Malam itu udara terasa dingin. Hujan baru saja berhenti mengguyur sebuah kota kecil yang dikelilingi perbukitan dan hutan lebat. Di salah satu sudut kota, sebuah markas pemadam kebakaran berdiri dengan beberapa kendaraan merah yang selalu siap diterjunkan kapan saja.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.15 WIB. Sebagian petugas sedang
beristirahat setelah menyelesaikan tugas pemadaman kebakaran sebuah rumah
penduduk. Ada yang duduk sambil menikmati kopi, ada pula yang bercanda untuk
mengusir rasa lelah.
Pak Hardi, seorang komandan regu pemadam kebakaran yang sudah bertugas
hampir dua puluh tahun, sedang memeriksa laporan kegiatan malam itu.
Ia dikenal sebagai sosok pemberani, tegas, tetapi selalu mengutamakan
keselamatan anggotanya. Baginya, tugas seorang pemadam kebakaran bukan sekadar
memadamkan api, melainkan juga menyelamatkan nyawa manusia.
Di sampingnya terdapat Tiwan, pengemudi sekaligus operator pompa mobil
pemadam. Empat anggota lainnya adalah Jalu, Tarjo, Bian, dan Zidan.
Mereka merupakan regu yang cukup berpengalaman. Berbagai kejadian telah
mereka hadapi, mulai dari kebakaran rumah, pasar, gudang, hingga bangunan
bertingkat.
Namun, tidak seorang pun menyangka bahwa malam itu mereka akan menghadapi
pengalaman yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar kobaran api.
Panggilan Darurat Tengah Malam
Tiba-tiba, telepon darurat di ruang komando berbunyi nyaring.
Kriiiing... kriiiing...
Pak Hardi segera mengangkat gagang telepon.
"Pemadam kebakaran. Ada kejadian apa?"
Suara seorang laki-laki terdengar tergesa-gesa dari seberang.
"Tolong segera datang! Ada kebakaran besar di sebuah gedung serbaguna.
Lokasinya di pinggir Hutan Larangan. Api sudah membesar dan masih banyak orang
di dalam!"
"Apakah ada korban yang terjebak?"
"Ada! Ini sedang ada pesta pernikahan. Banyak tamu belum berhasil
keluar. Tolong cepat!"
Pak Hardi langsung berdiri.
"Baik. Kami segera menuju lokasi. Tolong semua orang yang masih bisa
keluar segera menjauh dari bangunan. Jangan mencoba masuk kembali!"
Telepon ditutup.
"Anak-anak! Kita mendapat panggilan darurat. Kebakaran gedung serbaguna
di pinggir Hutan Larangan. Kemungkinan masih ada korban terjebak. Segera persiapkan
kendaraan!"
Keenam petugas itu langsung bergerak.
Tiwan berlari menuju mobil pemadam berkapasitas besar. Ia menyalakan mesin
dan memeriksa tekanan air serta perlengkapan pompa.
Jalu dan Tarjo mengambil selang pemadam.
Bian memeriksa tabung oksigen dan alat bantu pernapasan, sedangkan Zidan
menyiapkan kapak, helm, dan perlengkapan penyelamatan.
Tidak sampai lima menit, semuanya sudah berada di dalam kendaraan.
"Semua siap?" tanya Pak Hardi.
"Siap, Komandan!" jawab mereka serempak.
Tiwan menginjak pedal gas.
Sirene meraung memecah kesunyian malam.
Wiiiiiuuu... wiiiiiuuu...
Mobil pemadam kebakaran melaju menembus jalanan yang mulai sepi.
Gedung Pernikahan di Pinggir Hutan
Perjalanan menuju Hutan Larangan membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.
Semakin jauh mereka meninggalkan kota, semakin sepi pula jalan yang dilalui.
Rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat. Pepohonan besar tumbuh di kanan dan
kiri jalan.
Hutan Larangan memang terkenal angker di kalangan masyarakat setempat.
Konon, tidak banyak orang berani melewati kawasan itu setelah tengah malam.
Namun, bagi para petugas pemadam kebakaran, hal semacam itu bukanlah sesuatu
yang perlu dipikirkan saat sedang menjalankan tugas.
Mereka hanya memikirkan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
"Komandan, sepertinya kita sudah dekat," kata Tiwan.
Pak Hardi melihat ke arah depan.
Dari kejauhan terlihat cahaya kemerahan membumbung tinggi ke langit. Asap
hitam tampak mengepul di antara pepohonan.
"Itu pasti lokasinya. Cepat, Wan!"
Tiwan mempercepat kendaraan.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah gedung besar yang berdiri
tidak jauh dari batas hutan.
Pemandangan di hadapan mereka sangat mengerikan.
Api telah membakar sebagian besar atap gedung. Kobaran merah menjalar ke
dinding dan jendela. Suara kaca pecah terdengar berkali-kali.
Di halaman gedung, sejumlah orang berlarian menyelamatkan diri.
Ada yang menangis, ada yang berteriak meminta pertolongan, dan ada pula yang
hanya berdiri kebingungan.
"Ya Tuhan!" seru Tarjo.
Pak Hardi segera turun dari kendaraan.
"Jangan membuang waktu! Tiwan, siapkan pompa dan alirkan air! Jalu dan
Tarjo, arahkan selang ke bagian depan! Bian dan Zidan, ikut saya melakukan
penyisiran korban!"
"Siap!"
Mereka langsung bekerja.
Tiwan mengoperasikan pompa dengan cekatan. Tekanan air mulai mengalir
melalui selang besar yang dipegang Jalu dan Tarjo.
Semburan air diarahkan ke bagian atap yang terbakar.
Sementara itu, Pak Hardi bersama Bian dan Zidan berusaha mendekati pintu
utama.
Di sana mereka bertemu seorang laki-laki yang mengenakan pakaian batik.
Laki-laki itu tampak sangat panik.
"Tolong! Masih ada orang di dalam!"
"Siapa Anda?" tanya Pak Hardi.
"Saya Bayu, ketua panitia acara ini. Tadi ada sekitar seratus tamu yang
datang. Sebagian besar sudah keluar, tetapi masih ada beberapa orang di dalam.
Pengantin juga belum ditemukan!"
"Di mana terakhir kali Anda melihat mereka?"
"Di ruang belakang dekat panggung!"
Pak Hardi segera memberikan instruksi.
"Kami akan masuk. Anda menjauh dari bangunan dan bantu arahkan
orang-orang ke tempat aman!"
Bayu mengangguk.
Pak Hardi mengenakan alat bantu pernapasan, kemudian memberi isyarat kepada
Bian dan Zidan.
Mereka bertiga memasuki gedung.
Perjuangan Menembus Kobaran Api
Bagian dalam gedung sudah dipenuhi asap tebal.
Lampu-lampu telah padam. Hanya cahaya api yang menerangi ruangan dengan
warna kemerahan.
Meja dan kursi berserakan. Hiasan pesta yang terbuat dari kain dan kertas
telah terbakar.
Pak Hardi berjalan paling depan.
"Bian, periksa sisi kiri! Zidan, ikuti saya!"
Mereka bergerak perlahan sambil memeriksa setiap ruangan.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang meminta pertolongan.
"Tolong... tolong..."
Pak Hardi berhenti.
"Kalian dengar?"
"Dengar, Komandan!" jawab Bian.
Suara itu berasal dari sebuah ruangan kecil di sebelah kanan.
Pak Hardi mendekat dan mendapati seorang perempuan tua tergeletak di lantai.
Kakinya tertimpa lemari kecil yang terjatuh.
"Tenang, Bu. Kami petugas pemadam kebakaran. Kami akan membantu!"
Bian segera mengangkat lemari tersebut bersama Zidan.
Pak Hardi kemudian membantu perempuan itu berdiri.
"Apakah masih ada orang lain di sini?"
"Ada... ada anak perempuan. Tadi dia berlari ke belakang."
Mereka membawa perempuan itu menuju pintu keluar dan menyerahkannya kepada
petugas medis yang kebetulan sudah tiba.
Setelah itu, mereka kembali masuk.
Di bagian belakang gedung, mereka menemukan dua orang laki-laki yang
terjebak di dekat dapur. Salah satunya mengalami luka ringan akibat terkena
pecahan kaca.
Bian dan Zidan membantu keduanya keluar.
Namun, Pak Hardi belum menemukan pengantin.
"Idham dan Andini belum ditemukan," katanya.
Mereka kembali menyusuri lorong.
Saat melewati panggung utama, Pak Hardi mendengar suara ketukan dari sebuah
pintu.
Tok... tok... tok...
"Siapa di dalam?" teriaknya.
"Tolong! Kami di sini!"
Pak Hardi segera membuka pintu. Namun, pintu tersebut terhalang beberapa
kursi yang jatuh.
Zidan membantu menyingkirkan kursi-kursi itu.
Akhirnya pintu terbuka.
Di dalam ruangan terdapat seorang laki-laki dan perempuan yang mengenakan
pakaian pengantin.
Keduanya adalah Idham dan Andini.
Wajah mereka pucat. Andini bahkan terlihat hampir pingsan.
"Syukurlah! Kami mencari kalian!" kata Pak Hardi.
"Pak, tolong kami. Kami tidak bisa keluar," ujar Idham.
"Jangan khawatir. Pegang bahu saya. Kita akan keluar
bersama-sama."
Mereka segera membawa kedua mempelai menuju pintu keluar.
Namun, ketika hampir mencapai lorong utama, terdengar suara keras dari arah
atap.
BRAAAKKK!
Sebagian rangka plafon runtuh.
Pak Hardi langsung mendorong Idham dan Andini ke arah yang lebih aman.
"Hati-hati! Jangan mendekati bagian itu!"
Zidan membantu Andini, sedangkan Bian menuntun Idham.
Mereka akhirnya berhasil mencapai pintu keluar.
Begitu berada di halaman, Andini langsung menangis sambil memeluk Idham.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah menyelamatkan kami."
Pak Hardi hanya mengangguk.
"Syukurlah kalian selamat. Sekarang menjauhlah dari gedung."
Di luar, perjuangan Jalu dan Tarjo bersama Tiwan masih berlangsung.
Api mulai mengecil setelah air disemprotkan terus-menerus ke bagian atap dan
sisi bangunan.
Setelah beberapa waktu, kobaran api berhasil dikendalikan.
Seluruh korban yang sebelumnya terjebak berhasil dievakuasi.
Para petugas medis memeriksa kondisi mereka satu per satu.
Pak Hardi menghela napas lega.
Mereka berhasil menyelamatkan banyak nyawa.
Jamuan Terima Kasih
Setelah memastikan keadaan relatif aman, Pak Hardi dan anggotanya duduk di
sebuah halaman yang berada agak jauh dari gedung.
Keringat membasahi wajah mereka. Pakaian pelindung mereka dipenuhi debu dan
jelaga.
Bayu, ketua panitia pesta pernikahan, kemudian datang menghampiri.
"Pak Hardi, saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Kalau bukan
karena Bapak dan teman-teman, mungkin banyak korban jiwa malam ini."
"Sudahlah, Pak. Ini memang tugas kami," jawab Pak Hardi.
"Namun, kami sangat berterima kasih. Saya juga ingin mengucapkan terima
kasih atas nama seluruh keluarga."
Tidak lama kemudian Idham dan Andini datang.
Keduanya masih mengenakan pakaian pengantin yang sudah kotor terkena asap.
"Terima kasih banyak, Pak. Kami tidak akan pernah melupakan pertolongan
Bapak," kata Idham.
Andini mengangguk.
"Kalau Bapak tidak datang, mungkin kami sudah tidak bisa keluar dari
ruangan itu."
Pak Hardi tersenyum.
"Yang penting kalian selamat. Semoga menjadi keluarga yang
bahagia."
Bayu kemudian mengajak keenam petugas itu menuju sebuah ruangan di samping
gedung.
"Silakan, Pak. Kami sudah menyiapkan makanan dan minuman. Mungkin Bapak
dan teman-teman belum sempat makan malam."
Awalnya Pak Hardi menolak dengan halus.
Namun, Bayu terus mempersilakan mereka.
"Sebentar saja, Pak. Anggap ini sebagai ungkapan terima kasih
kami."
Akhirnya mereka mengikuti Bayu.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Di sana terdapat meja
panjang dengan berbagai macam hidangan.
Ada nasi putih, ayam bakar, sate, sayur, buah-buahan, dan beberapa teko
minuman.
Akan tetapi, begitu duduk, Jalu merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia mengendus aroma makanan di hadapannya.
"Komandan..."
"Ada apa, Jalu?"
"Ini... makanan apa, ya?"
Pak Hardi melihat ke arah piring yang disajikan.
Nasi putih itu terlihat berwarna keabu-abuan. Ayam bakarnya tampak hitam
seperti arang. Bahkan sayuran yang disajikan terlihat layu dan mengeluarkan
aroma seperti sesuatu yang terbakar.
"Sepertinya tadi terkena asap kebakaran," jawab Tarjo.
Bian mengambil gelas berisi minuman berwarna kecokelatan.
Ia mencicipinya sedikit.
Namun, seketika wajahnya berubah.
"Astaga! Rasanya aneh sekali!"
"Kenapa?" tanya Zidan.
"Seperti minum air bercampur abu!"
Jalu mencoba mencicipi sedikit nasi.
Ia langsung meletakkan sendoknya.
"Ini bukan nasi biasa. Rasanya seperti arang!"
Pak Hardi mengernyitkan dahi.
Ia memperhatikan seluruh hidangan.
Aroma yang keluar dari makanan itu benar-benar tidak wajar.
Namun, yang lebih membuatnya curiga adalah keadaan orang-orang di ruangan
tersebut.
Para tamu yang tadi terlihat sangat panik sekarang berjalan ke sana kemari
dengan gerakan aneh.
Beberapa orang berjalan lambat dengan kepala tertunduk. Wajah mereka pucat
seperti mayat.
Ada seorang perempuan yang berjalan melewati meja sambil menyeret kedua
kakinya.
Sementara seorang laki-laki berdiri di sudut ruangan dengan tatapan kosong.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Tidak ada suara tawa.
Tidak ada percakapan seperti layaknya pesta pernikahan.
Padahal beberapa menit sebelumnya tempat itu dipenuhi orang-orang yang
mengucapkan terima kasih.
"Komandan," bisik Bian.
Pak Hardi menoleh.
"Ada apa?"
"Perhatikan orang-orang itu."
Pak Hardi mulai mengamati sekeliling.
Seorang perempuan tiba-tiba melintas di belakang kursinya.
Wajahnya sangat pucat. Rambutnya menutupi sebagian mata. Ketika perempuan
itu menoleh, Pak Hardi melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Bagian wajah perempuan itu tampak seperti kulit yang terbakar.
Pak Hardi segera mengalihkan pandangan.
Ia kemudian memperhatikan Bayu yang berdiri tidak jauh dari pintu.
"Pak Bayu," panggilnya.
Bayu menoleh perlahan.
"Iya, Pak?"
"Ini sebenarnya acara apa? Mengapa semua orang terlihat seperti orang
sakit?"
Bayu tersenyum.
Namun, senyumnya terasa aneh.
"Ini pesta pernikahan, Pak. Silakan dinikmati makanannya."
Pak Hardi mencoba bertanya lagi.
"Pengantin yang tadi kami selamatkan, Idham dan Andini, ada di
mana?"
Bayu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Pak Hardi cukup lama.
Kemudian berkata pelan.
"Mereka sedang menunggu di dalam."
"Menunggu di mana?"
"Di tempat yang seharusnya."
Pak Hardi semakin curiga.
Ia menoleh ke arah Jalu, Tarjo, Bian, Zidan, dan Tiwan.
Kelima anak buahnya juga menunjukkan wajah ketakutan.
Keputusan untuk Pergi
Tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa dari ujung ruangan.
Hihihihihihi...
Suara itu terdengar lirih, tetapi semakin lama semakin keras.
Pak Hardi melihat ke arah sumber suara.
Seorang perempuan mengenakan pakaian pengantin berdiri di dekat jendela.
Gaunnya berwarna putih, tetapi sebagian besar tampak hangus.
Rambutnya terurai menutupi wajah.
Perlahan-lahan perempuan itu mengangkat kepala.
Pak Hardi terkejut.
Perempuan itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Andini.
Namun, wajahnya dipenuhi luka bakar.
"Pak... jangan tinggalkan kami..."
Pak Hardi berdiri.
"Kita pergi sekarang!"
Jalu segera bangkit.
"Komandan, ada apa?"
"Jangan banyak bertanya! Semua keluar!"
Bayu tiba-tiba berjalan mendekati mereka.
"Pak Hardi, mengapa terburu-buru? Bukankah Bapak belum selesai
makan?"
"Kami harus kembali ke markas."
"Tapi makanan belum dihabiskan."
Pak Hardi tidak menjawab.
Ia berjalan cepat menuju pintu.
Namun, sebelum mereka keluar, Bayu kembali memanggil.
"Pak Hardi..."
Pak Hardi berhenti sejenak.
"Jangan lupa datang lagi tahun depan. Kami akan mengadakan pesta yang
lebih meriah."
Suara Bayu terdengar semakin berat.
Ketika Pak Hardi menoleh, wajah Bayu tampak berubah.
Kulitnya menghitam seperti terbakar. Kedua matanya terlihat kosong.
Di belakangnya, para tamu mulai berdiri secara bersamaan.
Mereka semua menatap keenam petugas itu.
Kemudian terdengar suara yang sama dari mulut mereka.
"Jangan pergi..."
"Jangan tinggalkan kami..."
"Temani kami..."
Suara-suara itu semakin keras.
Jalu hampir berlari karena ketakutan.
"Komandan! Mereka itu siapa sebenarnya?"
"Jangan lihat mereka! Terus berjalan!"
Mereka akhirnya berhasil keluar dari ruangan.
Begitu mencapai halaman, mereka langsung berlari menuju mobil pemadam.
Tiwan segera masuk ke kursi pengemudi.
Mesin dinyalakan.
Namun, ketika ia hendak memasukkan persneling, sesuatu terlihat di kaca
spion.
Orang-orang berpakaian pesta berdiri berjejer di depan gedung.
Jumlah mereka sangat banyak.
Sebagian memiliki wajah hangus. Sebagian lainnya tampak berjalan
tertatih-tatih.
Di tengah kerumunan itu berdiri Bayu.
Ia mengangkat tangannya.
Kemudian melambaikannya perlahan.
Tiwan menelan ludah.
"Komandan... mereka..."
"Jangan pedulikan! Jalan!"
Mobil langsung melaju meninggalkan tempat tersebut.
Sirene dinyalakan kembali.
Tiwan menginjak pedal gas sedalam mungkin.
Mereka melintasi jalan gelap di antara pepohonan.
Tidak seorang pun berani berbicara.
Mereka bahkan tidak berani melihat ke belakang.
Kisah Kelam Villa di Hutan Larangan
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, kendaraan mulai
memasuki sebuah desa kecil yang berada tidak jauh dari tepi Hutan Larangan.
Di sana terdapat beberapa rumah penduduk yang masih memiliki lampu menyala.
Pak Hardi meminta Tiwan menghentikan kendaraan di dekat sebuah warung.
"Berhenti sebentar, Wan."
"Baik, Komandan."
Pak Hardi turun dan menghampiri seorang laki-laki tua yang sedang duduk di
depan warung.
"Permisi, Pak. Kami ingin bertanya."
Orang tua itu menoleh.
"Iya, ada apa, Pak?"
"Apakah di dekat Hutan Larangan ada gedung serbaguna yang sering
digunakan untuk pesta pernikahan?"
Wajah orang tua itu langsung berubah.
"Gedung serbaguna?"
"Iya, Pak. Kami baru saja dari sana. Tadi terjadi kebakaran
besar."
Orang tua itu berdiri perlahan.
"Bapak dari pemadam kebakaran?"
"Betul. Saya Hardi, komandan regu."
Orang tua itu terdiam beberapa saat.
Kemudian ia berkata dengan suara pelan.
"Pak... apakah Bapak yakin tadi datang ke gedung serbaguna?"
"Tentu. Kami bahkan baru saja menyelamatkan beberapa orang yang
terjebak."
Orang tua itu menggeleng.
"Kalau begitu, Bapak harus mendengarkan cerita saya."
Ia mempersilakan Pak Hardi duduk.
Anggota regu lainnya ikut mendekat.
"Beberapa tahun yang lalu," kata orang tua itu memulai ceritanya,
"di kawasan hutan tersebut pernah berdiri sebuah villa mewah milik seorang
pengusaha kaya dari kota."
"Villa itu sangat besar. Dikelilingi taman indah dan memiliki sebuah
bangunan utama yang sering digunakan untuk mengadakan pesta."
"Pada suatu malam, pemilik villa mengadakan pesta pernikahan untuk
putranya. Banyak tamu datang dari berbagai daerah."
Pak Hardi mulai memperhatikan cerita itu.
"Namun, menjelang tengah malam, sebuah tabung gas di bagian dapur
mengalami kebocoran. Gas memenuhi ruangan dan akhirnya meledak ketika seseorang
menyalakan kompor."
Orang tua itu menghela napas.
"Ledakan tersebut menyebabkan kebakaran hebat. Api menyebar dengan
sangat cepat. Banyak tamu tidak sempat menyelamatkan diri."
"Berapa korban jiwa?" tanya Zidan.
"Menurut cerita warga, lebih dari tiga puluh orang meninggal dunia.
Termasuk beberapa pekerja, tamu undangan, dan pasangan pengantin."
Suasana mendadak hening.
Orang tua itu melanjutkan.
"Sejak kejadian tersebut, villa itu tidak pernah dibangun kembali.
Pemiliknya menjual tanah tersebut, tetapi tidak ada orang yang berani
menggunakannya."
"Bagaimana dengan gedung yang sekarang?" tanya Pak Hardi.
Orang tua itu memandang ke arah hutan.
"Pak, di sana tidak pernah ada gedung serbaguna. Yang ada hanyalah
bekas bangunan villa yang sudah lama terbakar."
Jalu langsung berdiri.
"Jadi... tempat yang kami datangi tadi..."
Orang tua itu mengangguk pelan.
"Konon, pada malam-malam tertentu, orang yang melewati kawasan itu bisa
mendengar suara musik pesta. Ada juga yang melihat cahaya lampu dan orang-orang
berpakaian bagus seperti sedang menghadiri pesta pernikahan."
Tarjo menutup mulutnya.
"Astaga..."
Orang tua itu kemudian bertanya.
"Apakah Bapak melihat seorang laki-laki bernama Bayu? Atau pasangan
pengantin bernama Idham dan Andini?"
Pak Hardi terdiam.
Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin.
"Betul, Pak. Bayu adalah ketua panitia. Idham dan Andini adalah
pengantinnya."
Orang tua itu menggelengkan kepala.
"Bayu adalah nama pemilik villa yang meninggal dalam kebakaran itu.
Sementara Idham dan Andini adalah nama pasangan pengantin yang menjadi
korban."
Mendengar penjelasan tersebut, Bian langsung mundur beberapa langkah.
"Jadi... orang-orang yang kami selamatkan tadi..."
"Maaf, Pak," jawab orang tua itu. "Mereka semua sudah
meninggal bertahun-tahun yang lalu."
Panggilan dari Dunia Lain
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Pak Hardi duduk terpaku.
Pikirannya berusaha mengingat kembali semua kejadian yang baru saja mereka
alami.
Mereka memang melihat api membesar.
Mereka memang memasuki bangunan yang terbakar.
Mereka memang menemukan orang-orang yang meminta pertolongan.
Bahkan mereka merasa berhasil menyelamatkan pasangan pengantin.
Namun, kini semuanya menjadi tidak masuk akal.
"Pak," kata Tiwan perlahan, "kalau begitu, siapa yang
menelepon markas kami tadi?"
Pak Hardi langsung teringat panggilan darurat yang diterima sebelum
keberangkatan.
Ia mengeluarkan telepon genggam dan mencoba menghubungi nomor tersebut.
Namun, ketika nomor itu diperiksa, tidak ada riwayat panggilan masuk.
Padahal ia sangat yakin telah menerima telepon darurat.
"Komandan, coba lihat ini!" seru Zidan.
Zidan menunjukkan layar telepon genggamnya.
Ia baru saja membuka aplikasi peta untuk memeriksa lokasi perjalanan.
Namun, titik lokasi yang mereka kunjungi tadi ternyata berada di tengah
kawasan hutan, jauh dari bangunan mana pun.
Tidak ada gedung serbaguna.
Tidak ada villa.
Tidak ada jalan masuk yang terdaftar.
Pak Hardi kemudian meminta semua anggota memeriksa kondisi perlengkapan.
Semuanya masih lengkap.
Akan tetapi, ada satu hal yang membuat mereka semakin merinding.
Pada selang pemadam yang tadi digunakan, terdapat noda hitam seperti jelaga
yang sangat tebal.
Sementara pada sepatu pelindung Pak Hardi terdapat bekas tanah bercampur
abu.
Mereka benar-benar merasa telah melakukan pemadaman kebakaran.
Lalu dari mana semua itu berasal?
Orang tua di warung kemudian berkata.
"Pak, sebenarnya bukan sekali dua kali kejadian seperti ini. Beberapa
pengemudi yang melewati hutan pernah mengaku melihat pesta pernikahan di sana.
Ada yang mendengar suara orang meminta tolong. Ada pula yang mengaku melihat
bangunan terbakar."
Ia berhenti sejenak.
"Tetapi orang-orang yang mencoba mendekatinya sering kali tidak
menemukan apa pun."
Pak Hardi mengusap wajahnya.
"Berarti kami tadi hampir menjadi bagian dari mereka?"
Orang tua itu tidak menjawab.
Ia hanya menundukkan kepala.
Kembali ke Markas
Pak Hardi akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke markas.
Mereka berpamitan kepada orang tua tersebut dan menaiki mobil pemadam.
Sepanjang perjalanan, tidak seorang pun berbicara.
Tiwan mengemudi dengan kecepatan sedang.
Jalu terus memandangi jendela.
Tarjo memejamkan mata, berusaha menenangkan pikirannya.
Bian dan Zidan duduk berdekatan.
Sementara Pak Hardi memikirkan satu hal yang terus mengganggu benaknya.
Jika mereka benar-benar menerima panggilan dari dunia lain, mengapa
panggilan itu memilih mereka?
Dan bagaimana mereka bisa melihat serta menyentuh orang-orang yang
sebenarnya sudah meninggal?
Sesampainya di markas, jam dinding menunjukkan pukul 02.45 dini hari.
Mereka turun satu per satu.
Pak Hardi kemudian mengumpulkan semua anggota di ruang istirahat.
"Saya ingin kalian tidak menceritakan kejadian ini secara sembarangan.
Kita sendiri belum memahami apa yang sebenarnya terjadi."
Jalu mengangguk.
"Siap, Komandan."
"Tapi satu hal yang harus kita ingat. Dalam menjalankan tugas, kita
harus selalu mengutamakan keselamatan. Jangan pernah bertindak gegabah,
terutama di tempat yang belum kita kenal."
Mereka semua mengangguk.
Malam itu, tidak seorang pun bisa tidur dengan tenang.
Panggilan yang Tidak Pernah Terlupakan
Tiga hari kemudian, Pak Hardi mencoba mencari informasi tentang kebakaran
villa di Hutan Larangan.
Ia mendatangi kantor desa dan bertemu beberapa warga yang sudah lama tinggal
di kawasan tersebut.
Ternyata cerita orang tua di warung memang benar.
Villa milik seorang pengusaha bernama Bayu pernah terbakar hebat sekitar dua
puluh tahun sebelumnya.
Peristiwa itu terjadi ketika pesta pernikahan anaknya berlangsung.
Nama kedua mempelai adalah Idham dan Andini.
Mereka termasuk korban yang tidak berhasil diselamatkan.
Pak Hardi kemudian memperoleh sebuah foto lama dari salah seorang warga.
Foto itu memperlihatkan sebuah pesta pernikahan di halaman villa.
Terdapat banyak orang yang berdiri berjajar di depan bangunan.
Pak Hardi memperhatikan foto tersebut dengan saksama.
Di bagian tengah terlihat seorang laki-laki mengenakan pakaian batik.
Wajahnya sangat mirip dengan Bayu yang mereka temui malam itu.
Di sampingnya berdiri sepasang pengantin.
Idham dan Andini.
Namun, ada sesuatu yang membuat Pak Hardi hampir menjatuhkan foto tersebut.
Di barisan belakang, tampak enam orang laki-laki berdiri mengenakan seragam
pemadam kebakaran.
Wajah mereka sangat mirip dengan dirinya, Tiwan, Jalu, Tarjo, Bian, dan
Zidan.
Pak Hardi memperbesar foto itu.
Seragam mereka tampak seperti seragam yang digunakan regunya.
Tetapi pada bagian bawah foto terdapat tulisan tangan yang sudah mulai
pudar.
Peringatan untuk enam petugas yang datang menyelamatkan kami pada malam
kebakaran.
Pak Hardi membeku.
Ia tidak mengerti bagaimana foto lama itu bisa menampilkan sosok mereka.
Padahal foto tersebut diambil puluhan tahun sebelum mereka bekerja sebagai
petugas pemadam kebakaran.
Ia segera memanggil Tiwan dan anggota lainnya untuk memperlihatkan foto
tersebut.
Mereka semua terdiam.
Tidak seorang pun berani memberikan komentar.
Sejak malam itu, Pak Hardi tidak pernah lagi menerima panggilan darurat
menuju Hutan Larangan.
Namun, beberapa bulan kemudian, terjadi sebuah kejadian aneh.
Tepat pukul 22.15 WIB, telepon darurat di markas kembali berbunyi.
Kriiiing... kriiiing...
Seluruh petugas yang berada di ruangan langsung terdiam.
Pak Hardi berdiri perlahan.
Ia mendekati telepon dan mengangkat gagangnya.
"Halo. Pemadam kebakaran."
Dari seberang terdengar suara seorang laki-laki yang sangat dikenalnya.
"Pak Hardi... tolong kami..."
Pak Hardi merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Siapa ini?"
Suara itu menjawab pelan.
"Saya Bayu, Pak. Kami sedang mengadakan pesta. Kali ini apinya lebih
besar. Tolong datang lagi..."
Pak Hardi langsung meletakkan gagang telepon.
Wajahnya pucat.
Tiwan yang berdiri tidak jauh darinya segera bertanya.
"Komandan, siapa yang menelepon?"
Pak Hardi memandang seluruh anggota.
Kemudian ia berkata dengan suara pelan.
"Bayu..."
"Bayu siapa, Komandan?"
Pak Hardi menelan ludah.
"Bayu dari Hutan Larangan."
Mereka semua terdiam.
Beberapa detik kemudian, telepon itu berbunyi kembali.
Kriiiing... kriiiing...
Tidak seorang pun berani mendekat.
Pak Hardi perlahan menoleh ke arah jendela.
Di luar markas, tepat di bawah lampu halaman, tampak enam sosok manusia
berdiri berjajar.
Pakaian mereka hitam seperti terbakar.
Salah satu di antara mereka mengangkat tangan dan melambaikan tangan.
Pak Hardi mengenali wajahnya.
Itu Bayu.
Kemudian lampu halaman berkedip beberapa kali.
Ketika menyala kembali, keenam sosok tersebut telah menghilang.
Pak Hardi segera menutup tirai jendela.
Malam itu ia menyadari satu hal.
Mungkin mereka memang berhasil menyelamatkan diri dari panggilan gaib pertama.
Namun, bagi penghuni Hutan Larangan, kisah pesta pernikahan yang terbakar
itu belum benar-benar berakhir.
Dan entah kapan, mereka mungkin akan kembali memanggil enam petugas pemadam
kebakaran tersebut.

Posting Komentar untuk "PANGGILAN TERAKHIR DARI HUTAN LARANGAN"