Di sebuah wilayah hijau yang subur di Morowali, hiduplah seorang pemuda bernama Damar. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam, namun memiliki kepedulian besar terhadap alam. Sejak kecil, Damar lebih suka menghabiskan waktu di hutan daripada bermain di desa. Ia mengenal suara burung, arah angin, bahkan perubahan kecil pada dedaunan.
Bagi
warga desa, hutan hanyalah sumber kayu dan hasil alam. Namun bagi Damar, hutan
adalah rumah kedua—tempat yang hidup, bernapas, dan memiliki cerita.
Di kaki sebuah
gunung yang tidak terlalu tinggi, terdapat sebuah batu besar yang sudah ada
sejak zaman nenek moyang mereka. Batu itu disebut warga sebagai “Batu Warna”.
Namun
tidak banyak yang benar-benar memperhatikannya.
“Kau
jangan terlalu sering ke sana, Mar,” kata ibunya suatu sore.
“Kenapa, Bu?”
“Orang-orang bilang batu itu aneh. Kadang berubah warna sendiri.”
Damar
hanya tersenyum. Justru karena itulah ia tertarik.
Suatu
pagi, saat kabut masih menyelimuti pepohonan, Damar berjalan menuju gunung itu.
Ia membawa bekal sederhana dan sebuah buku kecil tempat ia sering menulis
pengamatannya.
Perjalanan
menuju batu itu tidak mudah. Ia harus melewati semak-semak, sungai kecil, dan
jalur berbatu. Namun semua terasa ringan baginya.
Sesampainya
di sana, ia melihat batu itu untuk pertama kalinya dari dekat.
Batu itu
besar. Tingginya hampir dua meter. Permukaannya halus, tidak seperti batu
biasa. Warnanya… keabu-abuan dengan sedikit kilau seperti logam.
Damar
menyentuhnya perlahan.
Dingin.
Namun
terasa… hidup.
Ia duduk
di dekat batu itu, membuka bukunya, dan mulai menulis.
Hari
pertama, tidak ada yang aneh.
Hari
kedua, juga sama.
Namun
pada hari ketiga, sesuatu terjadi.
Saat
Damar datang, ia melihat bagian kecil dari batu itu berubah warna—menjadi
kehijauan.
Ia
mengernyit.
“Ini…
kemarin tidak seperti ini,” gumamnya.
Ia
mendekat dan memperhatikan lebih jelas. Warna itu bukan pantulan cahaya. Bukan
juga lumut.
Itu
benar-benar perubahan warna dari dalam batu.
Sejak
saat itu, Damar mulai datang setiap hari.
Dan
perubahan itu semakin sering terjadi.
Kadang
batu itu berwarna biru lembut.
Kadang
kuning pucat.
Kadang…
merah samar.
Damar
mulai mencatat semuanya.
Waktu.
Cuaca.
Kondisi
hutan.
Dan warna
yang muncul.
Beberapa
minggu kemudian, ia menyadari pola yang aneh.
Saat
hutan terasa tenang, batu itu berwarna biru.
Saat cuaca
sangat panas dan kering, warnanya berubah menjadi kuning.
Namun
suatu hari, ketika ia melihat beberapa pohon di dekat sungai ditebang oleh
orang luar desa…
Batu itu
berubah menjadi merah.
Merah
yang lebih terang dari sebelumnya.
Jantung
Damar berdebar.
“Jangan-jangan…
ini tanda?” bisiknya.
Ia mulai
menghubungkan semuanya.
Batu itu
bukan sekadar batu.
Ia
seperti… penanda.
Atau
bahkan… peringatan.
Hari-hari
berikutnya, Damar semakin waspada.
Ia mulai
berkeliling hutan, memperhatikan apa yang terjadi.
Dan
setiap kali ada sesuatu yang merusak alam—penebangan liar, sampah yang dibuang
sembarangan, atau sungai yang mulai keruh—
Batu itu
berubah warna.
Semakin
parah kerusakan, semakin merah warnanya.
Damar
merasa menemukan sesuatu yang penting.
Namun ia
tahu, ia tidak bisa menyimpannya sendiri.
Suatu
malam, ia memberanikan diri berbicara di depan warga desa.
“Aku
ingin menunjukkan sesuatu,” katanya.
Beberapa
orang hanya mengangguk malas.
Namun ada
juga yang penasaran.
Keesokan
harinya, Damar mengajak beberapa warga ke gunung.
Mereka
berjalan bersama, meski sebagian mengeluh karena jalannya sulit.
Sesampainya
di sana, batu itu sedang berwarna kuning pucat.
“Ini batu
yang sering kau ceritakan?” tanya seorang pria.
“Iya,”
jawab Damar. “Perhatikan warnanya.”
“Ah, cuma
batu biasa,” sahut yang lain.
Damar
tidak marah.
Ia hanya
berkata, “Tunggu beberapa hari. Lihat apa yang terjadi.”
Beberapa
hari kemudian, sebuah perusahaan dari luar mulai membuka lahan tidak jauh dari
hutan itu. Pohon-pohon ditebang lebih banyak dari biasanya.
Damar
segera mengajak warga kembali ke batu.
Dan kali
ini…
Batu itu
merah terang.
Lebih
terang dari sebelumnya.
Warga
terdiam.
“Apa ini
kebetulan?” tanya seseorang pelan.
Damar
menggeleng.
“Tidak.
Ini peringatan.”
Sejak
saat itu, pandangan warga mulai berubah.
Mereka
mulai memperhatikan hutan.
Mulai
peduli.
Namun
masalah belum selesai.
Perusahaan
itu terus bekerja.
Mereka
tidak peduli pada cerita batu atau kepercayaan warga.
“Ini
tanah milik negara. Kami punya izin,” kata salah satu pekerja.
Damar
merasa khawatir.
Ia
kembali ke batu itu setiap hari.
Dan
warnanya semakin merah.
Suatu
hari, warna merah itu berubah menjadi lebih gelap.
Hampir
seperti… menyala.
Damar
merasakan sesuatu yang berbeda.
Seperti
ada urgensi.
Seperti
waktu yang hampir habis.
Ia duduk
di depan batu itu.
“Apa yang
harus aku lakukan?” tanyanya pelan.
Angin
berhembus.
Daun-daun
bergoyang.
Dan untuk
sesaat, warna batu itu berubah.
Dari
merah… menjadi hijau samar.
Lalu
kembali merah.
Damar
terdiam.
“Hijau…”
gumamnya.
Ia
seperti mendapat petunjuk.
Hijau—warna
kehidupan.
Pemulihan.
Harapan.
Damar
segera kembali ke desa.
Ia
mengumpulkan warga.
“Kita
tidak bisa hanya menonton,” katanya tegas.
“Kita
harus menjaga hutan kita.”
Beberapa
orang ragu.
Namun
banyak juga yang setuju.
Mereka
mulai bergerak.
Membersihkan
sampah.
Menjaga
sungai.
Menanam
kembali pohon-pohon yang ditebang.
Dan yang
paling penting—
Mereka
mulai berbicara bersama kepada pihak luar.
Dengan
cara yang baik.
Dengan
alasan yang jelas.
Hari demi
hari, usaha mereka mulai terlihat.
Hutan
yang sempat rusak perlahan pulih.
Sungai
kembali jernih.
Dan suatu
pagi, saat Damar kembali ke batu itu…
Ia
melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum.
Batu itu
berwarna hijau.
Hijau
yang cerah.
Tenang.
Seperti
napas panjang setelah kelelahan.
Damar
duduk di dekatnya.
“Terima
kasih,” bisiknya.
Sejak
saat itu, batu itu tetap berubah warna.
Namun
tidak lagi sering merah.
Lebih
sering biru dan hijau.
Tanda
bahwa alam sedang baik-baik saja.
Cerita
tentang batu itu menyebar ke desa lain.
Namun
Damar selalu mengingatkan satu hal.
“Batu itu
bukan keajaiban,” katanya.
“Ia hanya
menunjukkan apa yang sudah terjadi.”
“Yang
menentukan masa depan… tetap kita.”
Tahun-tahun
berlalu.
Damar
tumbuh menjadi sosok yang dihormati.
Bukan
karena ia menemukan batu ajaib.
Tapi
karena ia mengajarkan orang-orang untuk peduli.
Suatu
hari, seorang anak kecil bertanya padanya.
“Kak,
apakah batu itu akan selalu ada?”
Damar
tersenyum.
“Selama
kita menjaga alam, ia akan tetap ada.”
“Dan
kalau kita tidak menjaganya?” tanya anak itu lagi.
Damar
menatap hutan di kejauhan.
“Batu itu
akan tetap ada,” jawabnya pelan.
“Tapi
warnanya… mungkin tidak akan pernah kembali hijau.”
Anak itu
terdiam.
Dan sejak
saat itu, ia mulai ikut menanam pohon.
Di bawah
langit Morowali yang luas, batu itu tetap berdiri.
Diam.
Namun
berbicara lewat warna.
Mengingatkan
manusia bahwa alam bukan untuk dikuasai…
melainkan
untuk dijaga.
Karena
ketika alam terancam,
ia selalu
punya cara untuk memberi tanda.
Dan bagi
mereka yang mau melihat…
pesan itu
selalu jelas.
Posting Komentar untuk "Batu yang Berbicara Lewat Warna (Cerita dari Morowali)"