SIHIR JAHAT PERI HITAM #sihir #peri




Malam telah larut, namun mata kecil itu belum juga mau menutup. Dia masih tertawa-tawa, meloncat-loncat dan bersandiwara seperti adegan di televisi yang tengah di tontonnya. Sementara Bundanya tercinta sudah terlelap dari tadi. Hanya tinggal Ayah yang masih mampu menemani. Begitu seru jalan cerita dan adegan perkelahian membuat Ninda tetap bersemangat menyaksikan sinetron silat di TV meskipun sesungguhnya tenaganya sudah tidak ada.
               Ninda adalah bintang terang bagi Ayah di saat beliau lelah dan banyak masalah. Pedih hati tak terasa jika melihat keceriaan si kecil. Tertawa, berteriak, meloncat dan bernyanyi-nyanyi sepanjang waktu, siang malam tak dipedulikannya. Ayah bersyukur sekali memiliki putri kecil nan lincah itu.
               Namun malam bukanlah sahabat yang baik bagi anak kecil. Seharusnya saat seperti itu Ninda sudah terlelap di tempat tidur dalam pelukan Ayah Bunda. Kebiasaan buruk Ninda mendapat perhatian lebih Peri Hitam yang sedang mengumpulkan darah anak-anak kecil tak berdosa untuk dijadikan ramuan ajaib miliknya. Ia tinggal menunggu lengahnya Ayah Ninda untuk menculik gadis cilik itu dan membawanya ke rumah Peri Hitam di Bukit Tengkorak.
               “Bubuk penidur ini akan membuat mereka mengantuk. Nah setelah semuanya tertidur, saat itulah aku bisa menculik Ninda,”gumam Peri Hitam terkekeh. Bubuk penidur putih itu lalu ditiupkan lewat lubang angin ke dalam rumah. Tidak berapa lama kemudian, Ayah dan Ninda tertidur di depan TV yang masih menyala. Peri Hitam tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia segera masuk dan menggendong Ninda keluar.
               “Aku dapat merasakan aura magis dari anak ini. Ramuan keabadianku akan menjadi sempurna jika dicampur darah bocah cilik ini. Ha...ha...ha....,”Peri Hitam tertawa puas.
               “Kembalikan anak itu, Parwati. Atau kamu akan menyesal...!”tiba-tiba terdengar suara lantang dari balik kegelapan. Kening Peri Hitam berkerut, ia seperti mengenali suara itu.
               “Apakah kau sudah tidak mengenaliku lagi, Parwati? Rupanya kau mudah melupakan kebersamaan kita selama enam tahun lebih di Bukit Permata. Ehm...tapi aku tidak,”sosok yang bersembunyi di balik rimbunnya semak keluar, memperlihatkan wajah aslinya. Ternyata seorang wanita seumuran Peri Hitam.
               “Rupanya kau Juwarsih. Panjang umur juga ya, kamu? Terus maumu apa sekarang?”tanya Peri Hitam kesal melihat saudara seperguruannya mengganggu rencananya.
               “Ayah dari anak yang kamu gendong itu adalah cucuku. Dan siapa saja yang berani mengganggu anak keturunanku, maka mereka akan berhadapan dengan aku,”ancam perempuan yang bernama Juwarsih. Atau orang-orang memanggilnya Bidadari Bukit Permata. Juwarsih dan Parwati atau lebih dikenal Peri Hitam adalah murid Ratu Bukit Permata yang sudah meninggal dua tahun lalu. Keduanya mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Peri Hitam sombong dan licik, sedangkan Bidadari Bukit Permata rendah hati dan jujur. Padepokan Silat Ratu Bukit Permata kini diteruskan oleh Juwarsih, sedangkan Peri Hitam keluar dari Padepokan karena ketahuan mencuri pedang pusaka milik Ratu Bukit Permata.
               Peri Hitam lalu berguru kepada Siluman Bukit  Tengkorak dan menjadi penerus padepokan setelah gurunya tersebut meninggal. Ia belajar banyak kesaktian dan ilmu sihir untuk memenuhi segala keinginan jahatnya. Kini ia sedang membuat ramuan keabadian yang katanya dapat memperpanjang umurnya hingga ratusan tahun lagi. Tapi peri hitam membutuhkan tiga belas anak tak berdosa untuk menyempurnakan ramuan tersebut. Ninda adalah anak yang ke tiga belas yang ia culik dari berbagai desa. Anak-anak itu sekarang sedang dikurung di sebuah tempat rahasia untuk dikorbankan saat bulan purnama tiba besok.
               “Oh jadi anak ini buyutmu, Juwarsih. Ehm...pantas aku merasakan aura yang berbeda darinya. Mungkin dia juga mewarisi kesaktianmu. Tapi sayang umurnya tidak panjang, Juwarsih, karena aku akan membuat ramuan sakti dari darah buyutmu ini,”selesai berucap, Peri Hitam lalu melepaskan serangan berupa tusuk konde beracun yang melesat cepat kearah Bidadari Bukit Permata. Namun serangan itu dapat digagalkan dengan mudah oleh kibasan selendang sakti miliknya.
               Peri Hitam tidak menyerah, ia kembali melepaskan serangan bola api kearah lawannya. Bidadari Bukit Permata berkelit menghindar lalu membalasnya dengan serangan yang lebih gencar berupa gulungan angin topan yang menghantam tubuh Peri Hitam hingga terpental menimpa pohon beringin besar di belakangnya. Ninda terlepas dari gendongan peri hitam. Sebelum jatuh, Bidadari Bukit Permata berhasil menyambarnya. Kini Ninda telah aman dalam pelukannya.
               Peri Hitam yang terluka sadar bahwa dirinya tidak mampu menandingi kesaktian saudara seperguruannya itu. Ia  berencana melarikan diri. Ia merubah tubuhnya menjadi seekor tikus lalu menelusup cepat kedalam semak-semak. Peri Hitam berpikir bahwa ia akan selamat. Tapi Bidadari Bukit Permata tidak kalah cerdiknya. Ia merubah tubuhnya menjadi seekor burung hantu yang memiliki kecepatan dan penglihatan tajam ditengah kegelapan. Burung Hantu jelmaan Bidadari Bukit Permata lalu menyambar tikus jelmaan Peri Hitam dan membakar tubuhnya agar sihir dan kekuatan jahat milik Peri Hitam lenyap selamanya.
               Sihir yang melindungi Padepokan Bukit Tengkorak juga ikut lenyap bersamaan dengan tewasnya Peri Hitam sehingga anak-anak yang dia culik untuk dijadikan ramuan keabadian Peri Hitam berhasil diselamatkan. Desa-desa di sekitar padepokan itupun kini kembali aman. Masyarakat sangat berterimakasih pada Bidadari Bukit Permata. Begitu juga dengan Ayah Ninda.
               “Terimakasih, Nek. Entah apa yang akan terjadi pada Ninda, jika Nenek tidak datang menolong,”kata Ayah Ninda tulus.
               “Ya, untung Nenek masih punya sedikit kemampuan menghadapi sihir jahat Peri Hitam, Cu. Tapi lain kali kamu harus lebih disiplin pada Ninda. Jangan biarkan anakmu tidur terlalu larut. Kasihan dia, pasti paginya terlambat sekolah karena bangun kesiangan,”nasehat Bidadari Bukit Permata pada cucunya. Ayah Ninda mengangguk setuju. Sejak kejadian malam itu, Ayah Ninda memang membiasakan putri kecilnya agar mau tidur lebih cepat dari biasanya.

Posting Komentar untuk "SIHIR JAHAT PERI HITAM #sihir #peri"