Di wilayah pegunungan yang hijau di daerah Bolaang Mongondow, terdapat sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat dan sungai yang jernih. Desa itu bernama Motoboi. Penduduknya hidup sederhana sebagai petani, pemburu, dan pengumpul hasil hutan.
Di tepi hutan yang paling tua, berdiri sebuah batu
raksasa yang bentuknya sangat aneh. Batu itu tinggi hampir seperti rumah
panggung dan memiliki lekukan yang menyerupai wajah manusia yang sedang
memandang ke arah sungai.
Penduduk desa percaya batu itu bukan batu biasa.
Mereka menyebutnya Batu Penjaga Hutan.
Menurut cerita turun-temurun, batu itu dahulu
adalah makhluk raksasa yang pernah menyelamatkan desa dari bencana banjir
besar.
Desa yang
Hidup Bersama Alam
Pada zaman dahulu, desa Motoboi adalah desa yang
sangat damai. Penduduknya menghormati alam dan percaya bahwa hutan adalah rumah
bagi banyak roh penjaga.
Setiap tahun mereka mengadakan upacara kecil untuk
berterima kasih kepada hutan yang memberi mereka kayu, buah-buahan, dan hewan
buruan.
Di desa itu hidup seorang pemuda bernama Dumolud.
Ia dikenal sebagai pemuda yang rajin dan baik hati. Dumolud sering membantu
orang tua di ladang dan juga membantu para tetua desa menjaga hutan agar tidak
ditebang sembarangan.
Suatu hari, ketika Dumolud sedang berburu di dalam
hutan, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Di tengah lembah hutan berdiri seorang raksasa.
Tubuhnya sangat besar, lebih tinggi dari pohon
kelapa. Rambutnya panjang seperti akar pohon yang menjuntai. Namun wajahnya
terlihat tenang dan tidak menakutkan.
Dumolud sempat gemetar.
Namun raksasa itu hanya menundukkan kepala dan
berkata dengan suara yang dalam,
“Jangan takut, manusia kecil. Aku penjaga hutan
ini.”
Dumolud menelan ludah.
“Aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya.
Raksasa itu tersenyum sedikit.
“Aku tahu. Kalian orang desa selalu menghormati
hutan. Karena itu aku menjaga tempat ini.”
Sejak hari itu Dumolud mengetahui bahwa raksasa itu
bernama Mokodoludut, penjaga tua hutan yang sudah hidup selama ratusan
tahun.
Penjaga
Hutan yang Bijaksana
Mokodoludut bukan makhluk jahat seperti raksasa
dalam cerita menakutkan.
Ia justru melindungi hutan dari orang-orang yang
ingin merusaknya.
Jika ada pemburu serakah yang membunuh terlalu
banyak hewan, ia akan membuat mereka tersesat sampai mereka menyesal.
Jika ada orang yang menebang pohon sembarangan, ia
akan menumbangkan pohon lain di depan mereka sebagai peringatan.
Namun kepada penduduk desa Motoboi, ia selalu
bersikap baik.
Kadang-kadang, pada malam bulan purnama, ia berdiri
di tepi hutan dan memandang desa dari kejauhan seperti seorang penjaga yang
mengawasi rumahnya.
Dumolud beberapa kali bertemu dengannya dan
perlahan mereka menjadi sahabat.
Suatu hari Dumolud bertanya,
“Wahai penjaga hutan, mengapa engkau melindungi
desa kami?”
Mokodoludut menjawab dengan tenang,
“Karena kalian hidup bersama hutan, bukan
melawannya. Selama kalian menjaga alam, aku akan menjaga kalian.”
Kata-kata itu selalu diingat Dumolud.
Namun tidak semua orang memahami pentingnya menjaga
alam.
Datangnya
Keserakahan
Beberapa tahun kemudian datanglah sekelompok orang
dari daerah lain. Mereka melihat hutan di sekitar desa Motoboi yang sangat
lebat dan penuh kayu besar.
Mereka berpikir hutan itu bisa menghasilkan banyak
uang jika ditebang.
Mereka mulai menebang pohon di bagian hulu sungai.
Penduduk desa mencoba melarang mereka.
“Kalian tidak boleh menebang pohon di sana,” kata
kepala desa.
“Jika hutan rusak, sungai akan marah.”
Namun para penebang itu tidak peduli.
Mereka menebang semakin banyak pohon setiap hari.
Hutan yang dahulu rimbun mulai terbuka.
Tanah yang dulu ditahan oleh akar-akar pohon menjadi
longgar.
Dumolud merasa khawatir.
Ia lalu pergi menemui Mokodoludut di hutan.
“Penjaga hutan,” kata Dumolud, “banyak pohon telah
ditebang di hulu sungai. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi.”
Raksasa itu memandang jauh ke arah pegunungan.
Wajahnya tampak sedih.
“Jika hutan rusak,” katanya perlahan, “air hujan
tidak lagi tertahan. Sungai akan meluap.”
“Apakah kita bisa menghentikan mereka?” tanya
Dumolud.
Raksasa itu menggeleng.
“Manusia harus belajar dari perbuatannya sendiri.”
Namun ia menambahkan,
“Jika bahaya datang, aku akan melakukan apa yang
harus kulakukan.”
Hujan Besar
Musim hujan pun tiba.
Hujan turun lebih deras dari biasanya.
Hari pertama hujan turun tanpa henti.
Hari kedua sungai mulai naik.
Hari ketiga air sungai berubah keruh dan mengalir
sangat deras.
Penduduk desa mulai cemas.
Pada malam hari yang gelap, suara gemuruh besar
terdengar dari arah pegunungan.
Seorang lelaki berlari ke tengah desa sambil
berteriak,
“Air datang! Air besar dari hulu!”
Semua orang keluar rumah.
Di kejauhan mereka melihat air hitam yang sangat
besar mengalir turun membawa batang-batang pohon dan lumpur.
Itu adalah banjir bandang.
Penduduk desa panik.
Mereka tidak tahu harus lari ke mana.
Dumolud langsung memikirkan satu orang.
Ia berlari ke hutan sambil memanggil,
“Mokodoludut! Penjaga hutan!”
Beberapa saat kemudian tanah bergetar.
Raksasa itu muncul dari antara pepohonan.
Ia melihat ke arah sungai yang mengamuk.
Air besar itu akan mencapai desa dalam waktu
singkat.
Jika air itu masuk ke desa, semua rumah akan
hancur.
Raksasa itu menarik napas panjang.
“Aku harus menghentikannya,” katanya.
“Tapi bagaimana?” tanya Dumolud.
Raksasa itu memandang ke arah lembah sempit di
dekat desa.
Di sana sungai mengalir melalui celah batu.
“Aku akan menahan air di sana.”
Dumolud terkejut.
“Itu sangat berbahaya!”
Raksasa itu tersenyum.
“Menjaga hutan berarti juga menjaga manusia yang
hidup di sekitarnya.”
Pengorbanan
Sang Penjaga
Mokodoludut berjalan menuju lembah sempit itu.
Langkahnya membuat tanah bergetar.
Penduduk desa yang melihatnya dari kejauhan
tertegun melihat raksasa besar berdiri di tengah aliran sungai.
Air banjir datang semakin dekat.
Dengan kekuatannya yang besar, Mokodoludut
mengangkat beberapa batu besar dari tebing dan menumpuknya di tengah sungai.
Namun airnya terlalu kuat.
Air terus menerjang.
Akhirnya ia berdiri di tengah aliran itu dan
menahan batu-batu besar dengan tubuhnya.
Air menghantam tubuhnya dengan keras.
Namun ia tidak bergerak.
Ia menjadi seperti bendungan raksasa yang menahan
arus.
Perlahan-lahan air yang mengamuk mulai terbagi dan
mengalir ke arah lain.
Sebagian besar air tidak lagi menuju desa.
Rumah-rumah penduduk pun selamat.
Namun kekuatan banjir itu sangat besar.
Tubuh Mokodoludut mulai terasa berat.
Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk tetap
berdiri.
Dumolud yang menyaksikan dari tepi sungai
berteriak,
“Penjaga hutan! Kembalilah! Desa sudah selamat!”
Namun raksasa itu tidak menjawab.
Air terus menghantam tubuhnya selama berjam-jam.
Hingga akhirnya hujan mulai berhenti.
Arus sungai perlahan mengecil.
Saat matahari pagi mulai muncul di balik
pegunungan, sesuatu yang aneh terjadi.
Tubuh Mokodoludut perlahan mengeras.
Kulitnya berubah seperti batu.
Tangannya yang memegang batu besar tidak lagi
bergerak.
Dumolud berlari mendekat.
“Penjaga hutan!”
Namun raksasa itu sudah diam.
Ia telah berubah menjadi batu besar yang berdiri
kokoh di tepi sungai.
Batu itu tetap berdiri seperti seseorang yang
sedang menjaga aliran air.
Penduduk desa terdiam.
Mereka menyadari satu hal.
Raksasa itu telah mengorbankan dirinya untuk
menyelamatkan mereka.
Batu Penjaga
Hutan
Sejak hari itu, batu besar itu tidak pernah
dipindahkan.
Penduduk desa percaya roh Mokodoludut masih menjaga
hutan dan desa mereka.
Mereka menamai batu itu Batu Penjaga Hutan.
Orang-orang dari desa lain yang datang sering
terkejut melihat bentuk batu itu yang menyerupai sosok raksasa yang berdiri.
Dumolud yang sudah menjadi tetua desa sering
menceritakan kisah itu kepada anak-anak.
Ia berkata,
“Batu itu bukan sekadar batu. Ia adalah pengingat
bahwa alam harus dijaga.”
Setelah kejadian banjir itu, penduduk desa menjadi
lebih berhati-hati.
Mereka tidak lagi menebang pohon sembarangan.
Mereka menjaga hutan seperti menjaga rumah sendiri.
Karena mereka tahu, jika hutan rusak, bencana bisa
datang kapan saja.
Pesan yang
Terus Diingat
Hingga sekarang, cerita tentang Batu Penjaga Hutan
masih diceritakan di daerah Bolaang Mongondow.
Anak-anak yang berjalan di tepi hutan sering diajak
orang tua mereka melihat batu besar itu.
Mereka diberi pesan sederhana.
“Alam adalah sahabat manusia. Jika kita menjaganya,
ia akan menjaga kita.”
Dan ketika angin hutan berhembus di antara
pepohonan tua, penduduk desa kadang merasa seolah-olah ada seseorang yang masih
berdiri menjaga hutan.
Seseorang yang dahulu adalah raksasa bijaksana.
Penjaga hutan yang rela berubah menjadi batu demi
menyelamatkan desa.
Itulah legenda yang selalu diingat oleh masyarakat
Bolaang Mongondow tentang pengorbanan sang penjaga hutan.
Posting Komentar untuk "Batu Penjaga Hutan dari Bolaang Mongondow"