Debu-debu tipis beterbangan ketika Sakti membuka jendela kecil di loteng rumahnya. Cahaya matahari sore masuk melalui celah kayu yang retak, menyinari tumpukan kardus dan perabot lama yang sudah lama tak tersentuh. Ibunya menyuruhnya membersihkan loteng karena sebagian barang akan dibuang atau dijual sebagai barang bekas.
“Pilih saja yang sudah tidak berguna, Sakti,” kata
ibunya pagi itu.
Sakti mengangguk. Ia anak yang penurut. Dengan kaus
lama dan kain lap di tangan, ia mulai memilah buku-buku usang, majalah
menguning, dan beberapa album foto berdebu. Di sudut paling belakang, ia
menemukan sebuah koper kecil dari kulit yang sudah terkelupas. Kuncinya
berkarat, tapi masih bisa dibuka.
Di dalamnya, hanya ada satu benda: sebuah buku tua
bersampul cokelat kusam.
Buku itu tampak berbeda. Tidak ada judul di
sampulnya. Ketika Sakti membukanya, halaman pertama berisi tulisan tangan yang
rapi namun mulai pudar oleh waktu.
“Tanggal 12 Mei 2008. Rumah Sakit Harapan Ibu. Bayi
laki-laki lahir dengan selamat…”
Sakti terdiam. Tanggal itu adalah tanggal lahirnya.
Jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Ia membalik
halaman berikutnya.
“Karena kondisi ekonomi yang sangat sulit, kami
dengan berat hati menyerahkan anak kami untuk diadopsi oleh keluarga yang
bersedia merawat dan menyayanginya sepenuh hati…”
Tangannya gemetar. Di bawah kalimat itu tertulis
dua nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Bukan nama ayah dan ibunya
yang selama ini ia panggil dengan penuh cinta.
Sakti terduduk di lantai loteng yang berdebu.
Pikirannya campur aduk. Ia membaca halaman demi halaman. Buku itu rupanya
semacam catatan kesepakatan sederhana antara kedua orang tua kandungnya dan
orang tua angkatnya. Tertulis jelas bahwa ia diadopsi karena ayah kandungnya
kehilangan pekerjaan dan ibunya tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Air mata menetes tanpa bisa ia tahan.
Selama ini ia hidup berkecukupan. Rumahnya
sederhana tapi nyaman. Ia sekolah dengan baik, memiliki meja belajar sendiri,
dan tak pernah kekurangan makan. Kedua orang tuanya—yang kini ia tahu sebagai
orang tua angkat—tak pernah sekalipun memperlakukannya berbeda.
Malam itu, setelah makan malam, Sakti memberanikan
diri menunjukkan buku itu kepada kedua orang tuanya.
Ayahnya menarik napas panjang. Ibunya menggenggam
tangan Sakti erat-erat.
“Kami ingin memberitahumu saat kamu lebih siap,”
kata ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Kami mencintaimu seperti anak kandung
kami sendiri, Sakti.”
“Dan kami tidak pernah berniat menyembunyikan
kebenaran ini selamanya,” tambah ayahnya. “Kami hanya ingin kamu tumbuh tanpa
beban.”
Sakti menangis dalam pelukan mereka. Tidak ada rasa
marah. Hanya kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar tentang siapa dirinya
sebenarnya.
Beberapa hari kemudian, dengan izin dan dukungan
kedua orang tua angkatnya, Sakti memutuskan mencari alamat yang tertulis di
buku itu.
Alamat itu membawanya ke pinggiran kota, di dekat
sebuah tempat pembuangan sampah besar. Bau menyengat menyambutnya bahkan
sebelum ia turun dari angkutan umum. Hatinya terasa berat, tapi langkahnya tak
berhenti.
Di antara tumpukan sampah dan gerobak reyot, ia
melihat seorang perempuan paruh baya dengan pakaian sederhana dan topi lebar,
tengah memilah botol plastik dan kardus bekas. Wajahnya letih, namun matanya
menyimpan keteguhan.
Sakti tahu, entah bagaimana, bahwa perempuan itu
adalah ibunya.
“Ibu…” suaranya hampir tak terdengar.
Perempuan itu menoleh. Mata mereka bertemu. Ada
sesuatu yang bergetar di antara keduanya—sebuah ikatan yang tak bisa dijelaskan
oleh kata-kata.
“Ya, Nak?” jawab perempuan itu lembut.
Sakti menyebutkan namanya. Lalu ia menyebutkan
tanggal dan rumah sakit yang tertulis di buku itu. Wajah perempuan itu berubah.
Tangannya yang memegang karung plastik terlepas dan jatuh ke tanah.
“Maafkan Ibu…” ucapnya lirih sambil menutup
wajahnya dengan kedua tangan. “Ibu tidak punya pilihan waktu itu. Ayahmu sakit
keras. Kami tak punya biaya untuk berobat. Beberapa tahun lalu… ayahmu
meninggal.”
Setiap kata terasa seperti sayatan di hati Sakti.
Ia memeluk perempuan itu erat-erat, tanpa peduli pada bau sampah atau tatapan
orang-orang sekitar.
“Aku tidak marah, Bu,” katanya dengan suara
bergetar. “Aku hanya ingin tahu. Dan sekarang aku tahu.”
Mereka duduk di tepi tempat itu, berbagi cerita
yang hilang selama bertahun-tahun. Ibunya bercerita tentang perjuangan hidup
setelah suaminya meninggal, tentang bagaimana ia tetap bekerja mengais sampah
demi bertahan hidup.
Sakti pulang hari itu dengan hati yang hancur
sekaligus penuh tekad.
Di kamarnya, ia menatap meja belajar yang selama
ini sering ia abaikan. Ia teringat wajah ibu kandungnya yang penuh lelah. Ia
teringat ayah kandungnya yang tak sempat ia kenal. Ia juga teringat kedua orang
tua angkatnya yang telah memberinya segalanya.
Air mata mengalir lagi, tapi kali ini bukan hanya
karena sedih—melainkan karena tekad.
“Aku akan belajar lebih giat,” bisiknya pada
dirinya sendiri. “Aku akan membuat Ibu bangga. Kedua Ibuku.”
Sejak hari itu, Sakti berubah. Ia bangun lebih
pagi, belajar lebih tekun, dan tak lagi mengeluh. Setiap nilai bagus yang ia
dapatkan terasa seperti satu langkah kecil menuju mimpinya: menjadi seseorang
yang mampu mengangkat derajat keluarganya.
Tahun demi tahun berlalu. Sakti dikenal sebagai
siswa berprestasi. Ia memenangkan lomba, mendapatkan beasiswa, dan akhirnya
diterima di universitas ternama. Ia mengambil jurusan yang bisa memberinya
peluang besar untuk sukses.
Di hari kelulusannya, dua perempuan duduk
berdampingan di barisan kursi tamu. Keduanya mengenakan pakaian sederhana namun
rapi. Mata mereka sama-sama berkaca-kaca saat nama “Sakti” dipanggil sebagai
lulusan terbaik.
Setelah acara selesai, Sakti memeluk keduanya.
“Terima kasih, Bu,” katanya tulus. “Tanpa kalian,
aku tidak akan menjadi seperti sekarang.”
Ia berjanji dalam hati, perjuangannya belum
selesai. Ia akan bekerja keras, memastikan ibu kandungnya tak lagi mengais
sampah, dan kedua orang tua angkatnya menikmati masa tua dengan tenang.
Catatan kusam di loteng itu memang membuka luka
lama. Namun dari luka itulah tumbuh kekuatan, cinta, dan tekad yang membuat
Sakti menjadi pribadi yang tangguh.
Dan sejak hari itu, ia tahu—ia bukan anak yang
dibuang. Ia adalah anak yang dicintai, diperjuangkan, dan ditakdirkan untuk
membawa harapan bagi dua keluarga yang sama-sama ia sebut: rumah.

Posting Komentar untuk "Catatan di Loteng yang Mengubah Segalanya"