Di sudut halaman sebuah masjid tua, setiap sore selepas asar, seorang anak laki-laki bernama Rafi duduk bersila dengan kotak kecil berisi semir sepatu. Usianya baru sepuluh tahun. Tubuhnya kurus, bajunya lusuh, tapi matanya selalu menyimpan semangat yang tak pernah padam.
Minggu depan adalah hari ulang tahun ibunya.
Rafi masih ingat betul, pagi tadi ibunya mencoba
menutupi sobekan panjang di bagian bawah daster yang sudah sangat tua. Daster
itu telah menemani ibunya bertahun-tahun—saat memasak, mencuci, bahkan saat
menunggui Rafi sakit demam. “Masih bisa dipakai,” kata ibunya sambil tersenyum,
meski Rafi tahu senyum itu dipaksakan.
Sejak hari itu, Rafi punya satu keinginan
sederhana: membelikan daster baru untuk ibunya.
Setiap orang yang datang ke masjid ia tawari dengan
suara pelan,
“Semir sepatunya, Pak…?”
Tak semua orang menoleh. Ada yang tersenyum iba,
ada pula yang berlalu begitu saja. Tapi Rafi tak pernah mengeluh. Setiap receh
yang masuk ke tangannya terasa seperti satu langkah lebih dekat pada mimpinya.
Suatu sore, seorang pemuda menerima tawaran Rafi.
Sepatunya disemir hingga mengkilap. Saat pemuda itu berdiri dan pergi, tanpa
disadari dompetnya terjatuh di dekat pilar masjid.
Rafi melihatnya.
Ia mengambil dompet itu dan berlari kecil mengejar
pemuda tersebut.
“Mas! Dompetnya jatuh!” teriaknya.
Pemuda itu terkejut. Ia membuka dompetnya,
memastikan isinya masih utuh. Wajahnya berubah haru.
“Terima kasih, Dek. Kamu jujur sekali.”
Sebagai balasan, pemuda itu mengajak Rafi makan di
warung dekat masjid dan memberinya sejumlah uang. Rafi menerimanya dengan
sopan, namun ketika pemuda itu hendak memberi lebih, Rafi menggeleng pelan.
“Maaf, Mas… saya nggak minta uang. Saya cuma ingin
beliin ibu saya daster baru. Dasternya sudah sobek. Minggu depan ulang tahunnya.”
Pemuda itu terdiam.
Tanpa banyak bicara, ia menggandeng tangan kecil
Rafi dan mengajaknya ke sebuah toko pakaian sederhana. Di sana, Rafi memilih
sebuah daster berwarna biru muda, polos, sederhana—persis seperti yang disukai
ibunya.
“Ini saja, Mas. Yang ini ibu pasti suka.”
Saat daster itu dibungkus rapi, mata Rafi
berkaca-kaca. Bukan karena harganya, tapi karena mimpinya terkabul tanpa
harus mengorbankan kejujuran.
Sore itu, Rafi pulang dengan langkah ringan,
membawa hadiah kecil penuh cinta. Dan di dalam hatinya, ia tahu—ibunya mungkin
tak hanya akan menerima sebuah daster baru, tetapi juga hadiah yang jauh lebih
berharga: anak yang tumbuh dengan hati yang bersih dan jujur.

Posting Komentar untuk "DASTER BARU UNTUK IBU"