Di ujung Pulau Kalimantan, tepatnya di wilayah yang jarang tersentuh oleh hiruk-pikuk modernitas, terdapat sebuah kisah yang terus hidup dari generasi ke generasi. Kisah itu bukan sekadar legenda biasa. Ia adalah cerita tentang sebuah kota yang diyakini ada, namun tak semua orang bisa melihatnya. Kota itu bernama Saranjana.
Bagi sebagian orang, Saranjana hanyalah mitos yang diceritakan untuk
menakut-nakuti anak kecil. Namun bagi yang pernah “hampir” menemukannya,
Saranjana adalah misteri yang nyata.
Awal Perjalanan
Arga, seorang penulis muda yang gemar mengeksplorasi cerita-cerita
misteri, mendengar tentang Saranjana dari seorang temannya yang berasal dari
Kalimantan Selatan. Rasa penasaran yang besar membuatnya memutuskan untuk
datang langsung ke sana.
“Ada kota yang tidak bisa dilihat sembarang orang,” kata temannya suatu
malam.
“Kalau kamu beruntung, kamu bisa melihatnya. Tapi kalau tidak… kamu hanya akan
melihat hutan biasa.”
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Arga. Ia merasa, ini bukan
sekadar cerita biasa.
Beberapa minggu kemudian, Arga pun tiba di sebuah desa kecil yang
menjadi titik awal cerita tentang Saranjana. Desa itu tampak tenang, dengan
rumah-rumah kayu sederhana dan jalan tanah yang membentang.
Namun ada satu hal yang aneh: suasana desa itu terasa terlalu sunyi.
Pertemuan dengan
Penjaga Cerita
Di desa tersebut, Arga bertemu dengan seorang lelaki tua bernama Pak
Rahman. Wajahnya penuh keriput, namun matanya tajam dan seolah menyimpan banyak
cerita.
“Kamu datang untuk mencari Saranjana, ya?” tanya Pak Rahman tanpa
basa-basi.
Arga terkejut. Ia belum sempat menjelaskan maksud kedatangannya.
“Iya, Pak… bagaimana Bapak tahu?”
Pak Rahman tersenyum tipis.
“Orang luar yang datang ke sini biasanya cuma dua tujuan: penelitian… atau
mencari Saranjana.”
Malam itu, di beranda rumah kayu yang diterangi lampu minyak, Pak Rahman
mulai bercerita.
Kota yang Berbeda
Dunia
“Saranjana bukan kota biasa,” ujar Pak Rahman pelan.
“Itu kota yang ada… tapi tidak selalu bisa dilihat.”
Menurut cerita turun-temurun, Saranjana adalah kota yang sangat maju.
Bangunannya megah, jalannya rapi, bahkan konon lebih modern daripada kota-kota
besar di Indonesia.
Namun anehnya, kota itu tidak tercatat di peta mana pun.
“Kenapa bisa begitu, Pak?” tanya Arga.
“Karena Saranjana berada di lapisan dunia yang berbeda,” jawab Pak
Rahman.
“Dia bisa berdampingan dengan dunia kita, tapi tidak selalu terlihat.”
Syarat untuk
Melihat Saranjana
Pak Rahman menjelaskan bahwa tidak semua orang bisa melihat Saranjana.
Ada “syarat” yang tidak tertulis.
“Kamu tidak bisa mencarinya dengan niat sembarangan,” katanya.
“Kalau kamu datang hanya untuk membuktikan atau mengejek… kamu tidak akan
melihat apa-apa.”
Arga terdiam. Ia mulai berpikir tentang niatnya sendiri.
Awalnya, ia datang hanya untuk menulis cerita sensasional. Namun kini,
rasa hormat dan penasaran yang lebih dalam mulai tumbuh.
“Kalau begitu, bagaimana cara masuk ke sana, Pak?”
Pak Rahman menatap jauh ke arah hutan.
“Kadang… mereka yang memilihmu.”
Hutan yang
Menyembunyikan Rahasia
Keesokan paginya, Arga memutuskan untuk menjelajahi hutan yang diyakini
sebagai “gerbang” menuju Saranjana.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin sempit.
Pepohonan tinggi menjulang, menutupi cahaya matahari.
Suasana menjadi dingin dan sunyi.
Beberapa jam berjalan, Arga mulai merasa ada yang aneh. Ia merasa
seperti diawasi.
Namun setiap kali menoleh, tidak ada siapa pun.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di kejauhan.
Sebuah jalan.
Jalan yang Tidak
Seharusnya Ada
Jalan itu berbeda dari jalan setapak yang ia lalui. Permukaannya halus,
seperti aspal baru. Lebar dan rapi.
“Ini… tidak mungkin,” gumam Arga.
Ia melangkah mendekat.
Begitu kakinya menginjak jalan tersebut, suasana di sekitarnya berubah.
Suara burung menghilang. Angin terasa berhenti.
Dan perlahan…
di kejauhan, muncul bayangan bangunan.
Sekilas Saranjana
Bangunan itu semakin jelas. Gedung-gedung tinggi, lampu-lampu yang
berkilau, dan jalan raya yang luas.
Arga terpaku.
“Itu… Saranjana?”
Jantungnya berdegup kencang. Ia melangkah lebih jauh.
Namun tiba-tiba, suara seseorang terdengar di belakangnya.
“Belum waktunya.”
Arga menoleh dengan cepat.
Seorang pria berdiri di sana. Pakaiannya rapi, berbeda dari warga desa.
Tatapannya tenang, namun penuh wibawa.
“Siapa Anda?” tanya Arga.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.
“Kamu belum siap.”
Batas yang Tak
Terlihat
Arga mencoba melangkah lagi ke arah kota tersebut.
Namun kakinya terasa berat.
Seolah ada sesuatu yang menahannya.
“Kenapa saya tidak bisa maju?” tanyanya panik.
Pria itu menjawab dengan tenang,
“Karena setiap dunia punya batasnya.”
Arga menatap kota itu dengan penuh keinginan. Ia merasa sangat dekat…
tapi juga sangat jauh.
“Apakah saya bisa kembali lagi?”
Pria itu mengangguk.
“Jika niatmu berubah.”
Kembali ke Dunia
Nyata
Dalam sekejap, semuanya menghilang.
Jalan aspal itu lenyap. Gedung-gedung itu tidak terlihat lagi.
Yang tersisa hanyalah hutan.
Arga terjatuh ke tanah, napasnya terengah-engah.
Ia tidak tahu berapa lama ia berada di sana.
Dengan langkah lemah, ia kembali ke desa.
Pengakuan
Setibanya di desa, Arga langsung menemui Pak Rahman.
“Saya melihatnya, Pak… saya benar-benar melihatnya!”
Pak Rahman hanya mengangguk pelan.
“Apa yang kamu rasakan?”
Arga terdiam sejenak.
“Awalnya saya ingin membuktikan bahwa itu nyata… tapi sekarang saya
merasa… saya harus menghormatinya.”
Pak Rahman tersenyum.
“Itu langkah awal.”
Makna Saranjana
Malam itu, Arga duduk sendirian, menatap langit penuh bintang.
Ia menyadari sesuatu.
Saranjana bukan sekadar kota ghaib. Ia adalah simbol.
Simbol bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan dengan logika.
Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami dengan hati.
Keputusan
Keesokan harinya, Arga memutuskan untuk pulang.
Namun kali ini, ia tidak membawa cerita sensasional.
Ia membawa pengalaman.
Ia menulis tentang Saranjana, bukan sebagai tempat yang harus
dibuktikan, tetapi sebagai misteri yang harus dihargai.
Epilog
Beberapa bulan setelah itu, tulisan Arga mulai dikenal. Banyak orang
tertarik dengan kisah Saranjana.
Namun Arga selalu mengatakan satu hal:
“Saranjana bukan tempat yang bisa kamu cari. Tapi mungkin… suatu hari,
dia akan memperlihatkan dirinya kepadamu.”
Dan di suatu tempat, di antara hutan Kalimantan yang sunyi…
Saranjana tetap ada.
Menunggu.
Posting Komentar untuk "Saranjana: Kota yang Tak Pernah Hilang"