Pada masa yang sangat lama, ketika desa-desa di daerah itu masih kecil
dan jalan-jalan belum banyak dibangun, hiduplah seorang pemuda bernama Jaka
Wira. Ia tinggal di sebuah desa sederhana tidak jauh dari pantai.
Jaka Wira adalah anak seorang petani padi. Ayahnya bekerja keras di
sawah, sementara ibunya mengurus rumah serta membuat makanan untuk dijual di
pasar kecil desa.
Walaupun hidup mereka sederhana, keluarga itu selalu dikenal sebagai
keluarga yang jujur dan suka menolong.
Sejak kecil, Jaka Wira sudah terbiasa membantu orang tuanya. Pagi hari
ia membantu ayahnya di sawah, siang hari membantu ibunya membawa hasil panen ke
pasar desa.
Namun desa tempat mereka tinggal memiliki satu masalah besar.
Saat musim kemarau datang, air menjadi sangat sulit ditemukan. Sungai
kecil yang biasanya mengalir di dekat desa mulai menyusut. Sumur-sumur warga
menjadi dangkal, bahkan beberapa di antaranya benar-benar kering.
Setiap pagi, warga harus berjalan cukup jauh menuju sebuah mata air
kecil di kaki bukit untuk mengambil air.
Perjalanan itu melelahkan, terutama bagi orang tua dan anak-anak.
Suatu pagi, ibu Jaka Wira mengeluh pelan.
“Air di tempayan hampir habis,” katanya.
Jaka Wira melihat ibunya yang tampak lelah.
“Ibu istirahat saja. Aku yang akan mengambil air hari ini.”
Ibunya tersenyum.
“Kamu memang anak yang baik, Wira.”
Jaka Wira kemudian membawa dua tempayan besar dan berjalan menuju bukit
tempat mata air itu berada.
Perjalanan menuju bukit cukup panjang. Jalan setapak melewati sawah
kering dan pepohonan yang mulai meranggas karena musim kemarau.
Ketika Jaka Wira sampai di sana, ia melihat banyak warga desa sudah
lebih dulu mengantre.
Mata air itu kecil sekali. Airnya hanya menetes perlahan dari celah
batu.
Beberapa orang harus menunggu lama hingga tempayan mereka terisi.
Jaka Wira duduk di bawah pohon besar sambil menunggu gilirannya.
Saat matahari mulai condong ke barat, ia baru berhasil mengisi satu
tempayan.
Namun ketika ia hendak mengisi tempayan kedua, aliran air tiba-tiba
berhenti.
Warga yang masih menunggu saling memandang dengan wajah cemas.
“Airnya habis,” kata seorang lelaki tua.
Sebagian orang mulai pulang dengan tempayan setengah kosong.
Jaka Wira merasa sedih. Ia tahu air yang dibawanya tidak akan cukup
untuk keluarganya.
Akhirnya ia memutuskan berjalan lebih jauh ke dalam hutan di sekitar
bukit, berharap menemukan sumber air lain.
Ia berjalan cukup lama melewati semak dan pepohonan tinggi.
Saat matahari hampir tenggelam, ia mendengar suara gemericik air.
Jaka Wira berhenti.
Ia mengikuti suara itu hingga menemukan sebuah tempat yang sangat indah.
Di tengah pepohonan, terdapat sebuah sendang kecil dengan air yang
sangat jernih. Airnya memantulkan cahaya matahari senja sehingga tampak
berkilau seperti kaca.
Jaka Wira tertegun.
Ia belum pernah melihat sendang itu sebelumnya.
Dengan hati-hati ia mendekat dan mencelupkan tangannya ke air.
Airnya sangat sejuk.
“Alhamdulillah,” gumamnya.
Ia segera mengisi tempayannya.
Namun ketika ia hendak pergi, tiba-tiba terdengar suara lembut.
“Gunakan air itu dengan bijak.”
Jaka Wira terkejut.
Ia menoleh ke sekeliling, tetapi tidak melihat siapa pun.
“Siapa di sana?” tanyanya.
Beberapa saat kemudian, dari balik pepohonan muncul seorang perempuan
tua berpakaian sederhana.
Rambutnya putih panjang, tetapi wajahnya tampak tenang.
“Aku penjaga tempat ini,” katanya.
Jaka Wira menunduk hormat.
“Maafkan saya, Nenek. Saya hanya mencari air untuk keluarga saya.”
Perempuan tua itu memandangnya sejenak.
“Kamu boleh mengambil air dari sendang ini,” katanya.
“Benarkah?”
“Ya. Tapi ingat satu hal.”
“Apa itu, Nek?”
“Air adalah anugerah. Jangan pernah mengambilnya dengan serakah.”
Jaka Wira mengangguk.
“Saya mengerti.”
Ia kemudian pulang membawa dua tempayan penuh.
Ketika sampai di rumah, ibunya sangat terkejut.
“Dari mana kamu mendapat air sebanyak ini?”
Jaka Wira menceritakan sendang yang ia temukan di hutan.
Keesokan harinya, ia kembali ke sendang itu.
Perempuan tua itu muncul lagi.
Mereka mulai sering berbincang.
Perempuan tua itu tidak pernah menyebut namanya. Ia hanya berkata bahwa
ia menjaga sendang tersebut agar tetap bersih dan tidak disalahgunakan.
Hari demi hari, Jaka Wira mengambil air secukupnya untuk keluarganya.
Ia juga selalu membersihkan daun-daun yang jatuh ke dalam sendang.
Namun suatu hari, seorang pedagang yang lewat melihat Jaka Wira membawa
air jernih.
Pedagang itu penasaran.
Ia diam-diam mengikuti Jaka Wira ke hutan.
Akhirnya ia menemukan sendang tersebut.
Matanya berbinar.
“Air ini sangat jernih,” katanya. “Jika aku membawa air ini ke pasar
kota, pasti banyak orang mau membelinya.”
Keesokan harinya ia datang membawa banyak tempayan.
Ia mengambil air sebanyak mungkin.
Namun tiba-tiba langit menjadi gelap.
Angin kencang bertiup dari arah bukit.
Air sendang mulai berputar seperti pusaran kecil.
Pedagang itu ketakutan dan segera melarikan diri.
Ketika Jaka Wira datang sore itu, ia melihat perempuan tua berdiri di
tepi sendang.
Wajahnya tampak sedih.
“Manusia sering lupa bahwa alam harus dihormati,” katanya.
Jaka Wira menunduk.
“Saya tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang tempat ini.”
“Aku tahu,” jawab perempuan tua itu lembut.
“Kamu anak yang baik.”
Namun sejak hari itu, air sendang tidak lagi sebanyak sebelumnya.
Jaka Wira merasa bersalah walaupun ia tidak melakukan kesalahan.
Ia kemudian berbicara dengan kepala desa tentang pentingnya menjaga
hutan dan sumber air.
Kepala desa mendengarkan dengan serius.
Akhirnya desa membuat aturan baru.
Warga tidak boleh menebang pohon di sekitar bukit tanpa izin. Mereka
juga mulai menanam pohon baru di lereng bukit.
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang menakjubkan terjadi.
Beberapa mata air kecil mulai muncul di sekitar desa.
Sumur warga mulai terisi kembali.
Air tidak lagi menjadi masalah besar seperti sebelumnya.
Suatu sore, Jaka Wira kembali ke sendang untuk mengucapkan terima kasih
kepada perempuan tua itu.
Namun kali ini ia tidak menemukannya.
Di tepi sendang hanya ada bunga putih yang mengapung di permukaan air.
Air sendang tampak sangat tenang.
Jaka Wira tersenyum.
Ia merasa perempuan tua itu masih menjaga tempat tersebut, walaupun
tidak lagi terlihat.
Sejak saat itu, warga desa menyebut tempat itu Sendang Cahaya
karena airnya selalu tampak berkilau saat terkena sinar matahari.
Penduduk desa sering datang ke sana untuk mengambil air, tetapi mereka
selalu menjaga kebersihannya.
Mereka percaya bahwa sendang itu adalah hadiah dari alam yang harus
dirawat bersama.
Jaka Wira sendiri tumbuh menjadi orang yang dihormati di desa.
Ia selalu mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga hutan, air,
dan tanah.
Ia sering berkata kepada mereka,
“Jika kita menjaga alam dengan baik, alam akan menjaga kehidupan kita.”
Dan hingga kini, orang-orang di daerah Cilacap masih percaya bahwa di
beberapa hutan tua terdapat sendang-sendang kecil yang muncul sebagai tanda
bahwa alam masih bersahabat dengan manusia yang menghormatinya.
Pesan moral cerita:
- Air
adalah sumber kehidupan yang harus dijaga.
- Keserakahan
dapat merusak keseimbangan alam.
- Kepedulian
terhadap lingkungan akan membawa manfaat bagi banyak orang.
Posting Komentar untuk "Sendang Cahaya di Tanah Cilacap"