Di negeri Ghana yang hangat dan
subur, di tepi Sungai Volta yang membentang panjang seperti pita perak,
berdirilah sebuah desa kecil bernama Abena. Desa itu terkenal karena ladang
kakaonya yang luas, pohon kelapa yang melambai ditiup angin, dan pasar
warna-warni yang selalu ramai dengan tawa serta nyanyian.
Penduduk Abena hidup damai. Mereka
bertani, menangkap ikan di sungai, dan membuat kain kente yang indah dengan
warna-warna cerah. Namun dari semua harta desa, ada satu benda yang paling dijaga:
Tambur Emas Volta,
sebuah genderang kuno yang disimpan di rumah adat.
Tambur itu dibuat dari kayu suci
odum dan dihiasi ukiran emas. Konon, tambur tersebut adalah hadiah dari roh
sungai kepada leluhur desa ratusan tahun silam. Selama tambur dimainkan dengan
hati tulus saat upacara panen, Sungai Volta akan tetap memberi air jernih, ikan
melimpah, dan tanah subur.
Anak Penenun yang Bermimpi
Di desa itu tinggal seorang gadis
bernama Efua,
berusia tiga belas tahun. Ia tinggal bersama ibunya, seorang penenun kain
kente, dan kakaknya yang bekerja sebagai nelayan.
Efua suka membantu ibunya menenun,
tetapi diam-diam ia memiliki satu impian besar: belajar memainkan Tambur Emas
Volta.
Setiap festival panen, ia berdiri
paling depan menyaksikan tetua adat menabuh tambur dengan irama megah yang
menggema hingga ke ladang-ladang.
“Suatu hari aku ingin memainkan
tambur itu,” katanya pada ibunya.
Ibunya tersenyum.
“Tambur itu hanya dimainkan oleh
mereka yang dipilih roh sungai.”
Meski begitu, Efua tidak pernah
berhenti berharap.
Tahun Tanpa Irama
Suatu tahun, sesuatu yang aneh
terjadi.
Saat festival panen tiba, kepala
adat mengangkat pemukul tambur dan mulai menabuh.
Namun tak ada suara.
Tambur emas itu diam.
Ia mencoba lagi—tetap sunyi.
Seluruh desa terdiam.
Pada hari-hari berikutnya, Sungai
Volta mulai surut. Airnya keruh. Ikan-ikan semakin sedikit.
Ladang kakao mulai layu.
Para tetua berkumpul dalam
kecemasan.
Ramalan Nenek Yaa
Di desa Abena tinggal seorang
perempuan tua bijaksana bernama Nenek
Yaa, penjaga kisah leluhur.
Setelah memeriksa tambur, ia
berkata:
“Suara tambur telah hilang karena
Jantung Irama dicuri.”
“Apa itu Jantung Irama?” tanya
warga.
“Batu cahaya kecil di dalam
tambur, sumber nyanyiannya.”
“Siapa yang mengambilnya?”
Nenek Yaa menutup mata sejenak.
“Bayangan sungai membawanya ke
Hutan Asenema.”
Semua warga saling pandang. Hutan
Asenema terkenal lebat dan penuh teka-teki.
Tak seorang pun ingin pergi.
Saat itulah seekor burung rangkong
hinggap di atap rumah adat dan menatap Efua.
Nenek Yaa berkata pelan:
“Roh sungai telah memilih
utusannya.”
Perjalanan ke Hutan Asenema
Efua menerima tugas itu dengan
berani.
Ibunya memberinya kain kente kecil
sebagai pelindung.
“Ini tenunan keluarga kita.
Bawalah, agar kau ingat dari mana kau berasal.”
Dengan bekal pisang kering, labu
air, dan tongkat kayu, Efua memulai perjalanan.
Ia melewati ladang kakao,
menyeberangi jembatan bambu, lalu masuk ke Hutan Asenema.
Di dalam hutan, cahaya matahari
hanya masuk sedikit di sela daun.
Burung-burung bernyanyi aneh.
Angin terdengar seperti bisikan.
Ujian Pertama: Kejujuran
Di tengah hutan, Efua menemukan
kolam jernih.
Di dasar kolam tampak kalung emas
indah.
Sebuah suara berkata:
“Ambillah jika kau mau. Tak ada
yang akan tahu.”
Efua menggeleng.
“Aku datang bukan untuk mencari
harta.”
Air kolam berputar, lalu muncul
sebuah batu biru kecil.
“Ini hadiah untuk kejujuranmu,”
kata suara itu.
Ujian Kedua: Kebaikan Hati
Lebih jauh di hutan, Efua
menemukan seekor kura-kura besar terbalik di jalan.
Meski lelah, ia berhenti dan
menolong membalikkan kura-kura itu.
Kura-kura tersebut berubah menjadi
roh hutan.
“Karena kau menolong tanpa
diminta, aku akan menunjukkan jalan.”
Roh itu membuka jalur rahasia
menuju pusat hutan.
Ujian Ketiga: Kesabaran
Di pusat Hutan Asenema berdiri
pohon raksasa dengan akar melingkar seperti dinding.
Di tengah akar terdapat pintu batu
tertutup.
Tulisan di atasnya berbunyi:
“Hanya yang sabar mendengar irama
alam.”
Efua duduk menunggu.
Satu jam. Dua jam. Hingga malam
turun.
Saat ia tetap tenang tanpa marah,
pintu batu terbuka perlahan.
Penjaga Jantung Irama
Di balik pintu, Efua masuk ke gua
bercahaya emas.
Di sana, Jantung Irama—batu
bercahaya kuning keemasan—melayang di udara.
Menjaganya adalah makhluk tinggi
berjubah air hitam.
“Aku Penjaga Bayangan Sungai,”
katanya.
“Mengapa kau mengambil batu itu?”
tanya Efua.
Penjaga menjawab:
“Karena manusia mulai lupa
bersyukur. Mereka mengambil terlalu banyak ikan, menebang pohon di tepi sungai,
dan mencemari air.”
Efua menunduk.
Ia tahu itu benar.
Beberapa nelayan memang mulai
menangkap ikan berlebihan, bahkan saat musim bertelur.
Janji untuk Sungai
“Aku akan membawa pesanmu,” kata
Efua.
“Desaku akan berubah.”
Penjaga Bayangan Sungai menatapnya
lama.
“Jika janjimu tulus, bawalah batu
ini pulang.”
Jantung Irama turun perlahan ke
tangan Efua.
Pulang ke Abena
Efua kembali ke desa secepat
mungkin.
Saat tiba, sungai tinggal aliran
kecil.
Warga berkumpul di rumah adat.
Nenek Yaa membuka Tambur Emas
Volta, dan Efua meletakkan Jantung Irama ke dalamnya.
Namun tambur tetap diam.
“Janji harus ditepati dulu,” kata
Nenek Yaa.
Perubahan Desa
Keesokan hari, kepala desa
mengumpulkan seluruh warga.
Mulai hari itu:
· Menangkap ikan dibatasi sesuai musim.
· Pohon di tepi sungai harus ditanam kembali.
· Sampah dilarang dibuang ke sungai.
· Setiap panen harus diawali upacara syukur.
Semua warga setuju.
Irama Kembali Bernyanyi
Saat matahari terbenam, kepala
adat menyerahkan pemukul tambur kepada Efua.
“Kau yang membawa jantungnya
pulang. Kau pantas memainkannya.”
Dengan tangan gemetar, Efua
memukul tambur.
BUMM…
Suara dalam menggema ke seluruh
desa.
BUMM… BUMM…
Sungai Volta berkilau.
Airnya mulai naik.
Ikan-ikan melompat di permukaan.
Angin membawa aroma hujan.
Malam itu hujan turun deras
membasahi tanah Ghana.
Penjaga Tambur Baru
Sejak hari itu, Efua diangkat
menjadi penjaga muda Tambur Emas Volta.
Ia belajar memainkan irama untuk
panen, hujan, dan upacara syukur.
Desa Abena kembali makmur.
Ladang kakao hijau kembali.
Sungai Volta jernih dan penuh
ikan.
Warisan yang Abadi
Bertahun-tahun kemudian, Efua
menjadi tetua yang dihormati.
Ia selalu berkata kepada
anak-anak:
“Alam memberi lagu kepada mereka
yang mau mendengar.”
Konon, hingga kini di beberapa
desa Ghana, ketika malam tenang di tepi Sungai Volta, orang-orang masih percaya
mereka bisa mendengar gema Tambur Emas dari kejauhan.
Dan bila suara genderang terdengar
bersamaan dengan angin lembut dari sungai, para tetua akan berkata:
“Itu irama Efua… menjaga janji
antara manusia dan alam.”
Posting Komentar untuk "Tambur Emas Sungai Volta (Cerita Rakyat dari Ghana)"