KISAH RAJA BUNU (Cerita Rakyat Kalimantan Utara)

Dahulu di Kalimantan Utara, hiduplah seorang raja yang tengah menderita sakit yang cukup parah. Raja Bunu namanya. Dengan sakitnya raja maka sedikit banyak mengganggu jalannya pemerintahan kerajaan. Oleh karena itu, kedua saudaranya yaitu Raja Sangiang dan Raja Sangen berupaya sekuat tenaga untuk membantu menyembuhkan sakit Raja Bunu. Mereka mencari tabib atau dukun ke segala penjuru untuk mengobati sakit Raja Bunu. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil. Sementara mereka dikejar waktu karena kondisi Raja Bunu semakin memburuk dari hari ke hari.

Sampai akhirnya mereka mendengar ada tabib yang cukup ternama di daerah mereka. Namanya Mangku Amat dan Nyai Jaya. Keduanya terkenal mampu mengobati bermacam penyakit. Konon mereka juga mempunyai kemampuan untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Mereka lalu memanggil putra Raja Bunu yaitu Paninting Tarung.

“Cari dan bawalah tabib Mangku Amat dan Nyai Jaya kemari untuk mengobati sakit ayahmu. Mereka berdua tinggal di Telaga Mantuk,”perintah Raja Sangiang kepada keponakannya itu. Paninting Tarung lalu berangkat untuk menjemput sang tabib.

Namun hingga tiga kali  bolak-balik ke rumah sang tabib ternyata tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Iapun pulang dengan tangan hampa. Hal itu membuat Raja Sangiang dan  Raja Sangen curiga jangan-jangan Paninting Tarung tidak melakukan apa yang mereka perintahkan.

“Saya sudah kesana hingga tiga kali, paman. Tapi nyatanya tidak pernah berjumpa orang yang dimaksud,”jawab Paninting Tarung dengan nada marah.

“Baiklah. Tapi mungkin kamu harus coba lagi kesana,”perintah Raja Sangen.

Tanpa pikir panjang lagi Paninting Tarung lalu bergegas menuju ke lokasi yang dimaksud. Dan ketika masih mendapati  rumah yang kosong, emosinya naik hingga ke puncaknya. Rumah tersebut dihancurkan. Ia lalu pulang membawa beberapa bagian rumah sebagai bukti bahwa ia memang benar baru saja pergi ke rumah tersebut.

Sementara itu kesedihan begitu terasa setelah Mangku Amat dan Nyai Jaya pulang dan mendapati rumah mereka telah hancur. Sementara peralatan yang biasa digunakan untuk pengobatanpun ikut lenyap. Namun keduanya tidak bisa berbuat banyak meskipun mereka tahu pelakunya adalah Paninting Tarung. Mereka hanya sedih karena tidak berapa lama kemudian Raja Bunu meninggal dunia tanpa mereka bisa memberikan pertolongan sebelumnya.

“Sebenarnya jika Paninting Tarung mau bersabar, mungkin Raja Bunu bisa sembuh. Seandainya sudah meninggalpun, kami punya kemampuan untuk menghidupkannya kembali.  Sayangnya peralatan kami juga sudah tidak ada,”keluh Nyai Jaya penuh penyesalan.

Apa boleh buat. Nasi telah menjadi bubur. Sesuatu yang telah terjadi tidak mungkin bisa diulang kembali

Posting Komentar untuk "KISAH RAJA BUNU (Cerita Rakyat Kalimantan Utara)"