Pada zaman dahulu, jauh sebelum Pulau Tidore dikenal seperti sekarang, kehidupan masyarakat di pulau itu sangat berbeda. Belum ada gunung tinggi yang menjulang hingga menyentuh awan. Daratan Tidore sebagian besar berupa lembah, dataran rendah, dan perbukitan kecil yang ditumbuhi pepohonan hijau.
Laut di sekeliling pulau membentang luas dan berkilauan diterpa cahaya matahari. Airnya jernih sehingga ikan-ikan dapat terlihat dari permukaan. Hutan tumbuh lebat dan menjadi tempat tinggal berbagai macam burung serta hewan liar. Masyarakat hidup sederhana dengan mengandalkan hasil laut, kebun, dan hutan.
Mereka menanam berbagai tanaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian menjadi nelayan, sebagian lagi menjadi petani. Mereka percaya bahwa alam bukanlah milik manusia semata, melainkan titipan yang harus dijaga bersama.
Di antara masyarakat itu, hiduplah seorang pemuda bernama Jou Barakati.
Jou Barakati bukanlah pemuda biasa. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kekuatan dan kemampuan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Namun, meskipun memiliki kesaktian, ia tidak pernah menyombongkan dirinya.
Ia lebih senang membantu orang lain daripada menunjukkan kehebatannya.
Setiap pagi, Jou Barakati berjalan menyusuri perkampungan. Jika melihat seorang petani kesulitan mencangkul tanah, ia akan membantu. Jika seorang nelayan mengalami kesulitan menarik perahu ke pantai, ia ikut mendorong. Jika ada warga yang membutuhkan kayu bakar, ia membantu mencarikannya di hutan.
"Jou Barakati, mengapa engkau selalu membantu orang lain?" tanya seorang pemuda suatu hari.
Jou Barakati tersenyum.
"Karena hidup kita saling bergantung," jawabnya. "Laut memberi kita ikan. Hutan memberi kita kayu dan udara. Tanah memberi kita makanan. Jika alam telah memberikan begitu banyak kepada kita, mengapa kita tidak saling membantu?"
Jawaban itu membuat pemuda tersebut terdiam.
Bagi Jou Barakati, kekuatan bukanlah alasan untuk menguasai orang lain. Kekuatan justru merupakan amanah untuk melindungi mereka yang membutuhkan.
Kemarau Panjang
Suatu tahun, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan masyarakat Tidore terjadi.
Musim kemarau datang.
Pada awalnya, tidak ada seorang pun yang merasa khawatir. Kemarau merupakan hal biasa. Matahari bersinar lebih lama, hujan jarang turun, dan tanah menjadi sedikit lebih kering.
Namun, hari demi hari berlalu.
Hujan tidak kunjung datang.
Minggu pertama berlalu tanpa hujan.
Kemudian minggu kedua.
Lalu bulan pertama.
Sungai-sungai yang biasanya mengalir mulai menyusut. Beberapa mata air kecil bahkan berhenti mengeluarkan air. Tanah pertanian menjadi keras dan retak.
Daun-daun pepohonan mulai menguning. Tanaman yang baru saja ditanam para petani perlahan layu.
Para petani mulai cemas.
"Jika hujan tidak segera turun, tanaman kita akan mati," keluh seorang petani.
"Bagaimana kita akan mendapatkan air untuk keluarga?" tanya yang lain.
Kekhawatiran semakin menyebar di seluruh kampung.
Para ibu harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air. Anak-anak tidak lagi bebas bermain karena harus membantu orang tua mencari air. Para nelayan juga mulai kesulitan karena perubahan cuaca membuat hasil tangkapan berkurang.
Masyarakat berkumpul di sebuah tempat untuk membicarakan keadaan mereka.
"Kita harus mencari jalan keluar," kata seorang tetua kampung.
"Tetapi apa yang dapat kita lakukan?" tanya warga lainnya.
Tidak ada yang mampu menjawab.
Semua orang memandang ke langit.
Langit tetap biru.
Tidak ada awan.
Tidak ada tanda-tanda hujan.
Pada suatu sore, Jou Barakati berjalan menyusuri tanah pertanian yang mulai mengering. Ia melihat seorang ibu sedang mencoba menyelamatkan tanaman yang layu dengan menuangkan sedikit air ke akarnya.
"Gunakan air ini untuk anak-anakmu," kata Jou Barakati.
Ibu itu menggeleng.
"Jangan, Jou. Tanaman ini adalah harapan kami. Jika tanaman ini mati, kami tidak tahu bagaimana mendapatkan makanan."
Jou Barakati terdiam.
Ia memandang tanah yang retak di bawah kakinya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kekuatannya belum cukup untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi seluruh masyarakat.
Malam itu, ia duduk sendirian di tepi pantai.
Bulan bersinar di atas laut.
Ombak datang dan pergi dengan suara lembut.
Jou Barakati memejamkan mata.
"Ya, Tuhan Yang Maha Kuasa," doanya dalam hati, "berilah aku petunjuk. Aku ingin membantu masyarakatku. Aku tidak ingin melihat mereka kehilangan makanan dan air."
Ia kemudian teringat sebuah bukit yang merupakan tempat tertinggi di Tidore pada masa itu.
Menurut keyakinannya, tempat tersebut merupakan tempat yang baik untuk merenung dan mencari petunjuk.
Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Jou Barakati mulai mendaki bukit.
Petunjuk dari Alam
Jalan menuju puncak bukit tidak mudah.
Ia melewati hutan, menyeberangi sungai kecil, dan memanjat bebatuan. Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya ia sampai di tempat yang paling tinggi.
Dari sana, Jou Barakati dapat melihat seluruh Pulau Tidore.
Ia melihat laut yang luas.
Ia melihat kampung-kampung kecil.
Ia melihat kebun dan ladang yang mulai mengering.
Ia juga melihat Pulau Ternate dan pulau-pulau lain di kejauhan.
Jou Barakati duduk bersila.
Ia memejamkan mata dan bermeditasi.
Angin bertiup perlahan.
Suara burung terdengar dari kejauhan.
Daun-daun bergerak terkena angin.
Dalam keheningan itu, Jou Barakati mendapatkan sebuah ilham.
Ia membayangkan sebuah gunung besar berdiri di tengah pulau.
Gunung itu tinggi.
Puncaknya menembus awan.
Awan-awan berkumpul di sekitarnya.
Hujan turun dari langit.
Air mengalir dari lerengnya menuju lembah dan kampung-kampung.
Jou Barakati membuka mata.
Ia merasa mendapatkan petunjuk.
"Jika tidak ada gunung yang mampu menahan awan dan membawa hujan," gumamnya, "mungkin aku harus membuatnya."
Namun, bagaimana mungkin seorang manusia membuat gunung?
Jou Barakati kemudian teringat pada batu-batu besar yang berada di dasar laut. Menurut pengetahuan dan keyakinannya, terdapat batu-batu keramat yang sangat kuat di dasar laut.
Ia percaya batu-batu itu dapat menjadi dasar bagi sebuah gunung.
Malam itu, Jou Barakati kembali ke pantai.
Ia berdiri menghadap laut.
"Jika ini adalah jalan untuk menyelamatkan masyarakatku, berilah aku kekuatan," katanya.
Kemudian sesuatu yang ajaib terjadi.
Air laut di hadapannya perlahan terbelah.
Jou Barakati berjalan menuju dasar laut tanpa tenggelam.
Di sana ia melihat batu-batu besar berkilauan di antara karang.
Batu-batu itu sangat berat.
Namun, dengan kesaktiannya, Jou Barakati mampu mengangkat satu batu besar.
Ia membawanya ke daratan.
Kemudian ia meletakkannya di tengah pulau.
Tanah bergetar.
Namun tidak ada kehancuran.
Justru tanah di sekitar batu itu menjadi semakin kokoh.
Jou Barakati memandang batu tersebut.
Ia tersenyum.
"Ini baru permulaan."
Membangun Gunung
Setiap malam, ketika masyarakat sedang tidur, Jou Barakati kembali ke laut.
Ia mengambil batu demi batu.
Batu kecil.
Batu besar.
Batu yang berwarna hitam.
Batu yang berwarna kelabu.
Bahkan beberapa batu yang begitu besar hingga biasanya tidak mungkin dipindahkan oleh manusia.
Tetapi Jou Barakati tidak pernah mengeluh.
Ia terus bekerja.
Malam pertama, tumpukan batu itu hanya setinggi tubuh manusia.
Malam kedua, tingginya mencapai pohon.
Malam ketiga, tumpukan tersebut sudah terlihat dari kejauhan.
Hari berganti hari.
Minggu berganti minggu.
Masyarakat mulai menyadari adanya perubahan di tengah pulau.
"Apakah kalian melihat sesuatu di sana?" tanya seorang warga.
"Aku melihat tumpukan batu," jawab temannya.
"Tetapi siapa yang membawanya?"
Tidak seorang pun mengetahui jawabannya.
Pada suatu pagi, beberapa warga menemukan jejak kaki besar di sekitar tumpukan batu.
Mereka mengikuti jejak tersebut.
Namun jejak itu berakhir di tepi pantai.
Masyarakat semakin penasaran.
Sementara itu, Jou Barakati tetap bekerja dalam diam.
Ia tidak ingin dipuji.
Ia tidak ingin dianggap sebagai pahlawan.
Baginya, yang terpenting adalah masyarakat dapat kembali mendapatkan air dan kehidupan mereka dapat diselamatkan.
Semakin banyak batu yang disusun, semakin tinggi pula tumpukan itu.
Ajaibnya, batu-batu tersebut tidak runtuh.
Batu-batu itu seakan menyatu dengan tanah.
Tanah di bawahnya semakin tinggi.
Bukit mulai terbentuk.
Kemudian bukit itu berubah menjadi gunung.
Puncaknya semakin menjulang.
Pohon-pohon tumbuh di lerengnya.
Mata air mulai muncul dari sela-sela batu.
Pada suatu malam, ketika Jou Barakati meletakkan batu terakhir, terdengar suara gemuruh.
Tanah bergetar.
Langit dipenuhi awan.
Jou Barakati berdiri memandang ke atas.
Tumpukan batu itu berubah menjadi sebuah gunung yang sangat tinggi.
Puncaknya menembus awan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, langit Tidore dipenuhi awan hitam.
Kemudian...
Tetes air jatuh dari langit.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu semakin banyak.
Hujan turun dengan deras.
Jou Barakati menengadahkan wajahnya.
Ia tersenyum.
"Hujan telah kembali."
Hujan Membawa Kehidupan
Pagi harinya, masyarakat Tidore terbangun karena suara air hujan.
Anak-anak berlari keluar rumah.
"Huujan!"
"Hujan turun!"
Para ibu keluar sambil membawa wadah untuk menampung air.
Para petani menangis haru melihat ladang mereka kembali mendapatkan air.
Sungai-sungai mulai mengalir.
Tanah yang retak mulai basah.
Tumbuhan yang layu perlahan kembali segar.
Hujan turun selama beberapa hari.
Air mengalir dari puncak gunung menuju lembah.
Mata air bermunculan di berbagai tempat.
Masyarakat tidak lagi kekurangan air.
Ketika hujan berhenti, mereka melihat sesuatu yang luar biasa.
Di tengah Pulau Tidore berdiri sebuah gunung yang sangat tinggi.
Puncaknya masih diselimuti awan.
Lerengnya hijau.
Air mengalir dari berbagai sisi.
Masyarakat berkumpul untuk melihat keajaiban tersebut.
Seorang tetua kampung berkata,
"Gunung ini telah menjadi pelindung kita."
Warga lainnya berkata,
"Gunung ini membawa air dan hujan."
Mereka kemudian mencari Jou Barakati.
Ketika menemukannya, mereka bertanya,
"Jou, apakah engkau yang membuat gunung ini?"
Jou Barakati hanya tersenyum.
"Aku hanya melakukan apa yang menurutku harus dilakukan."
"Kami berutang kehidupan kepadamu," kata seorang warga.
Jou Barakati menggeleng.
"Jangan berterima kasih kepadaku. Berterima kasihlah kepada Tuhan dan alam yang telah memberikan kita kehidupan."
Ia kemudian menunjuk ke arah gunung.
"Mulai hari ini, jagalah gunung itu. Jangan menebang hutannya sembarangan. Jangan mencemari airnya. Jangan mengambil apa yang tidak kita perlukan."
Masyarakat mengangguk.
Mereka memahami pesan tersebut.
Kie Matubu
Sejak saat itu, gunung tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Tidore.
Masyarakat memberikan nama Kie Matubu.
Gunung itu menjadi simbol kekuatan dan perlindungan.
Dari lerengnya mengalir air yang menghidupi masyarakat.
Pepohonannya menjaga tanah.
Awan-awan berkumpul di puncaknya dan membawa hujan.
Burung-burung bersarang di antara pepohonan.
Berbagai tanaman tumbuh subur.
Ladang kembali menghasilkan makanan.
Laut kembali menjadi sumber kehidupan.
Masyarakat Tidore tidak pernah melupakan peristiwa yang terjadi pada masa itu.
Mereka mengajarkan kisah Jou Barakati kepada anak-anak mereka dari generasi ke generasi.
"Jangan pernah menyombongkan kekuatanmu," pesan para orang tua.
"Gunakan kemampuanmu untuk membantu sesama."
"Jangan mengambil lebih banyak dari yang dibutuhkan."
"Dan jangan pernah merusak alam yang telah memberikan kehidupan."
Waktu terus berjalan.
Kampung-kampung berkembang.
Generasi berganti.
Namun Kie Matubu tetap berdiri.
Puncaknya tetap menjulang tinggi.
Hutannya tetap menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup.
Bagi masyarakat Tidore, gunung itu bukan sekadar batu dan tanah yang menjulang ke langit.
Kie Matubu adalah pengingat bahwa kehidupan manusia dan alam tidak dapat dipisahkan.
Jika manusia menjaga alam, alam akan menjaga manusia.
Jika manusia menghormati bumi, bumi akan memberikan kehidupan.
Dan jika seseorang memiliki kekuatan, kekuatan tersebut seharusnya digunakan untuk membantu, bukan untuk menyakiti.
Konon, pada pagi-pagi tertentu ketika awan menyelimuti puncak Kie Matubu, masyarakat masih dapat merasakan suasana yang berbeda.
Kabut turun perlahan.
Air menetes dari daun-daun.
Angin berembus lembut dari lereng gunung.
Bagi sebagian orang, suasana itu mengingatkan mereka pada kisah Jou Barakati—pemuda yang rela bekerja dalam kesunyian demi menyelamatkan masyarakatnya.
Ia tidak meminta penghargaan.
Ia tidak meminta kekayaan.
Ia hanya ingin melihat anak-anak dapat kembali bermain, para petani dapat kembali menanam, para ibu dapat memperoleh air, dan seluruh masyarakat dapat hidup dengan tenang.
Itulah sebabnya Kie Matubu selalu dianggap sebagai simbol ketangguhan dan kepedulian.
Gunung itu seolah-olah berkata kepada setiap orang yang memandangnya:
"Kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang dapat berdiri, melainkan seberapa banyak kehidupan yang dapat ia lindungi."
Dan selama Kie Matubu masih berdiri kokoh di Pulau Tidore, kisah tentang Jou Barakati akan terus dikenang.
Kisah tentang seorang pemuda yang memilih membantu daripada berkuasa.
Kisah tentang seorang manusia yang mendengarkan suara alam.
Kisah tentang sebuah gunung yang lahir dari pengorbanan.
Dan kisah tentang sebuah negeri yang diselamatkan oleh kepedulian.

Posting Komentar untuk "Legenda Gunung Kie Matubu: Gunung yang Menyelamatkan Tidore"