Bab 1. Dua Penguasa Pasar Menara Jati
Di sebuah kota kecil yang ramai, berdirilah sebuah pasar tradisional bernama
Pasar Menara Jati. Pasar itu terletak tepat di pinggir Sungai Jati yang airnya
mengalir sepanjang tahun.
Konon, pasar tersebut sudah berdiri puluhan tahun. Bangunannya tampak tua dan
sebagian mulai mengalami kerusakan. Atap-atap sengnya banyak yang berlubang,
beberapa tiang kayunya mulai lapuk, dan lantai di bagian belakang pasar retak
akibat sering terkena genangan air sungai.
Meskipun demikian, Pasar Menara Jati tidak pernah kehilangan keramaiannya.
Setiap pagi, para pedagang berdatangan membawa sayuran, buah-buahan, ikan
segar, daging, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Suara tawar-menawar
terdengar bersahutan, bercampur dengan bunyi kendaraan dan teriakan para
pedagang yang menawarkan dagangannya.
Namun, pasar itu bukan hanya tempat mencari nafkah bagi manusia. Di antara
kios-kios dan lorong-lorong sempitnya, hidup pula puluhan ekor kucing.
Mereka menjadikan pasar sebagai rumah.
Ada yang tidur di bawah meja pedagang sayur, ada yang bersembunyi di balik
karung beras, dan ada pula yang menghabiskan waktunya di dekat kios ikan sambil
berharap mendapatkan sisa makanan.
Di antara semua kucing penghuni pasar, terdapat dua kucing jantan yang
paling terkenal.
Yang pertama bernama Nomo, seekor kucing hitam berbadan besar dengan bulu
mengilap dan mata kuning tajam. Nomo dikenal pemberani, kuat, dan sangat pandai
melompat. Ia menguasai wilayah pasar sebelah timur, mulai dari kios ikan hingga
gudang beras.
Yang kedua bernama Gaga, seekor kucing oren bertubuh kekar dengan ekor
panjang dan bulu tebal. Gaga terkenal lincah, keras kepala, dan tidak pernah
mau mengalah. Wilayah kekuasaannya meliputi pasar sebelah barat, terutama kios
ayam, lapak daging, dan tempat pembuangan sisa makanan.
Sayangnya, kedua kucing itu tidak pernah hidup rukun.
Masing-masing menganggap dirinya sebagai penguasa Pasar Menara Jati.
"Aku yang paling pantas menjadi pemimpin seluruh kucing di pasar
ini!" seru Nomo suatu pagi sambil berdiri di atas peti ikan kosong.
Gaga yang sedang berjemur di atas tumpukan karung langsung mengangkat
kepalanya.
"Siapa bilang? Kau hanya menguasai kios ikan! Aku menguasai wilayah
yang jauh lebih luas!" balasnya.
Nomo mendengus.
"Wilayah luas tidak berarti apa-apa kalau pemimpinnya penakut!"
"Apa katamu?"
Gaga melompat turun.
Keduanya saling mendekat sambil menegakkan bulu punggung.
"Miaaauuu!"
"Graaaauuu!"
Suara mereka membuat beberapa kucing kecil berlarian ketakutan.
Untunglah seorang pedagang ikan bernama Bu Marni segera keluar sambil membawa
sapu.
"Heh! Nomo! Gaga! Kalian ini setiap hari bertengkar saja!"
teriaknya.
Kedua kucing itu langsung berlari ke arah berlawanan.
Namun, permusuhan mereka tidak pernah benar-benar berakhir.
Bab 2. Kiti, Kucing Putih yang Menggemaskan
Di antara penghuni Pasar Menara Jati, terdapat seekor anak kucing putih
bernama Kiti.
Tubuh Kiti masih kecil. Bulunya putih bersih seperti kapas, sementara kedua
matanya berwarna biru muda.
Kiti merupakan kucing yang ramah dan suka bermain.
Ia tidak peduli dengan perselisihan antara Nomo dan Gaga. Baginya, semua
kucing adalah teman.
Setiap pagi, Kiti selalu berkeliling pasar menyapa penghuni lainnya.
"Pagi, Paman Nomo!" sapanya suatu hari.
Nomo yang sedang membersihkan bulunya hanya melirik.
"Pagi, Kiti. Jangan bermain terlalu jauh. Bagian belakang pasar banyak
lubang dan lantainya sudah rusak."
"Baik, Paman!"
Setelah itu, Kiti berlari menuju wilayah Gaga.
"Paman Gaga! Ayo bermain!"
Gaga menguap lebar.
"Aku sedang tidur, Kiti. Pergilah bermain dengan teman-temanmu."
"Tapi Paman selalu tidur!"
"Karena menjadi penguasa pasar itu melelahkan!" jawab Gaga dengan
bangga.
Kiti tertawa mendengarnya.
Meskipun Nomo dan Gaga bermusuhan, keduanya sebenarnya menyayangi Kiti.
Anak kucing itu sering menjadi penengah ketika mereka bertengkar.
Suatu sore, Kiti melihat Nomo dan Gaga kembali saling menantang di dekat
kios sayuran.
"Kenapa Paman berdua selalu bertengkar?" tanyanya polos.
"Karena Gaga ingin merebut wilayahku!" jawab Nomo.
"Justru Nomo yang ingin menguasai wilayahku!" bantah Gaga.
Kiti menggeleng.
"Padahal pasar ini luas sekali. Mengapa tidak tinggal bersama
saja?"
Keduanya terdiam sesaat.
Namun, Gaga segera memalingkan wajah.
"Anak kecil belum mengerti urusan kekuasaan."
Kiti hanya tersenyum.
Ia tidak tahu bahwa beberapa hari kemudian, nasibnya akan mengubah kehidupan
seluruh kucing di Pasar Menara Jati.
Bab 3. Hilangnya Kiti Secara Misterius
Pada suatu sore, hujan turun cukup deras di kawasan Pasar Menara Jati.
Air Sungai Jati mulai naik, membawa ranting, daun kering, dan berbagai benda
yang hanyut dari hulu.
Para pedagang bergegas menutup kios mereka.
Sementara itu, Kiti sedang bermain mengejar seekor kupu-kupu kuning di dekat
bagian belakang pasar.
Kupu-kupu itu terbang melewati tumpukan papan tua menuju sebuah bangunan
kosong di pinggir sungai.
"Wah, cantik sekali!" seru Kiti.
Ia terus mengejarnya.
Tanpa disadari, Kiti sudah berada jauh dari keramaian pasar.
Di sana terdapat sebuah gudang tua yang sebagian dindingnya telah runtuh. Di
belakang gudang, tumbuh semak-semak lebat yang menutupi jalan kecil menuju
sungai.
Kiti berhenti ketika mendengar suara aneh.
Krasak... krasak...
Ia menoleh.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara air sungai dan gesekan dedaunan.
Kiti mulai merasa takut.
"Aku harus pulang," gumamnya.
Namun, ketika hendak berbalik, tiba-tiba sesuatu yang besar bergerak dari
balik semak.
Kiti terkejut.
"Miaaauuu!"
Teriakannya terdengar sebentar, kemudian menghilang ditelan suara hujan.
Malam itu, Kiti tidak kembali ke tempat tidurnya di bawah meja Bu Marni.
Awalnya, para kucing mengira ia sedang bermain di tempat lain.
Namun, sampai pagi tiba, Kiti tetap tidak ditemukan.
Bu Marni yang biasa memberinya makan mulai kebingungan.
"Kiti! Kiti! Ke mana kamu, Nak?"
Ia mencari ke bawah meja, belakang lemari, dan sekitar kios ikan.
Tidak ada.
Nomo yang mendengar panggilan itu segera datang.
"Ada apa?" tanyanya kepada kucing tua bernama Mimin.
"Kiti hilang sejak kemarin sore," jawab Mimin dengan cemas.
Nomo langsung berdiri.
"Hilang?"
Mimin mengangguk.
"Kami sudah mencarinya ke seluruh pasar."
Nomo menatap lorong panjang menuju bagian belakang pasar.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Bab 4. Kucing-Kucing Menghilang Satu per Satu
Keesokan harinya, suasana pasar semakin mengkhawatirkan.
Seekor kucing belang bernama Bonti tidak terlihat sejak malam.
Bonti biasanya tidur di dekat kios ayam milik Pak Sarman. Namun, pagi itu
tempat tidurnya kosong.
Gaga yang menguasai wilayah tersebut merasa heran.
"Bonti tidak pernah pergi tanpa memberitahuku," gumamnya.
Belum selesai para kucing membicarakan hilangnya Bonti, seekor kucing
abu-abu bernama Seli juga menghilang.
Seli terakhir terlihat mencari makanan di sekitar gudang tua.
Dua hari kemudian, giliran seekor kucing cokelat bernama Tobi yang tidak
kembali.
Kini empat ekor kucing telah menghilang.
Kiti, Bonti, Seli, dan Tobi.
Ketakutan mulai menyelimuti Pasar Menara Jati.
Kucing-kucing tidak lagi berani berjalan sendirian.
Setiap malam, mereka berkumpul di tempat yang terang dan jauh dari sungai.
Anehnya, sebagian besar kucing yang hilang terakhir terlihat di dekat gudang
tua.
Namun, Nomo dan Gaga justru saling menyalahkan.
"Semua ini terjadi karena wilayahmu tidak aman!" tuduh Nomo.
Gaga menggeram.
"Jangan sembarangan menuduh! Kiti pertama kali hilang dari wilayah
dekat gudang yang sering kau lewati!"
"Kau menuduhku?"
"Aku hanya mengatakan kenyataan!"
Keduanya hampir bertengkar lagi.
Namun, Mimin yang sudah tua tiba-tiba berdiri di antara mereka.
"Cukup!"
Nomo dan Gaga terkejut.
Mimin jarang sekali berbicara dengan suara keras.
"Kalian sibuk memperebutkan kekuasaan, sementara teman-teman kita
menghilang satu per satu!" katanya.
Nomo menunduk.
Gaga terdiam.
"Apakah kalian ingin menjadi penguasa pasar yang kosong? Apakah kalian
baru akan berhenti bertengkar setelah tidak ada lagi kucing yang tersisa?"
Perkataan Mimin membuat keduanya tidak mampu menjawab.
Malam itu, Nomo duduk sendirian di atas atap kios ikan.
Ia teringat wajah Kiti yang selalu ceria.
Sementara itu, Gaga termenung di atas karung beras.
Ia teringat Bonti yang sering mengajaknya bermain.
Keduanya mulai menyadari bahwa ada masalah yang jauh lebih besar daripada
persaingan mereka.
Bab 5. Persekutuan Dua Musuh
Pagi berikutnya, Nomo mendatangi Gaga.
Kucing oren itu sedang memakan sisa ikan pemberian seorang pedagang.
Gaga mengangkat kepala.
"Mau bertengkar lagi?"
"Tidak," jawab Nomo.
Gaga tampak heran.
"Lalu?"
"Aku ingin mengajakmu mencari kucing-kucing yang hilang."
Gaga berhenti mengunyah.
"Kau ingin bekerja sama denganku?"
Nomo mengangguk.
"Aku tidak menyukaimu, Gaga. Tapi aku lebih tidak suka melihat
teman-teman kita menghilang."
Gaga menatap Nomo beberapa saat.
Kemudian ia berdiri.
"Baiklah. Untuk sementara, kita lupakan urusan wilayah."
Mereka saling menyentuhkan kaki depan.
Sejak hari itu, dua kucing yang sebelumnya selalu bermusuhan mulai bekerja
sama.
Nomo mengumpulkan informasi dari kucing-kucing di wilayah timur.
Sementara Gaga bertanya kepada para penghuni wilayah barat.
Dari berbagai keterangan, mereka menemukan beberapa petunjuk.
Pertama, semua kucing yang hilang pernah terlihat di dekat gudang tua.
Kedua, beberapa kucing mendengar suara gesekan aneh dari arah sungai pada
malam hari.
Ketiga, terdapat jejak besar di tanah berlumpur belakang pasar.
Nomo dan Gaga segera memeriksa jejak tersebut.
"Ini bukan jejak kucing," kata Gaga.
Nomo mendekat.
Di atas lumpur tampak bekas kaki bercakar dengan jejak panjang seperti
sesuatu yang diseret.
"Lihat ini," ujar Nomo.
"Ada garis panjang menuju sungai."
Gaga mengendus tanah.
"Bau apa ini? Aneh sekali."
Nomo mengamati jejak tersebut dengan saksama.
"Apa pun makhluknya, ukurannya pasti besar."
Mereka mengikuti jejak itu hingga tiba di sebuah lubang besar di bawah akar
pohon beringin.
Lubang tersebut berada di tebing rendah dekat Sungai Jati.
Dari dalamnya terdengar suara napas berat.
Hhhh... hhhh...
Gaga mundur selangkah.
"Nomo, sepertinya ada sesuatu di dalam sana."
Nomo mengangguk.
"Kita harus berhati-hati."
Tiba-tiba terdengar suara gesekan keras.
Krasak!
Dua mata kecil muncul dari kegelapan.
Disusul moncong panjang, kepala bersisik, dan lidah bercabang yang bergerak
cepat.
Gaga hampir melompat karena terkejut.
"BIAWAK!"
Bab 6. Capit, Penghuni Tepi Sungai
Makhluk yang muncul dari lubang itu adalah seekor biawak jantan berukuran
sangat besar.
Namanya Capit.
Tubuhnya panjang dengan sisik cokelat kehitaman. Kakinya kuat, cakarnya
tajam, dan ekornya panjang serta berotot.
Capit sudah lama hidup di sekitar Sungai Jati.
Biasanya ia mencari ikan, kepiting, dan hewan kecil di sepanjang tepian
sungai.
Namun, belakangan ini, perubahan keadaan membuatnya sering mendekati pasar.
Tumpukan sampah makanan di belakang kios menarik perhatiannya. Selain itu,
kerusakan bangunan pasar menciptakan banyak celah yang memudahkannya masuk
tanpa terlihat manusia.
Capit sebenarnya lebih suka menghindari keramaian.
Akan tetapi, ia sangat menjaga wilayah sarangnya dan dapat menjadi berbahaya
ketika merasa terganggu.
Nomo dan Gaga bersembunyi di balik batang pohon.
Mereka melihat Capit keluar dari sarangnya lalu berjalan menuju gudang tua.
"Jadi, dialah makhluk yang berkeliaran di belakang pasar," bisik
Gaga.
"Sepertinya begitu," jawab Nomo.
Mereka mengikutinya dari kejauhan.
Ketika Capit melewati dinding gudang yang runtuh, terdengar suara lirih dari
sebuah ruang penyimpanan yang pintunya miring dan tertutup papan.
"Miaau... tolong..."
Nomo langsung menegakkan telinga.
"Kau dengar itu?"
Gaga mengangguk.
"Itu suara kucing!"
Keduanya mendekati gudang setelah Capit bergerak menjauh.
Dari celah papan, mereka melihat beberapa pasang mata.
"Kiti!" seru Nomo.
"Paman Nomo!" jawab suara kecil dari dalam.
Ternyata Kiti masih hidup.
Di dalam gudang itu juga terdapat Bonti, Seli, dan Tobi.
Mereka bersembunyi di sebuah ruang sempit yang terhalang tumpukan kayu dan
pintu rusak.
Kiti menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Ketika bermain di dekat sungai, ia bertemu Capit dan ketakutan. Ia berlari
masuk ke gudang untuk menyelamatkan diri.
Namun, sebuah papan besar jatuh dan menghalangi jalan keluar.
Bonti yang mendengar tangisannya datang untuk membantu, tetapi ikut
terjebak.
Seli dan Tobi menyusul pada hari berikutnya. Mereka berhasil menemukan Kiti
dan Bonti, tetapi takut keluar karena Capit terus berkeliaran di sekitar
gudang.
"Kami mencoba keluar beberapa kali," kata Bonti, "tetapi
biawak itu selalu muncul."
"Kami takut sekali," tambah Seli.
Nomo memeriksa tumpukan papan.
Ia mencoba mendorongnya, tetapi terlalu berat.
Gaga ikut membantu.
Kreeek...
Papan itu hanya bergeser sedikit.
"Kita membutuhkan bantuan manusia," kata Nomo.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Gaga.
Nomo berpikir sejenak.
"Kita harus membuat Capit menjauh dari gudang terlebih dahulu. Setelah
itu, kita cari cara agar manusia datang ke sini."
Gaga memandang sahabat-sahabatnya yang terjebak.
"Baiklah. Kita lakukan bersama."
Bab 7. Rencana Berbahaya
Nomo dan Gaga kembali ke pasar untuk menyusun rencana.
Mereka tidak ingin menyerang Capit secara langsung.
Biawak sebesar itu terlalu kuat untuk dilawan dua ekor kucing.
"Kita harus memancingnya keluar dari sekitar gudang," kata Nomo.
Gaga mengangguk.
"Dan membawanya ke tempat yang mudah terlihat manusia."
Mereka memilih jalan raya di depan pasar.
Jalan tersebut cukup ramai dan selalu dijaga seorang tukang parkir bernama
Pak Ramen.
Pak Ramen dikenal baik hati dan sering memberi makan kucing-kucing pasar.
Ia juga sangat memperhatikan keselamatan hewan.
Nomo dan Gaga berharap manusia itu dapat membantu mereka.
Namun, rencana tersebut tidak mudah.
Capit bisa bergerak cepat dalam jarak pendek. Ekornya pun cukup kuat untuk
menghalau hewan yang mendekat.
Karena itu, mereka memutuskan untuk menjaga jarak dan tidak pernah
membiarkan diri terpojok.
Menjelang sore, Nomo dan Gaga kembali menuju sarang Capit.
Mereka bersembunyi di balik tumpukan batu.
Gaga mengambil posisi dekat jalan setapak, sementara Nomo berdiri di atas
tembok rendah.
Dari sana, Nomo mulai mengeong keras.
"Miaaauuu!"
Suara itu terdengar hingga ke dalam sarang.
Capit mengeluarkan kepalanya.
Ia mengamati keadaan dengan lidah yang bergerak keluar masuk.
Nomo kembali mengeong.
"Miaaauuu!"
Capit mulai bergerak ke arahnya.
Nomo segera melompat ke atas pagar yang lebih tinggi.
Gaga kemudian muncul dari sisi lain.
"Miaaauuu!"
Perhatian Capit beralih.
Biawak itu bergerak menuju Gaga.
Gaga berlari menjauh, lalu melompat ke atas peti kayu.
Dengan cara bergantian, Nomo dan Gaga membuat Capit terus bergerak menjauhi
sarangnya.
Mereka tidak menyentuh atau menyerangnya.
Keduanya hanya membuat suara dari tempat-tempat yang aman.
Perlahan, Capit mengikuti mereka melewati gudang, lorong belakang pasar, dan
jalan kecil di antara kios-kios.
Namun, ketika hampir mencapai jalan raya, Capit berhenti.
Ia tampaknya menyadari bahwa dirinya sudah jauh dari sungai.
"Nomo, dia berhenti!" seru Gaga.
Nomo melihat ke arah jalan.
Di sana, Pak Ramen sedang mengatur sepeda motor yang hendak keluar dari
pasar.
"Kita harus menarik perhatian Pak Ramen!"
Gaga melompat ke atas sebuah gerobak kosong.
Gerobak itu bergoyang.
Brak!
Sebuah keranjang plastik jatuh dan menimbulkan suara keras.
Capit terkejut lalu bergerak cepat ke arah jalan terbuka.
Nomo dan Gaga segera melompat ke tempat yang lebih tinggi.
Beberapa saat kemudian, tubuh besar Capit muncul di pinggir jalan raya.
Bab 8. Kepanikan di Jalan Raya
"AAAA! BIAWAK BESAR!"
Teriakan seorang pedagang sayur membuat suasana pasar mendadak gaduh.
Orang-orang yang sedang berbelanja bergegas menjauh.
Seorang pengendara sepeda motor mengerem mendadak ketika melihat Capit
berjalan di dekat tepi jalan.
"Astaga! Besar sekali!" serunya.
"Jangan mendekat!" teriak pedagang lainnya.
Capit tampak kebingungan.
Ia tidak terbiasa berada di tengah keramaian manusia.
Biawak itu mengangkat kepala dan berusaha mencari jalan kembali ke sungai.
Namun, orang-orang yang panik justru membuatnya semakin sulit menemukan
jalan.
Pak Ramen segera menghampiri.
"Ada apa ini?"
"Biawak, Pak! Besar sekali!" jawab seorang pedagang.
Pak Ramen melihat Capit di dekat gerobak buah.
Ia segera meminta orang-orang menjaga jarak.
"Jangan dikerumuni! Mundur semuanya! Jangan sampai ada yang
terluka!"
Pak Ramen juga meminta para pengendara memperlambat kendaraan.
Sementara itu, Nomo dan Gaga mengamati dari atas tembok.
"Apakah Pak Ramen bisa menangkapnya?" tanya Gaga.
"Semoga saja," jawab Nomo.
Pak Ramen mengambil sebuah keranjang pengangkut besar yang biasa digunakan
pedagang dan meminta bantuan dua orang dewasa untuk mengamankan area.
Ia tidak mencoba menangkap Capit dengan tangan kosong.
Setelah memastikan orang-orang menjauh, Pak Ramen menghubungi petugas
penanganan satwa liar.
Sambil menunggu bantuan, ia bersama para pedagang menjaga agar Capit tidak
masuk ke kerumunan atau ke jalan yang ramai kendaraan.
Ketika Capit bergerak menuju sudut halaman pasar yang berpagar, Pak Ramen
membantu menutup akses keluar dengan penghalang yang aman.
Akhirnya, biawak itu berada di area terbatas dan tidak lagi mengganggu lalu
lintas.
"Hore! Sudah aman!" seru seorang pedagang.
Namun, Pak Ramen mengingatkan mereka.
"Jangan mendekat dulu. Hewan liar bisa melukai kalau merasa
terancam."
Tak lama kemudian, petugas datang membawa peralatan penanganan satwa.
Dengan hati-hati, mereka berhasil menangkap dan memasukkan Capit ke dalam
wadah pengangkut yang sesuai.
Pak Ramen tersenyum lega.
"Syukurlah. Tidak ada yang terluka."
Petugas menjelaskan bahwa Capit akan diperiksa dan ditangani sesuai
kebutuhan agar tidak kembali memasuki kawasan pasar.
Nomo dan Gaga saling berpandangan.
Mereka tahu satu bagian dari rencana telah berhasil.
Tetapi tugas mereka belum selesai.
Kiti dan teman-temannya masih terjebak di gudang tua.
Bab 9. Penyelamatan Empat Kucing
Setelah Capit berhasil diamankan, Nomo langsung melompat turun dari tembok.
"Ayo, Gaga! Kita harus kembali ke gudang!"
Gaga segera mengikutinya.
Keduanya berlari melewati lorong pasar menuju bangunan tua.
Sesampainya di sana, mereka mendengar suara Kiti.
"Paman Nomo! Apakah biawak itu sudah pergi?"
"Sudah, Kiti! Kalian aman sekarang!" jawab Nomo.
Gaga mencoba kembali mendorong papan yang menghalangi pintu.
Namun, papan tersebut masih terlalu berat.
"Kita harus memanggil Pak Ramen," kata Gaga.
Nomo segera berlari kembali ke halaman pasar.
Ia menemukan Pak Ramen sedang berbicara dengan Bu Marni.
Nomo mendekati kaki tukang parkir itu.
"Miaau! Miaau!"
Pak Ramen menunduk.
"Lho, Nomo? Kenapa?"
Nomo berlari beberapa langkah, lalu kembali lagi.
"Miaau!"
Pak Ramen mengerutkan kening.
"Kamu mau menunjukkan sesuatu?"
Nomo kembali berlari menuju gudang.
Pak Ramen akhirnya mengikuti.
Sesampainya di sana, Gaga sudah menunggu sambil mengeong keras di depan
pintu rusak.
Pak Ramen mendengar suara lemah dari dalam.
"Miaau... miaau..."
"Lho! Ada kucing di dalam?"
Ia mendekat dan mengintip melalui celah papan.
"Ya ampun! Ada beberapa kucing terjebak!"
Pak Ramen segera memanggil dua pedagang untuk membantu.
Mereka memindahkan papan-papan yang menutup pintu dengan hati-hati.
Setelah beberapa saat, terbukalah jalan keluar yang cukup lebar.
Seekor kucing putih kecil langsung berlari keluar.
"Kiti!" seru Bu Marni yang baru tiba.
Kiti berlari ke arah perempuan itu.
Bu Marni segera menggendongnya.
"Aduh, Kiti! Kamu ke mana saja? Ibu cari ke mana-mana!"
Kiti mengeong pelan sambil menggesekkan kepala ke tangan Bu Marni.
Setelah itu, Bonti, Seli, dan Tobi keluar satu per satu.
Mereka tampak lelah, lapar, dan ketakutan.
Pak Ramen menyediakan air minum, sementara Bu Marni membawa makanan untuk
mereka.
Keempat kucing itu diperiksa kondisinya dan mendapatkan perhatian dari para
pedagang.
Nomo dan Gaga duduk berdampingan menyaksikan semuanya.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak saling mengejek.
"Kita berhasil," kata Gaga pelan.
Nomo mengangguk.
"Ya. Kita berhasil karena bekerja sama."
Gaga menoleh.
"Kalau hanya aku sendiri, mungkin semuanya tidak akan berjalan seperti
ini."
"Aku juga," jawab Nomo.
Keduanya saling tersenyum.
Bab 10. Penguasa Baru Pasar Menara Jati
Keesokan paginya, suasana Pasar Menara Jati kembali ramai.
Para pedagang mulai membuka kios seperti biasa.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Nomo dan Gaga tidak lagi saling mengusir ketika bertemu.
Mereka justru berjalan berdampingan menyusuri lorong pasar.
Kucing-kucing lain memandang mereka dengan heran.
"Apakah kalian sudah berdamai?" tanya Mimin.
Gaga mengangguk.
"Kami sudah memutuskan untuk berhenti memperebutkan wilayah."
Nomo menambahkan, "Mulai sekarang, tidak ada lagi wilayah timur dan
barat yang saling bermusuhan."
"Benarkah?" tanya Bonti.
"Benar," jawab Gaga. "Pasar ini rumah kita bersama."
Kiti yang sedang bermain di dekat Bu Marni segera berlari menghampiri
mereka.
"Hore! Berarti Paman Nomo dan Paman Gaga sekarang bersahabat?"
Nomo dan Gaga saling memandang.
"Kurasa begitu," jawab Nomo.
Gaga tertawa.
"Asalkan Nomo tidak menghabiskan semua ikan di kios Bu Marni!"
"Justru kau yang paling rakus!" balas Nomo.
Semua kucing tertawa.
Sejak kejadian itu, kehidupan di Pasar Menara Jati berubah menjadi lebih
damai.
Para kucing saling membantu mencari makanan dan menjaga anak-anak kucing
agar tidak bermain terlalu dekat dengan sungai.
Sementara itu, Pak Ramen bersama para pedagang melaporkan kerusakan gudang
tua dan bagian belakang pasar kepada pengelola.
Mereka juga mengadakan kerja bakti membersihkan sampah, menutup lubang
berbahaya, dan memperbaiki pagar yang rusak.
Para pedagang mulai lebih tertib membuang sisa makanan agar tidak menarik
satwa liar mendekati pasar.
Perlahan-lahan, Pasar Menara Jati menjadi tempat yang lebih bersih dan aman.
Suatu sore, Nomo dan Gaga duduk berdampingan di atas atap kios ikan.
Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan.
Air Sungai Jati berkilauan diterpa cahaya keemasan.
Di bawah mereka, Kiti dan teman-temannya sedang bermain dengan bola kecil
dari gulungan kertas.
"Nomo," kata Gaga tiba-tiba.
"Hmm?"
"Menurutmu, siapa sekarang yang menjadi penguasa Pasar Menara
Jati?"
Nomo terdiam sejenak.
Kemudian ia tersenyum.
"Tidak perlu ada penguasa tunggal."
Gaga mengangkat alis.
"Lalu?"
"Kita semua adalah keluarga. Dan keluarga tidak membutuhkan
pertengkaran untuk menentukan siapa yang paling hebat."
Gaga mengangguk pelan.
"Kau benar."
Beberapa saat kemudian, Kiti berteriak dari bawah.
"Paman Nomo! Paman Gaga! Ayo bermain!"
Gaga langsung berdiri.
"Siapa yang paling cepat sampai ke bawah, dia yang menang!"
Nomo tertawa.
"Kau masih saja suka bersaing!"
"Tentu saja! Tapi sekarang hanya untuk bersenang-senang!"
Keduanya melompat turun dan berlari mengejar Kiti.
Suara mengeong riang terdengar di seluruh pasar.
Mimin yang menyaksikan dari bawah meja pedagang sayur tersenyum bahagia.
"Akhirnya, kedamaian kembali ke Pasar Menara Jati."
Dan sejak hari itu, tidak ada lagi pertengkaran besar antara Nomo dan Gaga.
Mereka menjadi dua sahabat yang selalu bekerja sama melindungi penghuni
pasar.
Adapun Capit, biawak besar yang pernah membuat seluruh kucing ketakutan,
telah ditangani oleh petugas sehingga tidak lagi berkeliaran di antara
kios-kios.
Pasar Menara Jati pun kembali menjadi rumah yang nyaman bagi semua
penghuninya.
Penulis : Ardinaira
(Dapat dihubungi lewat email ndria2071@gmail.com)

Posting Komentar untuk "NOMO DAN GAGA: MISTERI HILANGNYA KUCING-KUCING DI PASAR MENARA JATI"