Di jantung hutan hujan Gabon yang lebat, tempat pepohonan menjulang tinggi menyentuh kabut pagi dan sungai-sungai jernih berliku seperti pita perak, hiduplah sebuah suku kecil bernama Suku Mibala. Mereka tinggal di tepi Sungai Ogooué, menggantungkan hidup dari berburu, menangkap ikan, dan memetik buah-buahan hutan.
Suku Mibala
dikenal sebagai penjaga harmoni alam. Mereka percaya bahwa setiap pohon
memiliki roh, setiap batu menyimpan cerita, dan setiap hembusan angin membawa
pesan dari leluhur. Di tengah hutan mereka berdiri sebuah pohon raksasa yang
sangat tua, disebut Mokanda, Pohon Nyanyi.
Pohon Mokanda
berbeda dari pohon lain. Batangnya sebesar rumah, akarnya menjalar seperti ular
raksasa, dan daunnya berkilau hijau keemasan saat terkena cahaya matahari. Pada
malam bulan purnama, pohon itu mengeluarkan suara seperti nyanyian
lembut—melodi indah yang dapat terdengar hingga ke desa.
Orang-orang
Mibala percaya bahwa lagu Mokanda adalah suara roh penjaga hutan. Selama pohon
itu bernyanyi, desa mereka akan aman, panen melimpah, dan sungai tetap penuh
ikan.
Anak
Bernama Kito
Di desa itu
tinggal seorang anak laki-laki bernama Kito. Ia berusia dua belas tahun,
cerdas, pemberani, tetapi juga sangat penasaran. Tidak seperti anak-anak lain
yang takut memasuki bagian terdalam hutan, Kito justru senang menjelajahinya.
Neneknya,
Mama Sira, sering memperingatkan:
“Jangan
pernah mendekati Mokanda sendirian. Pohon itu hanya berbicara kepada mereka
yang berhati tulus.”
Namun
larangan itu justru membuat rasa ingin tahu Kito semakin besar.
Suatu malam,
saat bulan purnama bersinar bulat sempurna, Kito diam-diam meninggalkan
pondoknya. Ia berjalan melewati semak-semak, menyeberangi sungai kecil, dan
akhirnya tiba di hadapan Mokanda.
Untuk pertama
kalinya ia melihat pohon itu dari dekat.
Daun-daunnya
bergetar tanpa angin. Batangnya memancarkan cahaya samar kehijauan. Dan benar
saja—nyanyian itu terdengar jelas, merdu, dan penuh kedamaian.
Kito
terpukau.
Lalu,
tiba-tiba nyanyian berhenti.
Dari celah
batang pohon muncul cahaya terang, dan sebuah suara dalam namun lembut berkata:
“Kito…
mengapa kau datang?”
Anak itu
terkejut. Lututnya gemetar.
“Aku… aku
hanya ingin tahu siapa yang bernyanyi,” jawabnya.
“Aku
Mokanda,” kata suara itu. “Penjaga keseimbangan hutan ini.”
Rahasia
Hutan yang Terancam
Mokanda lalu
mengungkapkan rahasia besar.
Jauh di
utara, sekelompok orang asing datang membawa kapak besi dan api. Mereka
menebangi pohon tanpa izin, merusak sarang burung, dan mencemari sungai. Jika
mereka mencapai wilayah Mokanda, seluruh hutan akan kehilangan keseimbangannya.
“Jika aku
tumbang,” kata Mokanda, “laguku akan hilang, dan bersama itu hilang pula
perlindungan untuk desamu.”
Kito merasa
takut.
“Apa yang
bisa kulakukan?”
“Kau harus
membawa tiga tanda perlindungan,” jawab Mokanda. “Air dari Mata Air Bulan, batu
dari Bukit Gema, dan bulu burung Ekanga.”
“Itu sangat
jauh,” kata Kito.
“Benar,”
jawab Mokanda. “Tetapi hanya hati yang berani yang dapat menyelamatkan hutan.”
Perjalanan
Pertama: Mata Air Bulan
Pagi
berikutnya, Kito menceritakan semuanya kepada neneknya.
Mama Sira
tidak marah. Ia hanya mengangguk pelan.
“Sudah
waktunya,” katanya. “Aku akan memberimu kendi leluhur.”
Dengan
membawa kendi kecil dari tanah liat, Kito memulai perjalanan menuju Mata Air
Bulan, yang terletak di gua batu kapur jauh di timur.
Perjalanan
itu berat. Ia harus melewati rawa-rawa, mendaki akar pohon besar, dan
menghindari kawanan monyet liar.
Ketika sampai
di gua, ia menemukan mata air bercahaya biru. Namun seekor buaya putih menjaga
pintu masuk.
“Siapa yang
datang mengambil air suci?” geram buaya.
“Kito dari
Mibala. Aku datang untuk menyelamatkan hutan.”
Buaya
menatapnya lama.
“Jika niatmu
benar, ambillah tanpa rasa takut.”
Kito
melangkah maju dan mengisi kendi. Air itu berkilau seperti cahaya bulan.
Perjalanan
Kedua: Bukit Gema
Selanjutnya
Kito menuju Bukit Gema, tempat bebatuan dapat berbicara bila disentuh.
Di puncak
bukit ia melihat batu hitam bundar bercahaya.
Namun batu
itu dijaga seekor gorila besar.
“Banyak orang
datang untuk mengambil batu ini demi kekuasaan,” kata gorila. “Mengapa kau
pantas memilikinya?”
“Bukan untuk
diriku,” jawab Kito. “Untuk hutan, untuk semua makhluk.”
Gorila
tersenyum tipis, lalu menyingkir.
Kito
mengambil batu itu. Saat disentuh, batu mengeluarkan suara lembut seperti
denting lonceng.
Perjalanan
Ketiga: Burung Ekanga
Tugas
terakhir paling sulit: mendapatkan bulu burung Ekanga, burung langka yang hanya
muncul saat matahari terbit di Hutan Kabut.
Selama tiga
hari Kito menunggu di antara pepohonan.
Pada hari
keempat, seekor burung besar berbulu emas turun ke cabang rendah.
Kito mendekat
perlahan.
“Aku tak akan
menangkapmu,” katanya. “Aku hanya memohon satu helai bulumu.”
Burung Ekanga
memandang mata Kito, lalu menjatuhkan satu bulu emas panjang.
Ancaman
Datang
Saat Kito
kembali ke desa, asap hitam terlihat di kejauhan.
Para penebang
telah datang.
Mereka
menebang pohon-pohon di pinggir hutan, dan suara kapak terdengar memekakkan
telinga.
Kito berlari
menuju Mokanda.
“Aku membawa
semuanya!”
Ia menuangkan
Air Bulan ke akar pohon, meletakkan Batu Gema di batangnya, dan menyelipkan
bulu Ekanga di celah kulit pohon.
Seketika
cahaya hijau menyala terang.
Nyanyian
Mokanda menggema lebih keras dari sebelumnya.
Tanah
bergetar.
Akar-akar
pohon bangkit dari tanah, membentuk dinding alami. Angin besar berputar,
memadamkan api para penebang. Burung-burung hutan beterbangan memenuhi langit.
Para penebang
ketakutan dan melarikan diri.
Lagu
Baru untuk Desa
Sejak hari
itu, nyanyian Mokanda berubah.
Kini
melodinya lebih kuat, lebih hangat, dan terdengar setiap malam, bukan hanya
saat bulan purnama.
Desa Mibala
kembali damai.
Ikan kembali
banyak di sungai. Pohon buah berbuah lebat. Hutan menjadi lebih hijau dari
sebelumnya.
Kito
dipandang sebagai pahlawan, tetapi ia tetap rendah hati.
“Aku hanya
mendengarkan suara hutan,” katanya.
Mama Sira
tersenyum bangga.
Warisan
Mokanda
Tahun-tahun
berlalu. Kito tumbuh dewasa dan menjadi penjaga hutan baru bagi sukunya.
Ia
mengajarkan anak-anak desa:
“Jangan
pernah mengambil lebih dari yang kalian butuhkan. Hutan memberi hidup, tetapi
juga harus dijaga.”
Dan hingga
kini, menurut cerita rakyat Gabon, jika seseorang berjalan ke pedalaman hutan
saat malam bulan purnama dan mendengarkan dengan hati tenang, mereka masih bisa
mendengar nyanyian Mokanda.
Konon, suara
itu membawa pesan yang sama dari generasi ke generasi:
“Selama
manusia menjaga alam, alam akan menjaga manusia.”
Posting Komentar untuk "Pohon Nyanyi dari Hutan Gabon (Cerita Rakyat dari Gabon)"