Achteca mencoba
berdamai. Para tetua mengirim utusan membawa hasil panen dan tanda
persahabatan. Tetapi Suku Medalion justru menganggap kebaikan itu sebagai
kelemahan.
Suatu malam yang gelap, ketika
hujan turun deras dan petir membelah langit, pasukan Medalion menyerang desa
Achteca.
Jeritan memenuhi udara.
Api membakar rumah-rumah kayu.
Orang-orang berlarian
menyelamatkan diri.
Narmarha yang saat itu sedang
membantu para tetua segera menyadari bahwa keadaan sudah tidak bisa
diselamatkan. Ia berlari mencari Edunta dan Caketwa di tengah kekacauan.
“Desa sudah dikepung!” teriak
Edunta sambil membawa tombak kayu.
“Kita harus membawa anak-anak
keluar!” jawab Caketwa.
Mereka berusaha membantu
sebanyak mungkin warga melarikan diri ke arah hutan. Namun jumlah musuh terlalu
banyak. Pasukan Medalion datang seperti gelombang tanpa akhir.
Malam itu menjadi malam paling
mengerikan dalam hidup mereka.
Ketika matahari mulai muncul
keesokan paginya, desa Achteca sudah berubah menjadi abu dan puing-puing.
Hanya sedikit yang berhasil
melarikan diri.
Dan dari para pemuda penjaga
desa, hanya tiga orang yang tersisa: Narmarha, Edunta, dan Caketwa.
Mereka berjalan memasuki hutan
yang semakin lebat, meninggalkan kampung halaman yang kini hanya tinggal
kenangan.
Hari demi hari berlalu.
Ketiga pemuda itu hidup dalam
pelarian. Mereka tidur di bawah akar pohon besar, minum dari sungai kecil, dan
memakan buah-buahan liar.
Namun pasukan Medalion terus
memburu mereka.
Pemimpin Medalion percaya bahwa
selama masih ada keturunan Achteca yang hidup, perlawanan bisa muncul kembali.
Karena itu, perburuan tidak
pernah berhenti.
Suatu sore, ketika mereka
hampir tertangkap di dekat tebing sungai, Caketwa mendapat ide.
“Kita harus menyatu dengan
hutan,” katanya pelan.
“Maksudmu?” tanya Narmarha.
“Kita tidak bisa terus berlari
seperti manusia.”
Malam itu, mereka mulai
menutupi tubuh mereka dengan lumpur, akar, dan dedaunan. Mereka membuat pakaian
dari tanaman rambat dan kulit pohon.
Saat berdiri diam di antara
pepohonan, tubuh mereka hampir tidak terlihat.
Ternyata cara itu berhasil.
Berkali-kali pasukan Medalion
lewat tepat di depan mereka tanpa menyadari keberadaan ketiga pemuda tersebut.
Sejak saat itu, mereka hidup
seperti bayangan hutan.
Mereka belajar bergerak
perlahan seperti ranting tertiup angin. Mereka tidur sambil berdiri agar tampak
seperti batang pohon. Bahkan burung-burung mulai berani hinggap di bahu mereka.
Hutan perlahan menerima
keberadaan mereka.
Bulan demi bulan berlalu.
Namun hidup dalam ketakutan
terus-menerus membuat tubuh dan hati mereka lelah.
Pada suatu pagi, Edunta memandang
matahari yang menembus celah pepohonan.
“Aku rindu hidup bebas,”
katanya lirih.
Narmarha mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Caketwa menatap hutan di
sekeliling mereka.
“Kita bahkan hampir lupa
bagaimana rasanya berjalan tanpa takut.”
Walau mereka berhasil lolos
berkali-kali, pasukan Medalion tetap semakin dekat.
Suatu malam, mereka mendengar
suara terompet perang dari kejauhan.
“Itu mereka,” kata Edunta
sambil menggenggam tombak.
Ketiganya segera berpindah
tempat.
Namun kali ini keadaan berbeda.
Pasukan Medalion membawa anjing
pemburu.
Jejak mereka mulai ditemukan.
Pagi harinya, suara langkah
kaki terdengar dari segala arah.
“Kita dikepung!” seru Caketwa.
Mereka berlari menembus
semak-semak, melompati akar pohon, dan menyusuri lereng curam.
Tetapi jumlah musuh terlalu
banyak.
Narmarha terjatuh saat melewati
batu licin. Edunta menariknya bangun.
“Cepat!”
Mereka terus berlari hingga
tiba di sebuah bagian hutan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Tempat itu sangat sunyi.
Pohon-pohonnya tinggi luar
biasa.
Udara terasa dingin dan
dipenuhi cahaya hijau lembut.
Di tengah tempat itu berdiri
pohon raksasa yang batangnya lebih besar daripada rumah tetua suku.
Ketiganya terengah-engah.
Suara pasukan Medalion semakin
mendekat.
“Apa yang harus kita lakukan?”
tanya Edunta panik.
Narmarha memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak
desa mereka hancur, ia merasa benar-benar putus asa.
Ia lalu berlutut di tanah.
“Wahai penjaga hutan,”
bisiknya, “jika kami memang anak-anak hutan ini, lindungilah kami.”
Edunta dan Caketwa ikut
berlutut.
Mereka menutup mata sambil
memanjatkan harapan terakhir.
Angin tiba-tiba berembus kencang.
Daun-daun berputar di udara.
Tanah di bawah kaki mereka
mulai bergetar pelan.
Ketiganya membuka mata dengan
kaget.
Akar-akar kecil muncul dari
tanah dan melilit kaki mereka.
“Apa ini?” seru Edunta.
Namun suara mereka perlahan
berubah berat.
Kulit mereka mulai mengeras
seperti kayu.
Jari-jari mereka memanjang
menyerupai ranting.
Rambut mereka berubah menjadi
helaian daun hijau.
Mereka ingin bergerak, tetapi
tubuh mereka terus berubah.
Caketwa menatap tangannya
dengan takut.
“Aku... berubah...”
Suara gemuruh terdengar dari
batang pohon raksasa di tengah hutan.
Lalu muncul suara yang dalam
dan tenang.
“Kalian telah memilih menjadi
bagian dari hutan.”
Ketiganya terdiam.
“Kalian tidak akan lagi diburu
sebagai manusia.”
“Siapa kau?” tanya Narmarha.
“Aku adalah Penjaga Hutan
Tertua.”
Cahaya hijau menyelimuti
seluruh tempat itu.
“Kalian mencintai hutan dan
menjaganya. Kini hutan akan menjaga kalian.”
Tubuh ketiga pemuda itu berubah
sepenuhnya menjadi pohon.
Namun mereka tidak mati.
Mereka masih bisa berpikir.
Masih bisa melihat.
Dan perlahan, mereka menyadari
sesuatu yang aneh.
Mereka masih bisa bergerak.
Akar besar di bawah tubuh
mereka mencabut diri dari tanah seperti kaki raksasa.
Batang mereka membungkuk
perlahan.
Ranting-ranting mereka bergerak
seperti tangan.
Ketika pasukan Medalion
akhirnya tiba di tempat itu, mereka hanya melihat tiga pohon besar berdiri
diam.
“Tidak ada siapa-siapa,” kata
salah satu prajurit.
“Mungkin mereka sudah mati di
hutan.”
Pasukan itu pun pergi tanpa
menyadari bahwa tiga pohon raksasa sedang memperhatikan mereka.
Setelah keadaan aman, Narmarha
mencoba melangkah.
Tanah bergetar kecil saat
akar-akarnya bergerak.
“Aku... bisa berjalan,” katanya
tak percaya.
Edunta tertawa keras, meski
suaranya kini terdengar seperti gesekan batang kayu.
“Kita benar-benar menjadi pohon
hidup!”
Caketwa memandang matahari di
langit.
Ada rasa hangat yang berbeda.
Ia merasa sangat nyaman saat
sinar matahari menyentuh daun-daunnya.
“Aku bisa merasakan cahaya,”
katanya kagum.
Sejak saat itu, ketiganya hidup
sebagai Pohon Berjalan.
Mereka menjelajahi hutan
perlahan, mengikuti sinar matahari yang mereka rindukan.
Jika suatu tempat terlalu
gelap, mereka akan bergerak ke tempat yang lebih terang.
Jika tanah mulai kering, mereka
berpindah mendekati sungai.
Burung-burung membuat sarang di
cabang mereka.
Monyet-monyet kecil bermain di
ranting mereka.
Hewan-hewan hutan tidak takut
kepada mereka.
Bahkan pohon-pohon lain tampak
bergoyang lembut ketika mereka lewat, seolah menyambut saudara baru.
Tahun demi tahun berlalu.
Nama Suku Achteca perlahan
menjadi legenda.
Namun cerita tentang pohon yang
bisa berjalan mulai menyebar dari desa ke desa.
Banyak pemburu mengaku melihat
pohon berpindah tempat saat malam.
Ada yang melihat bayangan
batang besar berjalan di bawah cahaya bulan.
Ada pula yang bersumpah pernah
mendengar suara pohon berbicara di tengah kabut.
Sebagian orang menganggap
cerita itu hanya dongeng.
Namun sebagian lain percaya
bahwa roh penjaga hutan memang benar-benar ada.
Sementara itu, Suku Medalion
mulai mengalami kesulitan.
Tanah yang mereka kuasai
menjadi tandus.
Sungai-sungai mengering.
Hewan buruan semakin sedikit.
Mereka terlalu banyak menebang
pohon tanpa memikirkan keseimbangan alam.
Pada suatu musim panas panjang,
kebakaran besar melanda wilayah mereka.
Api menyebar hingga mendekati
hutan tua tempat Narmarha dan sahabatnya tinggal.
Asap hitam memenuhi langit.
Hewan-hewan berlari ketakutan.
Burung-burung beterbangan
meninggalkan sarang.
Melihat itu, Edunta berkata,
“Jika api terus menyebar, seluruh hutan akan musnah.”
“Kita harus melakukan sesuatu,”
jawab Narmarha.
Ketiganya bergerak menuju
sumber kebakaran.
Langkah mereka mengguncang
tanah.
Akar besar mereka menyeret
tanah basah dan lumpur.
Sesampainya di dekat api,
mereka mulai menjatuhkan batang-batang pohon mati untuk menghentikan penyebaran
kobaran.
Caketwa menggunakan
akar-akarnya untuk menggali jalur tanah kosong agar api tidak meluas.
Edunta merobohkan pohon kering
yang hampir terbakar.
Narmarha berdiri di dekat
sungai dan mengarahkan aliran air menggunakan akar raksasanya.
Mereka bekerja sepanjang malam.
Akhirnya, api berhasil
dihentikan sebelum mencapai jantung hutan tua.
Namun usaha itu membuat tubuh
mereka hangus di beberapa bagian.
Daun-daun mereka terbakar.
Cabang-cabang mereka patah.
Saat matahari terbit, hujan
turun perlahan dari langit.
Air membasahi tubuh mereka yang
gosong.
Tunas-tunas kecil mulai tumbuh
kembali di cabang mereka.
Dan untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun, ketiga sahabat itu merasa damai.
Beberapa hari kemudian,
sekelompok anak kecil dari desa terdekat memasuki hutan mencari buah liar.
Mereka terkejut melihat tiga
pohon raksasa berdiri di dekat sungai.
“Pohon itu... bergerak!” teriak
salah satu anak.
Anak-anak itu ketakutan dan
hampir lari.
Namun Narmarha berbicara dengan
suara lembut.
“Jangan takut.”
Anak-anak itu membeku.
“Kalian... bisa bicara?” tanya
seorang anak kecil.
“Kami penjaga hutan,” jawab
Caketwa.
Anak-anak itu perlahan
mendekat.
Mereka mendengarkan kisah
tentang hutan, tentang pentingnya menjaga pohon, dan tentang bagaimana
keserakahan bisa menghancurkan kehidupan.
Sejak hari itu, cerita tentang
Pohon Berjalan tidak lagi dianggap sekadar dongeng menakutkan.
Mereka menjadi simbol penjaga
alam.
Orang-orang mulai menanam
kembali pohon yang ditebang.
Mereka menjaga sungai dan
melindungi hutan dari kebakaran.
Legenda tentang tiga pemuda
Achteca terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Konon, hingga sekarang, jika
seseorang berjalan terlalu jauh ke dalam hutan tua saat matahari hampir
tenggelam, mereka mungkin akan melihat tiga pohon raksasa bergerak perlahan di
antara kabut.
Akar mereka melangkah pelan di
atas tanah.
Daun-daun mereka berkilau
terkena cahaya senja.
Mereka terus berjalan mencari
sinar matahari, seperti kerinduan yang tak pernah padam.
Dan meskipun tubuh mereka telah
berubah menjadi pohon, hati mereka tetaplah hati tiga sahabat yang dahulu hanya
ingin hidup damai bersama hutan yang mereka cintai.
Posting Komentar untuk "Pohon yang Bisa Berjalan"