Di sebuah desa kecil yang terletak di pinggiran kota, hiduplah seorang pria bernama Pak Muhdaro bersama istrinya, Sulastri. Mereka menikah dengan penuh harapan untuk membangun keluarga yang bahagia.
Saat Sulastri mengandung anak pertama mereka, Pak Muhdaro selalu berkata
kepada siapa saja bahwa ia menginginkan seorang anak laki-laki.
"Aku ingin penerus keluarga. Aku ingin anak laki-laki yang bisa
meneruskan namaku," katanya berulang kali.
Sulastri hanya tersenyum setiap kali mendengarnya.
"Anak laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting sehat,"
jawabnya.
Namun Pak Muhdaro tidak berpikir demikian.
Hari kelahiran pun tiba.
Tangis bayi memenuhi ruang bersalin sederhana di puskesmas desa.
Dokter tersenyum.
"Selamat, Pak. Bayinya perempuan dan sangat sehat."
Senyum di wajah Pak Muhdaro langsung menghilang.
"Perempuan?" tanyanya pelan.
"Iya, perempuan."
Bukannya bahagia, Pak Muhdaro justru meninggalkan ruangan tanpa menggendong
bayinya sedikit pun.
Sulastri menangis saat melihat sikap suaminya.
Mereka lalu memberi nama bayi itu Rahmadiari.
Nama yang indah.
Nama yang diberikan ibunya dengan penuh cinta.
Namun sejak hari pertama kehidupannya, Rahmadiari tidak pernah merasakan
kasih sayang seorang ayah.
Pak Muhdaro sering memandang anak itu dengan dingin.
Ia merasa kecewa setiap kali melihatnya.
Baginya, Rahmadiari adalah simbol kegagalan mendapatkan anak laki-laki.
Hari demi hari berlalu.
Rahmadiari tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria.
Ia selalu berusaha mendekati ayahnya.
Ketika berusia tiga tahun, ia pernah berlari kecil sambil membawa gambar
hasil coretannya.
"Ayah, lihat gambar Diah!"
Pak Muhdaro hanya melirik sekilas.
"Lepas dari sini."
Anak kecil itu terdiam.
Ia tidak mengerti apa kesalahannya.
Sulastri hanya bisa memeluk putrinya.
Semakin lama, kebencian Pak Muhdaro semakin menjadi-jadi.
Ia mulai sering bertengkar dengan istrinya.
"Kalau saja kau melahirkan anak laki-laki, hidupku tidak seperti
ini!" bentaknya suatu malam.
Sulastri menangis.
"Bagaimana mungkin aku menentukan jenis kelamin anak?"
Tetapi Pak Muhdaro tidak mau mendengar.
Puncaknya terjadi ketika Rahmadiari berusia lima tahun.
Pak Muhdaro mengajukan perceraian.
Seluruh keluarga terkejut.
"Aku tidak mau hidup dengan perempuan yang hanya memberiku anak
perempuan!" katanya.
Akhirnya perceraian itu terjadi.
Sulastri dan Rahmadiari meninggalkan rumah dengan hati hancur.
Mereka hanya membawa beberapa pakaian dan harapan untuk bertahan hidup.
Tak lama kemudian, Pak Muhdaro menikah lagi dengan seorang wanita bernama
Ratih.
Ia yakin pernikahan keduanya akan memberinya anak laki-laki.
Namun takdir memiliki rencana lain.
Setelah beberapa tahun menikah, tidak ada tanda-tanda kehamilan.
Pak Muhdaro mulai gelisah.
Mereka memeriksakan diri ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan membuatnya terpukul.
Dokter menjelaskan bahwa Ratih pernah menjalani operasi besar sebelum
menikah.
Rahimnya telah diangkat karena penyakit yang dideritanya bertahun-tahun
lalu.
Akibatnya, ia tidak mungkin memiliki anak.
Pak Muhdaro seperti tersambar petir.
"Jadi saya tidak akan pernah punya anak?" tanyanya.
Dokter mengangguk pelan.
Ratih menangis.
Namun Pak Muhdaro justru marah besar.
Ia merasa hidupnya dipermainkan.
Padahal ia sendiri yang meninggalkan anak kandungnya.
Sementara itu, kehidupan Sulastri dan Rahmadiari tidak mudah.
Mereka hidup dalam kemiskinan.
Sulastri bekerja mencuci pakaian warga.
Kadang menjadi buruh harian.
Kadang menjahit.
Apa saja dilakukan demi membiayai sekolah anaknya.
Rahmadiari melihat perjuangan ibunya setiap hari.
Karena itulah ia belajar dengan sungguh-sungguh.
Setiap malam ia belajar di bawah lampu minyak.
Saat teman-temannya bermain, ia membaca buku.
Saat teman-temannya tidur lebih awal, ia masih mengerjakan tugas.
Ibunya sering berkata,
"Nak, pendidikan adalah jalan yang bisa mengubah hidup kita."
Rahmadiari mengangguk.
"Aku akan belajar keras, Bu."
Ia menepati janjinya.
Di sekolah dasar, ia selalu menjadi juara kelas.
Di SMP, prestasinya semakin menonjol.
Di SMA, ia memenangkan berbagai lomba tingkat provinsi.
Berkat kecerdasannya, ia memperoleh beasiswa penuh ke universitas ternama.
Hari ketika ia diterima kuliah menjadi salah satu hari paling membahagiakan
bagi Sulastri.
Mereka berpelukan sambil menangis.
"Alhamdulillah, Nak."
"Ini semua karena Ibu."
Rahmadiari kemudian mengambil jurusan manajemen bisnis.
Ia belajar dengan sangat serius.
Selain kuliah, ia bekerja paruh waktu.
Kadang menjadi tutor.
Kadang menjadi penerjemah.
Kadang membantu proyek penelitian dosen.
Semua dilakukannya tanpa mengeluh.
Beberapa tahun kemudian, ia lulus sebagai mahasiswa terbaik.
Kariernya berkembang sangat cepat.
Ia diterima bekerja di perusahaan nasional besar.
Kecerdasannya membuat banyak atasan terkesan.
Satu per satu jabatan ia raih.
Manajer.
General manager.
Direktur operasional.
Hingga akhirnya pada usia yang masih relatif muda, Rahmadiari dipercaya
menjadi direktur utama sebuah perusahaan nasional yang memiliki ribuan
karyawan.
Berita tentang kesuksesannya dimuat di berbagai media.
Namanya dikenal banyak orang.
Ia menjadi inspirasi bagi generasi muda.
Namun di tengah kesuksesan itu, Rahmadiari tidak pernah melupakan ibunya.
Ia membelikan rumah yang nyaman.
Mengajak ibunya bepergian.
Memberikan kehidupan yang layak.
Sementara itu, kehidupan Pak Muhdaro berjalan ke arah yang berbeda.
Usaha yang selama ini dibanggakannya mulai mengalami kerugian.
Investasi yang dilakukannya gagal.
Ia terjerat utang.
Sedikit demi sedikit hartanya habis.
Rumah dijual.
Mobil disita.
Usaha bangkrut.
Ratih meninggal dunia karena sakit.
Pak Muhdaro benar-benar sendirian.
Orang-orang yang dulu mendekatinya perlahan menghilang.
Tidak ada lagi teman.
Tidak ada lagi keluarga yang peduli.
Ia mulai hidup berpindah-pindah.
Tidur di emperan toko.
Meminta belas kasihan orang lain.
Mencari makanan dari sisa-sisa yang dibuang.
Bertahun-tahun ia menjalani kehidupan sebagai gelandangan.
Wajahnya berubah.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya memutih.
Pakaiannya lusuh dan kotor.
Suatu siang yang sangat terik, sebuah mobil mewah berhenti di lampu merah.
Di dalamnya duduk Rahmadiari.
Ia baru saja menghadiri rapat penting.
Saat mobil bergerak perlahan, matanya menangkap sosok lelaki tua yang
tergeletak di pinggir jalan.
Tubuh lelaki itu tampak sangat kurus.
Bajunya compang-camping.
Wajahnya penuh debu.
Rahmadiari merasa ada sesuatu yang familiar.
Ia meminta sopir menghentikan kendaraan.
"Ada apa, Bu?" tanya sopir.
"Saya ingin melihat orang itu."
Rahmadiari turun.
Ia mendekat.
Ketika melihat wajah lelaki tersebut, jantungnya berdegup kencang.
Meski sangat tua dan berubah, ia mengenali sosok itu.
Pak Muhdaro.
Ayah kandungnya.
Lelaki yang membuangnya.
Lelaki yang tidak pernah menganggapnya sebagai anak.
Rahmadiari berdiri terpaku.
Perasaannya campur aduk.
Marah.
Sedih.
Kecewa.
Namun juga iba.
Ia melihat bibir lelaki itu kering.
Tubuhnya gemetar.
Sepertinya pingsan karena kelaparan.
Rahmadiari segera memanggil ambulans.
Pak Muhdaro dibawa ke rumah sakit terbaik.
Dokter segera melakukan pemeriksaan.
Kondisinya sangat buruk.
Kekurangan gizi.
Diabetes tidak terkontrol.
Gangguan ginjal.
Penyakit jantung.
Infeksi paru-paru.
Tubuhnya dipenuhi berbagai komplikasi.
Setelah beberapa jam, Pak Muhdaro sadar.
Ia membuka mata perlahan.
Ruangan rumah sakit tampak asing baginya.
Ketika melihat seorang wanita elegan duduk di samping tempat tidur, ia
kebingungan.
"Siapa Anda?" tanyanya lemah.
Rahmadiari menahan air mata.
"Bapak tidak mengenali saya?"
Pak Muhdaro menggeleng.
Rahmadiari tersenyum tipis.
"Saya Rahmadiari."
Tubuh Pak Muhdaro langsung membeku.
Matanya membelalak.
"Rah... Rahmadiari?"
"Iya, Pak."
Air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
"Tidak mungkin..."
Rahmadiari menggenggam tangannya.
"Saya anak yang dulu Bapak buang."
Pak Muhdaro menangis.
Tangis yang selama puluhan tahun tidak pernah keluar.
"Ampuni aku..."
Rahmadiari ikut menangis.
Ruangan itu dipenuhi keheningan yang menyakitkan.
Hari-hari berikutnya menjadi masa yang sangat emosional.
Pak Muhdaro mulai menceritakan semuanya.
Tentang kesombongannya.
Tentang kebenciannya kepada anak perempuan.
Tentang penyesalan yang selama ini menghantuinya.
"Aku bodoh, Nak."
Rahmadiari diam mendengarkan.
"Aku membuang permata demi mengejar bayangan."
Tangisnya pecah.
"Aku meninggalkan anak kandungku sendiri."
Rahmadiari menghapus air mata.
"Semua sudah terjadi, Pak."
Pak Muhdaro memandang putrinya.
"Kenapa kau masih menolongku?"
Rahmadiari tersenyum.
"Karena Ibu mengajarkan saya untuk tidak membalas kebencian dengan
kebencian."
Pak Muhdaro menangis semakin keras.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar memahami arti kasih
sayang.
Ia juga meminta bertemu Sulastri.
Mantan istrinya datang ke rumah sakit.
Ketika melihat wanita yang pernah disakitinya selama bertahun-tahun, Pak
Muhdaro menangis tanpa henti.
"Maafkan aku..."
Sulastri juga menitikkan air mata.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama."
Kalimat itu membuat Pak Muhdaro semakin terpukul.
Orang yang paling ia sakiti ternyata justru yang paling tulus memaafkannya.
Namun kondisi kesehatannya terus memburuk.
Dokter telah berusaha maksimal.
Berbagai tindakan dilakukan.
Tetapi kerusakan organ-organ tubuhnya sudah terlalu parah.
Suatu malam, dokter memanggil Rahmadiari.
"Kami minta keluarga bersiap."
Rahmadiari memahami maksudnya.
Ia masuk ke ruang perawatan.
Pak Muhdaro tampak sangat lemah.
Napasnya pendek-pendek.
Ia memandang putrinya.
"Nak..."
"Iya, Pak."
"Terima kasih sudah datang ke hidupku lagi."
Rahmadiari menggenggam tangannya.
"Jangan bicara dulu."
Pak Muhdaro tersenyum tipis.
"Ayah bangga padamu."
Kalimat sederhana itu membuat Rahmadiari menangis.
Itulah pertama kalinya dalam hidup ia mendengar pengakuan tersebut.
"Ayah bangga memiliki anak perempuan seperti kamu."
Air mata mengalir di kedua pipi mereka.
Pak Muhdaro menatap putrinya untuk terakhir kali.
"Laki-laki atau perempuan, anak tetaplah anugerah..."
Tak lama kemudian, monitor jantung mulai melemah.
Suara alat medis terdengar semakin pelan.
Pak Muhdaro mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang.
Rahmadiari memejamkan mata ayahnya sambil menangis.
Meski masa lalu mereka penuh luka, ia bersyukur ayahnya sempat menemukan
jalan pulang sebelum akhir hidupnya.
Beberapa hari kemudian, Pak Muhdaro dimakamkan dengan layak.
Rahmadiari mengurus seluruh prosesnya.
Setelah semua selesai, ia berdiri di depan makam itu bersama ibunya.
Angin sore berembus lembut.
Rahmadiari memandang batu nisan sederhana tersebut.
Ia tidak lagi menyimpan kebencian.
Yang tersisa hanyalah pelajaran hidup.
Bahwa kesombongan dapat menghancurkan seseorang.
Bahwa kasih sayang jauh lebih berharga daripada harta.
Dan bahwa anak perempuan yang pernah dianggap tidak berharga justru menjadi
cahaya terakhir yang menerangi kehidupan seorang ayah di penghujung usianya.
Sejak saat itu, Rahmadiari semakin aktif membantu pendidikan anak-anak perempuan
dari keluarga kurang mampu.
Ia mendirikan yayasan beasiswa atas nama ibunya.
Di setiap kesempatan, ia selalu menyampaikan pesan yang sama:
"Jangan pernah meremehkan seorang anak hanya karena jenis kelaminnya.
Masa depan tidak ditentukan oleh apakah ia laki-laki atau perempuan, tetapi
oleh kesempatan, kasih sayang, dan kerja keras yang diberikan kepadanya."
Dan pesan itu terus hidup, menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada
harta apa pun yang pernah dimiliki Pak Muhdaro.
Posting Komentar untuk "Cahaya Penerang Anak Terbuang"