Putri di Bawah Cahaya Purnama

 

Di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat dan lembah berkabut, hiduplah seorang gadis bernama Aluna. Tak seorang pun tahu rahasia besar yang disimpannya—bahwa ia adalah seorang werewolf.

Namun berbeda dari kisah-kisah menyeramkan yang sering dibisikkan orang-orang, Aluna tidak berubah menjadi makhluk buas saat bulan purnama. Justru sebaliknya.

Setiap kali cahaya bulan purnama menyentuh kulitnya, bulu-bulu kelabu yang biasanya menyelimuti tubuhnya akan perlahan menghilang. Taringnya memudar. Cakarnya berubah menjadi jemari halus. Dalam sinar perak bulan, ia menjelma menjadi seorang putri yang sangat cantik—dengan rambut panjang berkilau dan mata sebening embun pagi.

Perubahan itulah yang membuatnya ketakutan.

Bagi keluarganya, ia dikenal sebagai gadis werewolf biasa. Jika mereka mengetahui bahwa ia berubah menjadi manusia saat purnama, rahasianya bisa menjadi ancaman. Ia tak ingin dianggap aneh—bahkan oleh keluarganya sendiri.

Maka setiap bulan purnama tiba, Aluna akan melarikan diri ke tengah lembah sunyi. Di sanalah ia membiarkan cahaya bulan menyentuhnya tanpa saksi.

Kutukan Lama yang Terpendam

Bertahun-tahun silam, sebelum Aluna lahir, ayahnya yang gagah berani pernah melukai seorang nenek sihir yang tinggal di tepi hutan. Sang ayah mengira wanita tua itu mengancam desanya. Dalam pertarungan sengit, nenek sihir itu terluka parah dan menghilang dalam kabut.

Sebelum lenyap, ia mengucapkan kutukan:

“Anak perempuanmu akan menanggung akibatnya. Ia tak akan pernah sepenuhnya menjadi apa pun.”

Sejak itulah Aluna terlahir dengan dua sisi yang tak pernah benar-benar menyatu.

Pertemuan di Lembah

 

 

 

 

Suatu malam purnama, ketika Aluna telah berubah menjadi putri dalam balutan cahaya bulan, seorang pangeran yang tengah berburu tersesat hingga ke lembah.

Namanya Pangeran Arka.

Ia tertegun melihat sosok Aluna berdiri di bawah cahaya purnama. Bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena cara ia menolong seekor rusa kecil yang terluka di dekat sungai.

“Kau siapa?” tanya Arka lembut.

“Aku… hanya seorang gadis yang tersesat,” jawab Aluna.

Percakapan mereka mengalir hangat. Arka terpikat bukan semata oleh wajahnya, tetapi oleh kelembutan dan keberanian dalam sorot matanya.

Tanpa mengetahui rahasia Aluna, Arka membawanya ke istana. Di sana, Aluna diperlakukan dengan hormat. Rakyat menyukainya. Hatinya yang tulus membuatnya dicintai banyak orang.

Tak lama kemudian, Arka melamarnya.

Dan Aluna… menerima.

Malam yang Pahit

Pernikahan mereka berlangsung megah. Lampu-lampu istana berkilau seperti bintang.

Namun Aluna tahu satu hal—malam itu bulan akan kembali membulat sempurna.

Saat Arka terlelap setelah pesta panjang, Aluna berdiri di balkon istana. Air mata mengalir di pipinya.

Ia tak ingin suaminya mengetahui siapa dirinya saat matahari terbit.

Dengan hati berat, ia meninggalkan sepucuk surat dan berlari menuju hutan.

Mencari Sang Nenek Sihir

Aluna mengembara berhari-hari hingga menemukan pondok reyot di balik hutan terdalam. Di sanalah nenek sihir itu tinggal.

Wanita tua itu kini tampak rapuh, namun matanya masih menyimpan api dendam.

“Aku datang untuk mengakhiri kutukan,” ujar Aluna berani.

Nenek sihir itu terdiam lama. Akhirnya ia berkata pelan,
“Kutukan hanya bisa hilang jika kau memilih satu kehidupan. Serigala… atau manusia.”

Aluna menutup mata.

Jika ia memilih menjadi manusia, ia harus meninggalkan keluarganya di hutan.
Jika ia memilih menjadi werewolf sepenuhnya, ia harus meninggalkan Arka.

Setelah lama bergulat dengan hatinya, ia memilih kembali ke keluarganya.

“Cinta tak selalu berarti memiliki,” bisiknya.

Nenek sihir itu mengangkat tangannya. Kutukan pun berubah—bukan menghilang, tetapi menetapkan satu wujud selamanya.

Aluna kembali menjadi werewolf seutuhnya.

Lolongan di Bukit

Di istana, Pangeran Arka membaca surat yang ditinggalkan Aluna. Ia tak marah. Ia hanya sedih dan bertekad mencarinya.

Setiap malam, ia dan para prajurit menyusuri hutan.

Dan setiap malam pula, di bukit tertinggi, seekor serigala berdiri memandang ke arah obor-obor yang bergerak di bawah sana.

Aluna melolong panjang ke arah bulan.

Bukan sebagai tanda kesedihan semata—
melainkan sebagai janji bahwa cintanya tetap hidup, meski tak bisa bersama.

Angin malam membawa suaranya hingga ke telinga Arka.
Sang pangeran selalu berhenti sejenak, seolah memahami bahwa di suatu tempat, seseorang tengah mengingatnya.

Cinta mereka tidak pernah benar-benar berakhir.
Ia hanya berubah wujud—seperti Aluna di bawah cahaya purnama.

Dan di lembah sunyi itu, legenda tentang Putri Purnama pun hidup selamanya.

 

Posting Komentar untuk "Putri di Bawah Cahaya Purnama"