Di sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan, yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan hutan lebat yang seolah tak berujung, hiduplah masyarakat yang sederhana dan saling mengenal satu sama lain. Desa itu tenang, jauh dari hiruk pikuk kota, namun menyimpan cerita yang diwariskan turun-temurun—sebuah kisah tentang sosok misterius bernama Nenek Pakande.
Orang-orang
tua di desa sering memperingatkan anak-anak mereka untuk tidak bermain terlalu
jauh ke dalam hutan, terutama menjelang senja. Mereka selalu mengulang kalimat
yang sama dengan suara pelan namun tegas, “Jangan sampai Nenek Pakande
melihatmu sendirian.”
Namun,
seperti kebanyakan anak-anak, rasa penasaran seringkali lebih besar daripada
rasa takut.
Di desa
itu tinggal seorang anak laki-laki bernama Arman. Ia dikenal sebagai anak yang
cerdas, tetapi juga sangat ingin tahu. Setiap kali orang dewasa berbicara
tentang Nenek Pakande, Arman selalu mendekat diam-diam, berusaha mendengar
lebih jelas.
“Memangnya
siapa Nenek Pakande itu?” tanya Arman suatu sore kepada neneknya.
Neneknya
terdiam sejenak, menatap hutan di kejauhan sebelum menjawab, “Dia bukan sekadar
orang biasa. Dahulu, katanya, dia adalah seorang perempuan yang hidup
menyendiri di hutan. Tapi karena keserakahan dan perbuatannya, ia berubah
menjadi sosok yang menakutkan.”
“Menakutkan
bagaimana?” Arman semakin tertarik.
“Dia suka
memangsa manusia,” jawab neneknya pelan.
Arman
merinding, tapi bukan karena takut—melainkan karena rasa ingin tahu yang
semakin besar.
Suatu
hari, Arman dan dua sahabatnya, Rudi dan Sani, memutuskan untuk mencari tahu
kebenaran cerita itu. Mereka sepakat untuk pergi ke hutan pada sore hari, tepat
sebelum matahari terbenam.
“Kalau
kita hanya di pinggir hutan, pasti aman,” kata Rudi mencoba meyakinkan.
Sani
terlihat ragu, “Kalau benar ada Nenek Pakande?”
Arman
tersenyum, “Itu cuma cerita orang tua supaya kita tidak bermain jauh. Kita
lihat saja sendiri.”
Dengan
langkah hati-hati, mereka memasuki hutan. Cahaya matahari mulai redup, sinarnya
menembus celah-celah daun, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti
langkah mereka.
Awalnya,
semuanya terasa biasa saja. Mereka bahkan sempat tertawa dan saling mengejek
karena terlalu takut pada cerita yang belum tentu benar.
Namun,
semakin dalam mereka masuk, suasana berubah.
Angin
yang tadinya sepoi-sepoi tiba-tiba terasa lebih dingin. Suara burung
menghilang, digantikan keheningan yang aneh.
“Kenapa
jadi sepi begini?” bisik Sani.
Arman
mulai merasa ada yang tidak beres, tapi ia berusaha tetap tenang. “Mungkin kita
terlalu jauh. Sebaiknya kita kembali.”
Saat
mereka hendak berbalik, terdengar suara ranting patah dari arah belakang.
Krek...
Mereka
bertiga membeku.
“Siapa
itu?” tanya Rudi dengan suara bergetar.
Tidak ada
jawaban.
Namun
perlahan, dari balik pepohonan, muncul sosok seorang perempuan tua. Rambutnya
panjang dan kusut, wajahnya pucat, dan matanya menatap tajam ke arah mereka.
Ia
tersenyum.
Senyum
yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Anak-anak
kecil… kenapa kalian di sini?” suara perempuan itu serak, namun jelas
terdengar.
Arman
mencoba memberanikan diri. “Kami hanya… berjalan-jalan, Nek.”
Perempuan
itu mendekat perlahan. Langkahnya pelan, namun terasa berat, seolah setiap
pijakan memiliki makna.
“Di hutan
ini tidak aman untuk anak-anak,” katanya.
Rudi
berbisik pelan, “Arman… kita harus pergi…”
Namun
kaki mereka terasa kaku.
Perempuan
itu semakin dekat, dan kini wajahnya terlihat lebih jelas. Ada sesuatu yang
aneh—senyumnya terlalu lebar, matanya tidak berkedip, dan auranya terasa
dingin.
“Apakah
kalian tersesat?” tanyanya lagi.
Arman
menelan ludah. Ia teringat cerita neneknya.
“Tidak…
kami akan pulang sekarang,” jawabnya cepat.
Perempuan
itu berhenti, lalu menatap mereka satu per satu.
“Tunggu,”
katanya. “Kalian belum menjawab pertanyaanku.”
Angin
bertiup kencang, membuat dedaunan berdesir keras.
Sani
hampir menangis. “Ayo pergi, Arman…”
Namun
sebelum mereka sempat bergerak, perempuan itu tiba-tiba tertawa.
Tawa yang
panjang, menggema di seluruh hutan.
“Hehehe…
kalian tahu siapa aku?”
Arman
merasa jantungnya berdegup sangat cepat.
Perempuan
itu menunduk sedikit, lalu berkata pelan namun jelas, “Aku… Nenek Pakande.”
Tanpa
pikir panjang, Arman berteriak, “LARI!”
Mereka
bertiga langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ranting-ranting menghantam
kaki mereka, semak-semak menghalangi jalan, tapi mereka tidak berhenti.
Di
belakang mereka, terdengar suara tawa yang semakin keras.
Namun
anehnya, suara langkah Nenek Pakande tidak terdengar. Seolah ia tidak perlu
berlari untuk mengejar mereka.
“Cepat!
Jangan lihat ke belakang!” teriak Arman.
Mereka
terus berlari hingga akhirnya melihat cahaya dari luar hutan.
Saat
mereka keluar, mereka langsung jatuh ke tanah, terengah-engah.
Mereka
selamat.
Malam
itu, Arman tidak bisa tidur. Bayangan wajah Nenek Pakande terus muncul di
pikirannya. Namun di balik rasa takut, ada satu hal yang mengganjal.
Kenapa
Nenek Pakande tidak mengejar mereka sampai keluar hutan?
Keesokan
harinya, Arman menceritakan semuanya kepada neneknya.
Neneknya
mendengarkan dengan serius, lalu menghela napas panjang.
“Kalian
beruntung,” katanya. “Tidak semua orang bisa kembali setelah bertemu
dengannya.”
“Tapi Nek…
kenapa dia tidak menangkap kami?” tanya Arman.
Neneknya
tersenyum tipis. “Karena kalian masih memiliki sesuatu yang dia tidak bisa
ambil.”
“Apa
itu?”
“Keberanian…
dan hati yang bersih.”
Arman
terdiam.
“Dengarkan
baik-baik,” lanjut neneknya. “Nenek Pakande bukan hanya sosok yang menakutkan.
Dia adalah peringatan.”
“Peringatan?”
“Ya.
Bahwa keserakahan, niat buruk, dan keinginan untuk menyakiti orang lain bisa
mengubah seseorang menjadi sesuatu yang tidak lagi manusiawi.”
Sejak
hari itu, Arman tidak pernah lagi meremehkan cerita rakyat.
Ia justru
mulai memahami bahwa setiap cerita memiliki makna.
Dan hutan
di dekat desanya?
Masih
tetap ada.
Masih
tetap sunyi.
Dan
kadang-kadang, saat angin bertiup terlalu pelan… terdengar tawa yang samar,
mengingatkan siapa saja yang mendengarnya bahwa tidak semua hal di dunia ini
bisa dijelaskan dengan logika.
Beberapa
tahun berlalu, Arman tumbuh menjadi pemuda yang bijak. Ia sering membantu orang
tua di desa dan menjadi panutan bagi anak-anak yang lebih muda.
Suatu
sore, saat matahari mulai terbenam, ia melihat sekelompok anak kecil bermain di
dekat hutan.
Ia
mendekat dan berkata, “Jangan terlalu dekat ke sana.”
“Kenapa,
Kak?” tanya salah satu anak.
Arman
tersenyum, mengingat masa lalunya.
“Karena
di sana… ada cerita yang belum selesai.”
Anak-anak
itu saling berpandangan.
“Cerita
apa?”
Arman
menatap hutan, lalu berkata pelan, “Cerita tentang seseorang yang dulu manusia…
tapi kehilangan arah.”
Ia tidak
menyebut nama Nenek Pakande.
Tidak
perlu.
Karena
yang lebih penting bukanlah siapa sosok itu, melainkan pelajaran yang
ditinggalkannya.
Malam
kembali turun di desa itu.
Lampu-lampu
rumah mulai menyala.
Dan di
kejauhan, hutan tetap berdiri diam, menyimpan rahasia yang hanya akan terungkap
bagi mereka yang berani—atau terlalu penasaran.
Namun
satu hal yang pasti…
Selama
manusia masih memiliki pilihan antara kebaikan dan keburukan, kisah seperti
Nenek Pakande akan selalu hidup—bukan untuk menakuti, tetapi untuk
mengingatkan.
Bahwa
setiap langkah yang kita ambil… akan menentukan siapa kita sebenarnya.
Posting Komentar untuk "Nenek Pakande (Penjaga Rahasia di Balik Hutan Sunyi)"